Ian berkali-kali meremas tangannya yang dingin laksana membeku, padahal wajah, tengkuk dan punggungnya terus saja mengalirkan keringat. Dadanya terasa ngilu setiap kali ia menarik dan menghembuskan udara. Sementara perutnya terus saja terasa melilit walaupun Ian sudah berkali-kali pergi ke toilet tanpa hasil, ya hanya absen di toilet tetapi tak ada yang dilakukannya. “Sa... yang...” sapa Meta, terengah-engah. Fandi yang duduk di samping Ian segera berdiri, memberi kursinya untuk Meta. “Thanks, Fan.” Fandi tersenyum, menjentikkan jarinya sebagai isyarat “Never mind!” tanpa kata. “Riki belum keluar-keluar, Ta...” lirih Ian. Ia merebahkan kepalanya di pundak Meta. “Emang udah dua jam?” tanya Meta. “Belum sih.” “Ya udah sih, tenang aja. Sampai basah gini lho baju kamu. Kenapa sih