Bab 9 - Ambisi Ajeng

1537 Kata
“Ajeng, ayo makan siang.” Ajakan karyawan lain, tentu Ajeng setujui. Cepat-cepat dia bangkit dari kursi kemudian bergabung dengan karyawan lain menuju kantin. Duduk berjejer dan bercanda satu sama lain. Membangun relasi baik agar mendapat banyak teman selama magang di perusahaan ini. “Kamu mau makan siang apa?” seorang karyawan wanita menunjukkan menu makanan yang disediakan kantin perusahaan dan Ajeng melihatnya sebentar. “Aku mau sarapan sop ayam sama air putih saja.” “Baiklah.” Karyawan yang bertugas di bagian kantin pun mencatat pesanan dan pergi untuk menyiapkan makan siang mereka. Meninggalkan ruangan kantin yang biasa ramai saat makan siang. “Ngomong-ngomong, kamu tinggal di mana?” seorang wanita mengajukan pertanyaan. Namanya Ika dan wanita itu karyawan magang juga. “Aku tinggal di apartemen. Tidak jauh dari sini,” jawab Ajeng ramah. Tiada bosan dia menunjukkan senyuman manis yang sejak dulu selalu berhasil menarik perhatian. Sebisa mungkin bersikap anggun, baik dan ceria agar semua orang menyukainya. Pokoknya, jangan sampai orang-orang ini menjauhinya seperti teman kuliahnya dulu. “Wah ... kamu tinggal sendiri?” “Iya. Sejak kuliah aku tinggal di apartemen sendiri karena orang tuaku di luar kota,” Ajeng tertawa pelan untuk kedua kali. “bisa dibilang aku merantau dan aku benar-benar sendiri di kota ini. Tidak punya saudara ataupun teman.” “Ah ... tidak mungkin orang menyenangkan sepertimu tidak punya teman, Ajeng? Kamu ramah dan baik.” Seorang karyawan pria yang ikut bergabung di sana menyeletuk. “Ya. Aneh sekali jika wanita cantik seperti kamu tidak punya teman.” Yang lain ikut menambahi hingga membuat Ajeng tersipu. Atau lebih tepatnya bangga, karena orang-orang ini mulai bersimpati padanya. “Entah, aku juga tidak tahu kenapa mereka tidak mau berteman denganku.” Ajeng menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. “Tapi kamu hebat bisa melakukan semuanya sendiri, Ajeng. Mental baja sekali karena memiliki keberanian di kota besar ini.” Para pria bergantian memuji. Mereka tidak tahu saja, jika wanita di depannya memang haus validasi. “Terima kasih atas pujiannya. Senang mengenal kalian semua. Jadi, apakah kita bisa berteman? Tentu aku akan sangat membutuhkan bantuan kalian selama bekerja di perusahaan ini.” “Tentu saja, Ajeng. Mulai sekarang jangan sungkan untuk bertanya ataupun meminta bantuan perihal masalah lainnya.” Senyum Ajeng mengembang sempurna. Memiliki wajah dan penampilan mendukung, memanglah jurus paling ampuh untuk mendapatkan perhatian orang-orang di sekitarnya. Karena itu dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Dia harus bisa menarik simpati mereka agar semuanya berjalan mudah. Status sebagai karyawan tetap tentu harus dia dapatkan dan selainnya, mendapatkan hati tuan Abiyasa tentu harus dia usahakan mulai sekarang. Ingat! Ada Dinara Asmaraloka yang ingin dia jatuhkan di bawah kakinya untuk selama-lamanya. Tak lama makan siang mereka datang dan para karyawan yang sebelumnya sibuk mengobrol itu pun fokus dengan makanannya. ** “Aku harus menghubungi Ibu setelah pulang bekerja,” lirih Ajeng sesaat meninggalkan toilet. Melihat karyawan lain berpenampilan sempurna, tentu dia butuh uang untuk menyempurnakan penampilannya juga. Jangan sampai dia kalah dari mereka karena dia harus menjadi yang tercantik untuk menjerat Abiyasa. “Tuan muda pesan kopi apa tadi?” “Kopi dingin. Ini sudah aku buatkan. Tinggal mengantarkannya saja.” Seorang karyawan muncul dari balik pintu Pantry. Dengan sebuah nampan di tangan yang di atasnya terdapat satu cup kopi. “Permisi,” Ajeng yang tidak mungkin melewatkan kesempatan pun mengambil alih. “bisakah aku meminta satu cup espresso?” tanyanya sopan sekali. “Tentu saja. Anda bisa memintanya pada teman saya di dalam karena saya harus mengantarkan kopi ke ruangan tuan muda.” “Ehm ... bagaimana jika saya saja yang mengantarkannya? Kebetulan saya ingin mengantarkan laporan yang harus ditanda tangani tuan muda.” Ajeng terbiasa memanipulasi keadaan. Jadi, siapa pun akan mudah terperdaya. “Baiklah, Nona.” Senyum kemenangan di sudut bibir Ajeng kembali mengembang. Dengan cepat Ajeng mengambil nampan di tangan karyawan tadi kemudian melangkah menuju ruangan tuan muda berada. Sempat dia merapikan penampilan juga memastikan riasannya tetap sempurna sebelum mengetuk pintu itu dan mendapat sahutan dari dalam. “Masuk.” Ajeng melangkah masuk dengan senyum berbisanya. Berjalan anggun dengan bahu tegap yang membuat lekuk tubuhnya terpahat mengagumkan. Meski mata tajam itu belum juga melihat ke arahnya, tentu dia akan mendapat kesempatan untuk mencuri pandang. “Ini kopi dingin yang Anda pesan, Tuan.” Dengan suara lembut mendayu, Ajeng meletakkan kopi yang dibawanya di atas meja. Tepat di depan Abiyasa yang sedang menyantap makan siangnya. “Ya. Kamu bisa pergi sekarang.” Hanya itu? Ajeng meringis tertahan. Bahkan Abiyasa tak sedikit pun melihat ke arahnya. Tak mau diusir untuk kedua kalinya, Ajeng pun melangkah meninggalkan ruangan. Sempat menoleh sebentar untuk memastikan apakah Abiyasa sudah tertarik untuk melihat, tapi kenyataannya sama saja. Pria itu tetap fokus pada makanan di atas meja. Sial! Bisa-bisanya makanan itu lebih menarik dari pada aku? Begitu pintu tertutup rapat, Yasa pun mengangkat pandangan. Dengan pipi mengembung mengunyah makanan, helaan napas pria itu pun sempat terdengar. “Parfum mereka selalu membuatku mual.” Memang tidak sekali dua kali karyawan wanita masuk ke ruangannya. Bahkan setiap harinya, ada saja ulah mereka. Beruntung dia masih menghargai perasaan perempuan karena jika tidak, dia pasti mengusir mereka dengan kasar. “Lain kali, aku tidak akan mengizinkan mereka masuk karena membuat bau ruanganku saja,” Yasa menyendok sup kari ayam yang menjadi menu makan siangnya dan aneh saja karena dia suka. Biasanya bi Sika akan mengirimkan makan siang seperti steik, spageti atau yang lainnya dan sekarang, ada menu baru yang cocok di lidah. "Aku akan meminta bi Sika sering-sering membuatnya." ** “Nara ... Bi Sika ....” Suara tuan Bisma yang beberapa hari ini tak terdengar, akhirnya menggema memenuhi ruangan. Pria setengah baya yang sibuk berbisnis di pedesaan itu akhirnya pulang dan kali ini membawa oleh-oleh lumayan banyak. “Tuan sudah pulang?” Nara dan bi Sika tergopoh menemui tuas Bisma yang duduk di sofa. Cepat-cepat Nara mencium punggung tangan kemudian kembali ke pijakan. “Iya. Kalian bagaimana? Baik-baik saja selama aku tidak ada ‘kan?” “Tentu saja kami baik, Tuan.” “Lalu Abiyasa? Apa benar anak itu sudah pulang?” Bi Sika mengangguk mengiyakan. “Iya, Tuan. Tuan muda sudah pulang dan pagi tadi pamit bekerja.” “Baguslah,” tuan Bisma menghela napas pelan. “Tuan sudah makan siang belum? Kebetulan Non Nara baru masak sup kari ayam. Siapa tahu Tuan mau?” tanya bi Sika seraya mengambil beberapa kantung plastik di dekat meja dan ternyata, tuan Bisma beranjak dari duduknya. “Wah kebetulan sekali. Aku memang belum makan siang karena cuaca di luar panas sekali.” Nara mengulum senyum tipis. Inilah yang membuatnya merasa beruntung meski kebahagiaan ini tidak akan selamanya dia miliki. Tuan Bisma selalu memperlakukannya dengan baik. Membuatnya merasakan kembali posisi seorang putri yang dikasihi. Malam harinya “Ayah pikir kamu masih marah dan tidak mau pulang.” Saat ini tuan Bisma dan Yasa duduk berdua di ruang tengah. Berseberangan di sofa yang berbeda karena hubungan mereka masih bersitegang. Yasa menghela napas pelan. “Tentu saja aku masih marah. Tentu saja aku belum berniat pulang. Tapi mau sampai kapan? Aku tidak mungkin terus menghindar dari masalah.” “Pernikahan bukanlah masalah, Yasa.” Tuan Bisma menyela. “cobalah untuk mengerti, Ayah melakukan ini karena kamu tidak kunjung menikah. Bagaimana jika lebih dulu Ayah meninggal?” “Jangan mulai.” Tuan Bisma mengulum senyum samar. Membujuk Yasa tidak akan mempan tanpa ancaman. “Lagi pula Dinara tidak seburuk itu. Gadis itu cantik dan baik. Sudah cukup memenuhi kriteria sebagai istri dan Ayah yakin, kalian cocok dan serasi.” Yasa mencebik. Serasi dari mananya? Gadis desa itu tidak ada menarik-menariknya. Batinnya kemudian memijat pelipisnya pelan. “Sudah ... jalani saja. Jangan jadikan pernikahanmu sebagai beban pikiran. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa menerima Nara.” Tuan Bisma menambahkan. “Sulit Ayah apalagi aku tidak cinta. Jangankan cinta, mengenal saja tidak.” “Kalau begitu kalian bisa mengenal lebih dekat. Apa susahnya?” “Aku tidak—“ “Mulai malam ini kalian tidur sekamar ya?” “Apa? Sekamar?” Yasa sampai terperanjat dari duduknya. Demi Tuhan, kemauan ayahnya sudah di luar nalar. “Tidak. Aku tidak mau! Mana bisa Ayah menyuruhku tidur sekamar dengan gadis desa itu?” Mendengar penolakan Abiyasa, tuan Bisma pun kembali mengancam. “Kalau begitu, Ayah akan mengumumkan pernikahanmu kepada semua orang. Biar semua orang tahu kalau kamu sudah punya istri, Abiyasa.” “Kenapa Ayah menjadikan kesepakatan kita untuk mengancamku sekarang?” Yasa menggerutu kesal. Memang benar dia setuju menikahi Nara dengan syarat pernikahan ini dirahasiakan. Dan sekarang? “Tidak apa-apa kamu menyebut Ayah ingkar janji, curang, pembohong atau yang lainnya. Yang terpenting, Ayah mau kamu sekamar dengan Nara. Titik!!” Bahu Yasa mengendur. Sayang tidak ada Ibu untuk mengadu, dan apa pun perintah ayahnya akan selalu dia lakukan meski terpaksa. Di dunia ini hanya ayahnya yang dia punya, tentu dia tidak akan tega melukai hatinya. Hanya ... kenapa harus menikah? Kenapa harus memaksanya menerima Nara? “Baik aku setuju. Aku akan sekamar dengan gadis desa itu tapi jika dalam beberapa bulan ke depan aku tetap tidak bisa menerima Nara, maka Ayah tidak bisa mencegah keputusanku untuk mengakhiri pernikahan kami berdua.” Yasa mengulurkan tangan dan tuan Bisma pun menyambutnya dengan senyum kemenangan. “Deal! Mari kita lihat episode selanjutnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN