197

1522 Kata

Dini pun menoleh ke arah belakang. Sekilas nampak berbayang karena kedua matanya tertutup oleh air mata yang masih deras luruh dan sebagian mengumpul di pelupuk matanya. "Rany ... Ini aku, Fatih," ucap Fatih pelan lalu berjalan menghampiri Dini yang masih duduk di lantai dan bersandar pada tembok tiang penyangga koridor. Malam itu begitu dingin, angin malam berhembus sangat kencang seperti akan turun hujan deras. Fatih duduk tepat di sebelah Dini dan menatap lurus ke arah depan. Fatih tahu bagaimana rasa hati yang sedang di rasakan oleh Dini saat ini. "Kamu pasti kecewa dengan Adam?" tanya Fatih pelan tanpa menoleh ke arah Dini. Dini masih menunduk dengan kedua tangan di sangga pada kedua lututnya hingga kepalanya di sandarkan pada tangannya. "Tidak," jawab Dini singkat. "Kamu cemb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN