Meera tiba-tiba memajukan tubuhnya. Banyu tertawa pelan. "Bazokanya sudah siap tempur, Mi." Banyu menarik pinggang Meera. Ia duduk di tepi kasur, dengan Meera di atas pangkuannya. Cermin lemari tepat berada di hadapan mereka. "Buka dong, Mi." Banyu mengangkat kedua kaki Meera, lalu membuka lebar kedua paha Meera. Milik Meera terpampang jelas di cermin. "Mi ...." Banyu mengusap milik Meera, dicumbu milik Meera dengan jarinya. "Papi," wajah Meera mendongak, punggungnya terangkat, kedua pahanya merapat. Mulutnya menggeram, menahan sesuatu yang ingin ia lepaskan. Kedua tangan Meera terangkat, meraih tengkuk Banyu. Dimiringkan kepalanya, agar Banyu bisa mencium bibirnya. Tubuh Meera bergetar hebat, pinggulnya terangkat, miliknya menyemburkan yang datang dari nikmat. "Ooh ... Papi ....

