5. Cleaning Service di Ruang Eksekutif

1125 Kata
Nayla melangkah masuk ke ruang eksekutif, takjub memandangi arsitektur ruangan yang elegan dan mewah. Lantai marmer, lampu gantung yang berkilau, dan meja-meja besar membuatnya merasa kecil sekaligus kagum. Namun, tanpa sadar ingatannya terseret ke masa lalu, ke permintaan seseorang, atau lebih tepatnya suruhan yang datang dengan ancaman terselubung. Saat itu, ia merasa terpaksa mengambil keputusan yang menyakitkan, meninggalkan Zayn demi keselamatan diri dan masa depannya. Kini, berdiri di depan dirinya sendiri-Zayn, yang dulunya kekasihnya, kini seorang CEO yang kokoh dan berkuasa, Nayla menelan perasaan campur aduk. Ia tidak menyesal telah pergi. Keinginan Zayn dulu untuk menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar kini tercapai. Ia bebas dari keterikatan dengan Nayla, dan pencapaian itu berdiri megah di depannya, sebuah pengingat bahwa kekuatan dan ambisi bisa mengubah segalanya. Nayla memulai tugas barunya setelah diberitahu kepala cleaning service di mana perlengkapan untuk membersihkan. Ia melangkah pelan ke ruang eksekutif, mendorong troli pembersih yang berat. Lantai marmer mengilap, kursi kulit, meja kayu berlapis veneer mahal, rak penuh dokumen penting, dan hiasan seni yang berkilau, semua terlihat elegan, tapi terasa jauh dari dunianya. Ia merasa seperti penyusup, seorang cleaning service di tengah orang-orang berpakaian rapi yang bekerja di level tinggi. Kesadaran itu semakin menusuk: ia dan Zayn benar-benar berasal dari dunia yang berbeda, meski awalnya nasib mereka pernah sejalan. Baru beberapa langkah memasuki wilayah yang harus dibersihkan, Nayla menatap sosok Zayn yang berdiri tegak, kedua tangan terlipat di d**a. Seolah ia menunggunya. Tapi jelas, bukan karena rindu. Zayn menatapnya dingin. Tanpa senyum, tanpa ampun. “Selamat datang di departemen eksekutif,” katanya datar, suara tenang tapi menusuk. “Efisiensi adalah hukum di sini, bahkan untuk Anda, Nayla. Tidak ada toleransi untuk kesalahan, tidak ada pengecualian.” Nayla menelan ludah. Ia tahu ini bukan sekadar formalitas. “Mulai hari ini,” lanjut Zayn, menatap tajam, “Anda wajib: Menjaga kebersihan seluruh ruangan ini setiap saat. Semua benda di sini sangat berharga, meja, kursi, dokumen, perangkat elektronik, hiasan seni, tidak boleh ada yang rusak, walau sedikit pun. Semua peralatan, dokumen, dan fasilitas harus dijaga dengan sempurna. Tidak ada alasan untuk lalai. Jangan pernah mencoba mencari perhatian saya, atau orang lain di wilayah ini. Pelanggaran akan langsung dicatat, dan konsekuensinya tidak ringan. Anggap ini… ujian pertama Anda.” Nayla berdiri membeku, merasakan berat dunia baru yang menekannya. Ruang ini bukan sekadar kantor, ini arena, dan ia menjadi target pengawasan Zayn yang dingin, berkuasa, dan penuh dendam. Saat itu, wajah Rian muncul di benaknya, membuat Nayla menelan rasa takut dan menggenggam tekad. Ia mengangguk patuh, tanpa sepatah kata protes pun. -------- Nayla mulai dengan membersihkan rak dokumen di sisi ruangan eksekutif. Ia bergerak sangat hati-hati, tapi tiba-tiba sebuah tumpukan dokumen hampir jatuh ketika tangannya tersenggol troli. “Ah!” Nayla menahan napas, cepat-cepat menstabilkan dokumen itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia yakin Zayn menatapnya dari ujung ruangan. Sebelum Zayn sempat bersuara, Veronika yang kebetulan berada di sana langsung menyambar dengan nada tajam: “Apakah kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu dengan benar, Nayla?! Ini bukan kamar kosmu yang bisa asal-asalan! Kau pikir siapa kau, sampai-sampai hampir merusak dokumen penting ini?!” Nayla menunduk, menelan ludah. Kata-kata Veronika menusuk, lebih menyakitkan daripada teguran formal Zayn. Veronika melangkah mendekat, matanya menyala marah. “Jangan pernah sekali lagi membuat kesalahan seperti ini. Jika kau merusak satu benda pun lagi… jangan salahkan aku jika Tuan CEO harus melihat performamu dengan ‘lebih serius’.” “Manusia tidak berguna!” Veronika sempat-sempatnya menghina sebelum melangkah pergi, meninggalkan Nayla seakan-akan ia hanyalah makhluk hina yang tidak punya kemampuan apa pun. Nayla hanya menunduk, mengepalkan tangan menahan sakit hati dan rasa malu. Ia butuh uang. Demi perkembangan Rian, ia harus bertahan. Apapun yang terjadi, tekadnya tidak boleh goyah. Di ujung ruangan, Zayn hanya menatap. Diam. Tapi tatapannya menusuk, menimbulkan rasa dingin yang merayap ke tulang Nayla. Ia bisa merasakan setiap gerakannya, setiap detik napasnya, seolah Zayn bisa menghitung kesalahan sekecil apa pun sebelum terdengar kata. Nayla menggenggam lap pembersihnya, gemetar, dan mencoba menenangkan diri. Hari pertama ini terasa lebih berat daripada yang ia bayangkan. Veronika memang sudah jelas tidak menyukainya, tapi tatapan Zayn… itu yang membuatnya sadar: ini bukan sekadar pekerjaan, ini arena, dan ia menjadi target dari dendam yang dibungkus ketenangan seorang pria yang pernah ia cintai. Dengan napas yang bergetar, Nayla kembali mengelap meja, lebih lambat dan lebih hati-hati dari sebelumnya, sadar bahwa satu kesalahan pun bisa menjadi bencana. -------- Begitu Veronika melangkah pergi, meninggalkan Nayla sendirian, Zayn perlahan menutup laptopnya dan berdiri. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakan memancarkan kekuatan dan kendali penuh. Nayla menahan napas, merasa seolah seluruh ruangan mengecil karena tatapan tajam Zayn kini tertuju padanya. “Letakkan troli itu di sudut,” ucapnya pelan, datar, tapi setiap kata seperti disematkan di hati Nayla. Ia menuruti perintah itu dengan tangan gemetar. Zayn melangkah mendekat, berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Tatapannya menelusuri setiap gerakan Nayla, mengamati ketelitian dan keseriusannya. Tidak ada kata marah, tidak ada teriakan—hanya diam dan tatapan yang menusuk. “Aku tidak suka kesalahan,” katanya akhirnya, suara tetap tenang tapi menegaskan kekuasaan. “Bahkan kesalahan kecil sekalipun bisa menjadi bencana. Jika kau melakukan sesuatu yang bodoh di sini… aku yang akan tahu dulu. Tidak ada toleransi, Nayla.” Nayla menunduk, menelan ludah. Detik itu, ia merasakan dingin merayap dari kepala hingga ujung kaki. Kata-kata Zayn tidak banyak, tapi cukup untuk membuatnya sadar: ini bukan sekadar pekerjaan. Ini ujian, arena di mana setiap gerakannya akan diperhitungkan. Ia mengangguk pelan, tekadnya kembali menguat. Demi Rian, demi ibunya, ia harus bertahan. Tapi di sudut hatinya, satu pertanyaan terus bergelayut: Seberapa jauh dendam seorang pria yang pernah kucintai akan menjeratku di sini? Setelah menyelesaikan tugasnya, Nayla berdiri kaku, bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Ia menatap ruangan yang sudah bersih, mencoba menenangkan napasnya. Tapi ia juga tidak berani bertanya pada Zayn, baginya, tidak pantas seorang cleaning service harus menanyakan pekerjaan yang sudah selesai kepada seorang CEO. Tiba-tiba, suara Zayn memecah hening: “Untuk apa kau berdiri di sana? Apa yang kau lakukan?” Nayla tersentak. “Eng… aku sudah selesai, Tuan. Apa… yang...” Zayn menatapnya dingin, setiap kata tajam dan menusuk: “Kau pikir kau siapa? Kalau sudah selesai, pergilah. Untuk apa berdiri di depan itu? kau pikir kau foto model? Kau itu cuma cleaning service, hanya membersihkan tempat yang kotor! Berani-beraninya mengotori penglihatanku! Saat sudah tidak ada pekerjaan, jangan muncul di depanku.” Ia melangkah lebih dekat, menundukkan sedikit kepala Nayla dengan tatapan menusuk. “Mau coba menggoda aku? Jangan harap! Aku tidak suka dengan perempuan sampah sepertimu!” Nayla menelan ludah, seluruh tubuhnya gemetar. Malu, takut, tapi juga terpukul oleh kata-kata Zayn yang menusuk hati. Ia menunduk, menahan air mata dan rasa sakit, menggenggam lap pembersihnya lebih erat, berusaha tetap tegar. Di sudut hatinya, ia mengulang mantra sendiri: Untuk Rian… untuk ibu… aku harus bertahan. Bersambung...........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN