Yasa menginjakkan kaki di kamar Nara untuk kedua kali. Dengan muka tertekuk seperti daun brokoli, manik mata pria itu menyisir. Mencari keberadaan Nara yang tidak terlihat di kamar ini. Ke mana perginya gadis desa itu? Malas untuk memanggil, pun tak berniat untuk mencari keberadaan Nara yang entah berada di mana, Yasa pun memilih menunggunya. Duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang kemudian bersedekap d**a dengan tubuh menyandar. Jika saja ayahnya tak memaksa agar dia sendiri yang mengajak Nara, tentu dia tidak akan sudi melakukannya. Mau diletakkan di mana harga dirinya sebagai pria yang dikejar-kejar wanita? Semua wanita mendambanya dan sekarang dia harus mengajak gadis desa itu sekamar. Benar-benar di luar nalar. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka dan muncullah si gadis des

