BAB 6

1548 Kata
Hujan deras mengguyur Desa Wingitsari. Petir menyambar-nyambar bagaikan cambukan dewa yang sedang marah. Gemuruh di langit seakan sedang mengingatkan jika hujan masih akan tetap turun tak peduli jika sawah kerendam air, tak peduli jika jika air mengubah jalanan menjadi genangan dan menciptakan banjir kecil di tiap tikungan desa. Sekar berdiri termangu di dekat jendela. Memandang curah hujan yang turun tak terbendung. Ia memikirkan tentang Si Mbok-nya yang sendirian di rumah. Untunglah, rumah reyot itu sudah dirapikan atapnya sebelum musim penghujan tiba. Meski sendiri setidaknya Si Mbok tidak kebocoran. Perasaan sedih menggayut hati Sekar ditambah cuaca yang dingin karena hujan membuat perasaannya tak karuan. Sudah tiga tahun ia tinggal di rumah ini, demi membayar sesuatu yang bernama denda. Hampir setiap hari ia melalui masa sulit di sini dan makin hari makin banyak masalah menimpanya. Dua tahun lagi dan aku akan bebas, pikir Sekar muram dengan tangan bersendekap untuk menahan dingin. Malam ini ia hanya memakai rok selutut dengan kaos polos, tanpa jaket untuk menahan hawa dingin. “Woii! Bukan pintu!” Suara gedoran di pintu dan teriakan seseorang membuat Sekar berjengit kaget. “Woi, ada orang nggak!? Kenapa sih nggak pernah pasang bel di pintu?!” Sekali lagi suara gedoran terdengar, keras dan berulang, membuat bulu kuduk Sekar meremang. Suara tangan laki-laki itu menghantam pintu dengan paksa, seakan tak memberi ruang bagi siapa pun untuk mengabaikannya. Sekar memutar pandang, menatap pintu ruang tengah yang tampak berguncang halus, sementara udara malam terasa semakin berat menekan dadanya. Namun rumah tetap sunyi. Para penghuni lain rupanya sudah terlelap, termasuk para pelayan yang biasanya masih beraktivitas hingga larut. Sekar menggigit bibir, pikirannya tercabik di antara rasa takut yang mencekam dan rasa ingin tahu yang mendesak. Ia berdiri terpaku, tak tahu apakah harus mendekat atau bersembunyi. “Mbok Sumi, Pak Lek Tarjo!” Laki-laki di depan pintu sekarang meneriakkan nama-nama pelayan sepuh di rumah ini. Sekar mengernyit saat mendengarnya. Gedoran kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Merasa jika keadaan aman terkendali karena sang tamu mengenali penghuni rumah, Sekar melangkah ke pintu. Secara perlahan tangannya membuka gerendel besar yang mengunci pintu kayu jati dan membukanya. Menyerbu masuk bagai benteng buas, seorang laki-laki dengan rambut awut-awutan. Sekar berjengit di tempatnya berdiri, memandang ternganga pada tamu tak diundang yang kini sibuk mengibas-ibaskan rambut yang basah. “Lo lama banget, sih? Emang nggak lihat di luar hujan?” Laki-laki itu mengomel sambil mencopot jaket lusuh yang ia pakai dan sembarangan melemparkannya ke kursi jati. “Gue dah teriak manggil Pak Lek Tarjo, kayaknya itu orang tua juga tahu kalau gue mau datang. Mana dia?” Sekar mengela napas dan menjawab takut-takut. “Anu, Pak Lek Tarjo lagi demam. Masuk angin dan sekarang sedang tidur.” Laki-laki itu mendongak dan memandang Sekar. Kepalanya mengangguk. “Pantas saja, harusnya dia jemput gue.” Sekar yang masih bingung dengan kedatangan tamu tak dikenal, sedikit terperangah saat menatap mata hitam dan wajah tampan di balik tirai rambut panjang laki-laki di depannya. “Lo, bikinin gue kopi panas sama indomie rebus. Gue kedinginan,” perintah laki-laki itu padanya. Sekar yang kebingungan belum beranjak dari tempatnya berdiri. “Bengong aja, sekarang!” Sekar menelan ludah sebelum memberanikan diri bertanya. “Si—siapa, Saudara?” Laki-laki itu menghentikan aktivitasnya yang sedang mengibaskan percikan hujan di bajunya dengan punggung tangan. Lalu memandang Sekar seakan gadis di depannya telah mengatakan sesuatu yang tak masuk akal dan membuatnya bingung. “Gue, Mandala. Dan kalau lo mau tahu gue siapa? Tanya sana sama Mbok Sumi atau Pak Lek Tarjo.” “Ta—tapi, mereka sudah tidur,” jawabn Sekar tergagap. Mandala berdecak tak sabar.” Karena itu lo yang harus bikinin gue makanan. Buruan!” Mengabaikan rasa was-was, Sekar terbirit-b***t menuju dapur dan mulai mencari mie dan telur di kulkas. Hatinya diliputi rasa was-was tentang tamu yang sekarang berada di ruang depan. Rumah sepi, para penghuni semua tidur dan sepertinya hanya tersisa dia sendiri. Sementara tangannya menyetel kompor untuk menjaring air panas, Sekar sibuk memikirkan tentang laki-laki tampan tapi urakan yang baru saja datang. Setengah jam kemudian, Sekar membawa nampan berisi mis instan rebus dan kopi panas ke ruang depan. Sekar melangkah perlahan dan saat tiba di sana, ia melihat laki-Iaki itu sedang berdiri diam memandang berbagai foto yang dibingkai di dalam bufet kaca. Sepertinya ia sedang mengamati foto-foto yang ada di sana. Rambut panjangnya telah dikuncir ekor kuda, meski masih dalam keadaan basah. “Maaf, ini mie-nya,” ucap Sekar perlahan dan meletakkan mie di atas meja. Mandala menoleh, memandang bergantian dari gadis berpakaian sederhana yang berdiri takut-takut di hadapannya ke arah mie instant dan kopi mengepul di atas meja. Melangkan pelan ia menuju meja dan mengenyakkan dirinya di atas kayu jati. “Kopi di rumah ini masih seenak dulu,” gumam Mandala saat lidahnya mengecap kopi hitam lalu mendongak ke arah Sekar yang memandangnya bingung. “Lo pintar buatnya.” Seakan sudah tak makan selama berhari-hari, Mandala menyantap mie dengan cepat dan tandas dalam sepuluh menit. Ia mengelap mulut menggunakan tisu yang ada di atas meja dan membuang tisu bekas ke dalam mangkok kosong. “Siap nama lo?” tanya Mandala pada gadis di sampingnya. “Sekar.” “Hah, nama lo kayak jadul,” gumam Mandala pelan. Ia bangkit dari kursi dan tanpa sengaja menyenggol tubuh Sekar yang hendak mengambil mangkok dari atas meja. Dengan sigap tangannya memegang bahu Sekar dan membuat gadis itu berjengit. “Kenapa? Takut ama gue?” bisik Mandala dengan mata menatap mata Sekar yang terbelalak. “Awas, jangan pegang-pegang,” ucap Sekar sambil meronta. Mandala mengabaikannya, kini bahkan memegang bahu Sekar dengan erat dan menegakkan tubuh gadis di depannya. Sementara mata Sekar menyorot marah dan takut, sebaliknya dengan Mandala yang memandang dengan senyum terkulum. “Gue baru tahu kalau ada pelayan secantik lo di rumah ini.” Sekar terbelalak dan tubuhnya gemetar saat merasakan jemari Mandala menyusuri dahi dan mengelus anak-anak rambutnya. “Wajah rupawan, hidung mancung yang gue yakin tanpa operasi. Para artis ibu kota akan berlomba-lomba operasi demi dapetin muka kayak lo.” Jemari Mandala kini bahkan menyentuh pipi Sekar. “Bibir lo merekah, mengundang orang untuk mengecupnya.” Tanpa diduga oleh Sekar, Mandala menyentakkan dagunya dan mengecup bibirnya. Tidak hanya itu, laki-laki itu bahkan menyerbunya dengan ciman bertubi-tubu dan panas. Membuat Sekar kebingungan. Saat ia memberontak, berusaha mengalihkan wajah, ciuman Mandala bahkan lebih ganas. Tanpa sadar, Sekar mengeluarkan erangan yang memalukan dari bibirnya. Mungkin setelah sepuluh menit, Mandala melepaskan ciumannya. Matanya bersinar nakal dan menjilat bibir dengan lidahnya. “Bibir yang ranum, sepertinya belum pernah dicium sebelumnya.” Sekar merasa tubuhnya gemetar menahan marah. Entah keberanian dari mana, membuatnya menyambar kopi dan menyiramkannya ke tubuh Mandala. “Apa-apaan ini, sialan lo!” teriak Mandala keras. Teriakannya bisa jadi akan membangunkan seisi rumah. Sekar terbelalak tak peduli. “Kurang ajar ka—kamu,” ucapnya sambil menahan rasa terhina. “Cewek kurang ajar!” maki Mandala geram dan kini memandang Sekar dengan mata melotot. “Lo nggak tahu gue siapa?” Belum sempat Sekar menjawab, dari dalam muncul suara teguran yang membuatnya berjengit kaget. “Sekar, siapa dia? Kenapa kamu bawa laki-laki masuk ke rumah ini?” Keduanya menoleh dan menatap seorang perempuan setengah baya dalam balutan daster batik. Dahi wanita itu mengernyit memandang Sekar lalu beralih ke Mandala. Untuk sesaat dia seperti kebingungan dan bola matanya membesar saat mengenali Mandala yang tersenyum menyeringai. “Hallo, apa kabar lbu Tiri?” Sekar menatap bingung ke arah Mandala yang kini tersenyum pongah dan beralih pada Bu Sundari yang menatap dengan raut wajah dingin. “Masih seperti dulu, tanpa sopan santun. Kenapa kamu datang?” desis Bu Sundari dengan bersendekap. Mandala mengangkat sebelah bahu dan melangkah mendekati Bu Sundari. “Ini rumah gue, seingat gue juga ada nama gue di rumah ini. Jadi, gue berhak kapan pun datang kemari, lbu Tiri.” Bu Sundari terlihat menahan geram. “Begitu? Kamu datang untuk mengklaim warisan bahkan saat ayahmu meninggal pun kamu tidak datang?” Sekar menahan napas, masih terpaku menatap silat lidah antara Bu Sundari dan Mandala. Dia kini mengerti siapa laki-laki muda yang datang mendobrak rumah mereka di malam berhujan. “Terserah lo mau ngomong apa, gue nggak peduli.” Mandala mengibaskan tangan, berbalik menuju kursi untuk mengambil tas dan menatap sekilas ke arah Sekar yang berdiri terpaku. “Gue capek, mau istirahat. Kamar gue masih sama, kan?” Dengan langkah pongah, Mandala meninggalkan ruang tamu, bahunya tegak seakan ingin menegaskan wibawa yang tak tergoyahkan. Suara langkah kakinya bergaung pelan di lorong pendek yang menghubungkan ruang depan dan ruang tengah, sebelum tubuhnya menghilang ke sisi kanan rumah. Di sana, deretan kamar berjajar rapat, seolah menjadi saksi bisu perjalanan setiap penghuni yang pernah melintas. Bu Sundari terbelalak, kedua matanya membelalak penuh keterkejutan yang bercampur amarah. Tatapannya sengit menusuk punggung Mandala yang telah lenyap dari pandangan, lalu bergeser cepat ke arah Sekar. Ada sesuatu dalam sorot matanya—perpaduan antara kecemasan, curiga, dan ketegangan yang tak terucap. Sekar hanya bisa berdiri terpaku, merasakan dadanya dipenuhi gelombang perasaan yang sulit dijelaskan. “Rapikan bekas-bekas makanan itu! Dan, lain kali jangan sembarangan membuka pintu. Ini bukan gubukmu!” Dengan sentakan terakhir, Bu Sundari meninggalkan ruang depan dan kembali ke kamarnya. Tersisa Sekar yang berdiri kebingungan. Tanpa sadar, tangannya meraba bibir dan mengingat bagaimana Mandala menciumnya. Dia adalah istri Almarhum Pak Hardjo dan Mandala, sang anak tiri telah mencuri ciuman pertama darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN