112

1134 Kata

Zya nampak terlihat cemas dan bingung. Lalu berusaha tetap tenang dalam kegelisahannya. "Dokter Fatih?" lirih Zya menjawab. Tatapannya sedikit buyar. "Hei ... Ada apa? Siapa yang sakit?' tanya doketr Fatih tanpa ada rasa curiga. Dokter Fatih sendiri masih lemas setelah melakukan donor darah. Ini mau ke bagian dapur untuk meminta s**u dan telur rebus. Tapi, hal pertama yang ingin di lakukan adalah menghubungi Bank Darah, karena sudah satu jam lebih, Adam tak kunjung kembali dari mengambil darah. Padahal tempat Bank Darah itu tidak jauh dari rumah sakit. Zya menggelengkan kepalanya seakan tak kuat untuk mengatakan. Nyalinya pun tak ada, apalagi memngingat darah segar yang berceceran banyak di jalan raya tadi membuat tubuh Zya ikut bergidik ngeri. Semua terasa lemas, pandangannya pun berk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN