53. Sebuah Kata Terlarang

2031 Kata

“Mbak Rizda kok datang sendiri aja? Enggak sama Mas Hanif?” tanya Rindi pagi itu saat melihatku duduk di gazebo sendirian sembari menatap kosong pada koleksi tanaman ibu. Ada beberapa bunga yang sedang mekar, jadi taman rasanya tampak lebih hidup. “Hehe … iya, nih, Rin. Emang sengaja sendiri.” Rindi berjalan ke arahku dan ikut duduk di sebelahku. “Mas Hanif lagi sibuk, ya, Mbak? Apa workshop lagi? Kapan itu aku chat dia tanya soal buku, bilang suruh ke rumah dan minta tolong Mbak buat ambilin. Dianya lagi di Jakarta, katanya. Cuma akhirnya aku enggak jadi pinjam karena udah dapet dari temen. Apa jangan-jangan dia masih di sana?” Aku menggeleng pelan. “Enggak, kok. Dia udah pulang. Tapi dia capek. Aku lagi pengen lihat taman ini, jadi ke sini sendiri. Seger aja rasanya kalau lihat tanama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN