Semalaman Dini tidak bisa tertidur. Ponselnya di letakkan di samping bantalnya berharap Adam akan menghubunginya. Namun penantian itu ternyata hanyalah impian dan semua terasa sia- sia. Adam tak memberikan kabar sedikit pun. 'Semudah itu kamu melupakan aku, Pah?'batin Dini di dalam hatinya. Tubuhnya masih terbring di kasur empuk dan merasakan nyaman di punggungnya yang pegal berangsur menghilang. Hari ini adalah hari pernikahan Adam dan Zya. Biar bagaimanapun juga, Dini harus datang dan memberikan restu itu kepada suaminya untuk menikah kembali. Ponselnya berdering Celia menelepon Dini. "Ran ... Kita ketemu di sana saja. Ada hal yang harus kita bicarakan," ucap Celia pelan dan seperti ketakutan. "Kamu kenapa Cel?" tanya Dini dengan suara pelan. "Aku tidak apa - apa. Jangan banyak t

