Rany membuka kedua matanya dan menatap Dea yang sedikit bingung dan canggung. "Mari saya bantu untuk kembali ke kasur. Nona Rany seharusnya istirahat dulu. Jangan memaksakan diri untuk berlatih. Nanti biar saya atau dokter Fatih yang akan membantu Nona Rany," ucap Dea pelan sambil membantu Rany berdiri dan duduk di tepi kasur. "Aku ingin mencoba sendiri, tapi ternyata aku tidak bisa," ucapRany lirih.. "Tidur ya? Apa mau aku buatkan sesuatu?" tanya Dea pelan kepada Rany. "Tidak usah. Terima kasih. Aku hanya ingin sembuh dan bisa bekerja atau beraktivitas sehari-hari dengan kedua kakiku ini," ucap Rany pelan. "Hanya perlu waktu dan kesabaran saja. Semua kan ada prosesnya, tidak ada yang instan. Selama kita mau berusaha, pasti ada jalan," ucap Dea pelan menyemangati. "Iya. Kamu benar.

