8. Di Pangkuanku, Pernah Ada Kamu

1289 Kata
Pak Hidayat terpaku beberapa detik. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Selama bertahun-tahun bekerja di HRD Mahendra Grup, baru kali ini ia menerima perintah seperti itu, kontrak dua tahun untuk seorang cleaning service, lengkap dengan denda. “Maaf, Tuan,” ucapnya hati-hati, berusaha tetap profesional. “Selama ini cleaning service tidak pernah memakai kontrak kerja. Kalau pun mereka berhenti, kami bisa segera mencari pengganti. Pekerjaan mereka juga tidak memerlukan pelatihan khusus, cukup diberi arahan singkat…” Zayn mengangkat tangannya sedikit, isyarat berhenti. “Tidak perlu kau jelaskan,” potongnya dingin. “Aku tahu semua itu.” Tatapan Zayn tajam, menusuk, membuat udara di ruangan terasa lebih sempit. “Kau tidak perlu berpikir. Dan kau tidak perlu bertanya,” lanjutnya datar. “Laksanakan saja perintahku.” Pak Hidayat langsung mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Akan saya laksanakan.” Namun rasa gelisah membuatnya memberanikan diri bertanya satu hal terakhir. “Tapi… bagaimana jika Nona Nayla menolak kontrak itu?” Tanpa ragu, tanpa jeda, Zayn menjawab: “Pecat langsung.” Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah keputusan itu bukan tentang hidup seseorang, melainkan sekadar mengganti furnitur lama. Pak Hidayat menelan ludah. “Baik, Tuan.” Zayn berdiri, merapikan jasnya, lalu melangkah menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. “Oh ya,” ucapnya tanpa menoleh, “Pastikan klausul dendanya jelas. Cukup besar untuk membuatnya berpikir dua kali sebelum pergi.” Pintu tertutup perlahan. Pak Hidayat terduduk kembali, menatap map kosong di meja kerjanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kontrak yang akan ia buat bukan sekadar dokumen kerja, melainkan jerat. Sementara itu, di tempat lain, Nayla sama sekali belum tahu bahwa hari ini, tanpa ia sadari, hidupnya baru saja diikat secara resmi oleh dendam seorang CEO. --------- Begitu pintu rumah kontrakan itu tertutup, Nayla akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Rumah kecil itu memang sempit, cat dindingnya sudah sedikit mengelupas, tapi selalu terasa hangat. Terutama karena satu suara kecil yang langsung berlari menyambutnya. “Mamaa!” Rian berlari dengan sandal yang hampir terlepas, lalu memeluk kaki Nayla erat-erat. Nayla langsung berjongkok, membuka pelukan. “Ih, Rian kok kangen banget sama mama?” ujarnya lembut sambil mencium pipi anaknya berkali-kali. “Kangen. Mama lama,” protes Rian dengan bibir manyun. Nayla tersenyum, rasa lelahnya seolah luruh. “Maafin mama ya. Tadi mama kena macet di jalan dan nunggu angkotnya lama. Mama kerja biar Rian bisa jajan, bisa sekolah, bisa beli robot lagi nanti.” Mata Rian langsung berbinar. “Yang bisa jalan sendiri?” “Iya, yang bisa jalan sendiri,” jawab Nayla terkekeh. Astuti, ibunya, muncul dari dapur sambil mengaduk sayur. “Sudah pulang? Cepat ganti baju, makan dulu. Kamu kelihatan capek.” Nayla mengangguk. “Iya, Bu.” Ia masuk ke kamar kecilnya, mengganti seragam abu-abu dengan kaus rumah yang sudah mulai pudar warnanya. Begitu keluar, ia duduk di lantai, menemani Rian menyusun balok warna-warni. “Ini rumah mama?” tanya Rian sambil menyusun balok tinggi. “Hmm, iya. Rumah kita,” jawab Nayla. Rian tersenyum puas. “Aku mau rumah mama besar nanti.” Nayla terdiam sesaat, lalu mengelus kepala anaknya. “Nanti. Kalau Rian sudah besar, mama pasti punya rumah besar.” Di rumah ini, Nayla bukan cleaning service. Bukan bawahan yang harus menunduk. Bukan perempuan lemah di hadapan CEO dingin. Di rumah ini, ia adalah seorang ibu. Saat Rian tertawa karena baloknya roboh, Nayla ikut tertawa pelan. Untuk beberapa jam ke depan, ia mengizinkan dirinya lupa tentang Zayn, tentang Veronika, tentang lorong marmer dan tatapan penuh dendam. Dunia boleh kejam padanya di luar sana. Tapi di rumah kecil ini, Nayla masih punya alasan untuk tersenyum… dan kekuatan untuk bertahan besok. ----------- Nayla baru saja selesai mencuci tangan ketika Rian sudah berdiri di ambang dapur, membawa piring kecil kesayangannya. “Mama,” panggilnya dengan suara dibuat manja. “Kenapa?” Nayla menoleh sambil tersenyum. “Aku mau makan masakan mama,” katanya serius, lalu menambahkan, “yang mama masak sendiri.” Nayla terkekeh pelan. “Bukannya tadi nenek sudah masak sayur?” Rian menggeleng cepat. “Itu masakan nenek. Aku mau masakan mama. Katanya mama capek? Tapi aku mau masakan mama.” Nayla terdiam sesaat. Tubuhnya memang lelah, kakinya masih terasa pegal sejak sore. Tapi melihat mata Rian yang penuh harap, hatinya langsung melunak. “Ih… kamu ini pintar sekali merayu,” gumamnya sambil mengambil celemek. Rian langsung bersorak kecil. “Yeay! Mama masak!” Ia ikut naik ke bangku kecil di pojok dapur, mengawasi setiap gerakan Nayla dengan penuh antusias. “Mama masak apa?” “Nasi goreng sederhana,” jawab Nayla. “Pakai telur?” “Iya.” “Pakai kecap?” “Sedikit.” “Pakai cinta mama?” Nayla tertawa, hampir menjatuhkan spatula. “Siapa yang ngajarin itu, hah?” Rian nyengir lebar. “Perasaan saja.” Tanpa sadar, kalimat itu membuat Nayla tertegun. Dulu… seseorang juga sering berkata begitu padanya. Dengan nada lembut. Dengan senyum hangat. “Apapun yang kamu masak, Nay, rasanya selalu enak. Perasaan saja.” Nayla cepat-cepat menggeleng pelan, menepis ingatan itu. Ia fokus kembali pada wajan. Rian memperhatikan ibunya dengan serius, lalu tiba-tiba berkata, “Mama jangan capek ya.” Nayla menoleh. “Kenapa?” “Kalau mama capek, nanti mama nggak masak lagi buat aku.” Hati Nayla menghangat sekaligus terasa perih. Ia tersenyum, mendekat, lalu mencubit pipi Rian pelan. “Selama mama masih bisa berdiri, mama akan masak buat kamu,” ucapnya lembut. Beberapa menit kemudian, mereka duduk di lantai, makan bersama. Rian menyuap nasi goreng dengan lahap. “Enak?” tanya Nayla. “Enak banget!” jawab Rian sambil mengangguk heboh. “Ini makanannya mamaku.” Kalimat sederhana itu membuat Nayla terdiam sejenak. Bukan karena lelah. Tapi karena sadar, waktunya bersama Rian memang tidak banyak. Dan selama masih ada waktu, sekecil apa pun, Nayla ingin Rian selalu ingat… bahwa ibunya pernah memasak untuknya, tertawa bersamanya, dan mencintainya tanpa syarat. Bukan CEO, bukan dunia kejam di luar sana, hanya seorang ibu dan anaknya, di dapur kecil yang hangat. -------- Rian sudah setengah terbaring di pangkuan Nayla, tubuh kecil itu hangat, napasnya pelan dan teratur. Nayla terus mendongeng, suaranya sengaja diperlambat, dibuat setenang mungkin. “Dan pangeran kecil itu akhirnya pulang… ke rumahnya,” ucap Nayla lirih. Tidak ada jawaban. Hanya napas kecil yang semakin dalam. Nayla menunduk. Rian sudah tertidur. Bulu mata anak itu lentik, pipinya sedikit menggembung, tangannya masih mencengkeram ujung bajunya seolah takut ditinggal. Nayla tersenyum pelan, jemarinya mengusap rambut Rian dengan hati-hati. “Tidurlah yang nyenyak, Sayang,” bisiknya. Entah mengapa, saat seperti itu, dengan kepala kecil di pangkuannya, ingatan Nayla meluncur begitu saja ke masa lalu. Dulu… Zayn juga sering begitu. Ia akan merebahkan kepalanya di pangkuan Nayla, membawa buku pelajaran tebal, pura-pura belajar. Tidak sampai sepuluh menit, matanya pasti terpejam. “Kenapa tidur terus?” Nayla pernah menggoda sambil tertawa kecil. Zayn hanya tersenyum, tanpa membuka mata. “Kalau tidur di pangkuan kamu rasanya tenang, Nay. Damai. Seperti semua masalah hilang.” Nayla dulu tertawa, menganggapnya gombalan. Padahal sekarang, ia baru benar-benar mengerti arti kata itu. Tenang. Damai. Nayla menelan ludah. Senyumnya masih ada, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh satu, tanpa suara, membasahi pipi Rian yang tertidur. “Maafkan mama…” bisiknya nyaris tak terdengar. “Kalau dulu mama salah memilih… kalau mama terlalu pengecut.” Ia menunduk, mengecup dahi Rian pelan. “Sekarang… mama cuma punya kamu.” Di luar sana, hidup bisa keras. Masa lalu bisa melukai. Nama Zayn bisa kembali membuka luka yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi di pangkuannya kini, ada alasan baru untuk bertahan. Bukan lagi cinta yang rapuh… melainkan cinta yang lahir dari pengorbanan. Nayla menghapus air matanya pelan, lalu memeluk Rian lebih erat. Dan untuk malam itu, ia membiarkan dirinya menangis, diam-diam, tanpa saksi, kecuali anak kecil yang tidur dengan damai di pangkuannya. Bersambung............
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN