“Rizda, kamu gila!” Mas Hanif menatapku marah. Dia terlihat sangat tidak terima dengan ucapanku. Wajahnya saat ini merah padam, rahangnya pun menegas. Suamiku yang biasanya pendiam dengan orang luar dan manis jika denganku, kini benar-benar terlihat marah. Aku agak takut, tetapi aku menahannya. Aku berusaha tampak biasa-biasa saja. “Siapa yang dulu bilang enggak mau menjanda? Kenapa kamu tiba-tiba ngucapin kata laknat itu? Mas salah apa sama kamu, Da? Kalau Mas ada salah, bilang. Bisa-bisanya kamu tega minta pisah di saat minggu lalu kita bahkan baru saja mengagendakan bulan madu?” Aku menunduk, tidak membalas. Rasanya aku tidak bisa berkata-kata. Mas Hanif benar. Bahkan sampai detik ini, aku masih tidak mau menjanda. Aku pun berat sekali mengambil keputusan yang tak pernah kuharapkan