Dini bersandar di balik pintu kamar tidurnya. Tubuhnya luruh begitu saja dan terduduk di lantai. Air matanya turun begitu saja di pipinya. Di balik pintu kamar itu pun Fatih berbuat hal yang sama. Keduanya sama - sama sibuk dengan pikirannya masing - masing. Dini sibuk memikirkan cara untuk menemui Adam dan bicara baik - baik tentang kehamilannya. Sedangkan Fatih sibuk mencari cara untuk bisa menenangkan Dini dan meminta maaf agar hubungannya kembali baik seperti biasa. Kepalan tangan Dini semakin erat. Ia pukul - pukulkan ke lantai hingga tangan itu terasa sakit. Isak tangisnya mulai terasa terdengar hebat dengan tubuh bergetar menahan semua gejolak yang ia rasakan. 'Kenapa jadi begini sih? Semuanya jadi rumit dan runyam? Lalu, siapa yang harus di salahkan?' jerit Dini di dalam hati

