Hanif’s POV Satu minggu sebelumnya … “Tumben banget kamu ngehubungin aku, Nif. Ada perlu apakah?” tanya Yuni sembari menatapku heran. Matanya menyipit, terlihat masih sama seperti dulu. Umur sudah bertambah banyak, tetapi wajahnya tampak sangat awet muda. Yuni adalah teman SMA-ku yang kini memiliki usaha semacam paket traveling. Bisa dalam negeri, bisa luar negeri. Bisa individu, bisa juga berkelompok. “Aku ada perlu. Kalau via chat, kamu slow response. Aku butuhnya cepet.” Yuni meringis, seolah membenarkan kalimatku. “Iya, sih. Emang slow response banget. Kadang yang balesin juga adminku. Karena ini kamu bela-belain datang nemuin aku, aku bakal handle sendiri. Kamu ada perlu apa? Mau liburan ke mana?” “Aku mau pesan paket bulan madu.” “Wow! Baru sempat ya, Nif?” Yuni geleng-geleng,