bc

Mencintai Janda Ayahku

book_age18+
169
IKUTI
1K
BACA
forbidden
goodgirl
drama
no-couple
campus
city
small town
actor
like
intro-logo
Uraian

Mandala, seorang aktor muda yang sedang naik daun, terpaksa mundur dari dunia hiburan setelah terjerat skandal besar. Dalam pengasingannya, takdir mempertemukannya dengan Sekar, perempuan jelita yang ternyata adalah istri muda dari mendiang ayahnya sendiri.

Pertemuan yang seharusnya biasa saja justru menyalakan bara yang tak seharusnya ada. Mandala menemukan ketenangan, kelembutan, sekaligus daya tarik yang tak bisa ia abaikan dalam diri Sekar. Sementara Sekar—yang selama ini dipandang rendah oleh keluarga dan masyarakat karena pernikahannya dengan lelaki jauh lebih tua—mendapati dirinya perlahan bergantung pada Mandala, lelaki yang seharusnya ia panggil “anak tiri.”

Namun cinta mereka adalah cinta yang terlarang. Pandangan sinis keluarga, beban adat, hingga fitnah masyarakat menjadi tembok besar yang mengurung keduanya. Mandala harus memilih antara memperjuangkan cintanya pada Sekar atau tunduk pada norma yang mengekang.

Di tengah hiruk pikuk prasangka dan tekanan, keduanya sadar bahwa cinta mereka mungkin tidak akan pernah mendapat restu. Tetapi hati yang sudah terpaut, sulit untuk dilepaskan.

💔 Sebuah kisah tentang cinta yang lahir di jalan yang salah, namun terasa terlalu benar untuk diingkari.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Desau angin menggesek dedaunan menimbulkan suara gemerisik sendu. Sinar matahari menerobos celah pohon di kebun pisang dan membias tanah menjadi gelombang keemasan. Samar-samar di kejauhan terdengar musik dangdut yang disetel sangat keras dan mengubah sore yang diam menjadi lebih hidup. Suara ibu berteriak memanggil anak-anak mereka yang bermain untuk segera mandi, dengan para laki-laki dewasa mengobrol di warung kopi. Tidak ada kafe mau pun tempat makan kekinian di Desa Wingitsari. Para penduduknya menyukai kopi tubruk rumahan dibanding kopi s**u dengan manis melebihi rata-rata-rata. Dengan rokok terselip di bibir, mereka menikmati kopi panas beserta pisang goreng. Para laki-laki itu mengobrol tentang panen, pengairan mau pun kondisi desa terkini. Seperti anak siapa yang akan menikah, siapa dengan siapa menjalin hubungan. Bahkan, siapa orang dengan hutang paling besar pun mereka tahu. Menjelang magrib, obrolan bubar dan akan dilanjt setelah pukul delapan malam. Keadaan desa akan benar-benar sunyi setelah pukul sebelas malam. Damai, tentram, dengan kesibukan ala desa yang sederhana, mereka membangun keluarga. Dari rumah berdinding bambu terdengar perdebatan antara dua perempuan. Mereka berbicara tanpa takut ada tetangga yang menguping karena memang rumah mereka terletak sedikit jauh dari area kampung yang padat. Debu-debu beterbangan di sekitar kepala seorang gadis yang sedang menunduk di atas buku. Ia tetap menunduk meski seekor lalat hinggap di kuping atau juga nyamuk yang berusaha menggigiti kakinya yang mulus. “Tapi aku baru umur 18 tahun, Mbok. Aku masih mau sekolah, lulus SMA. Ndak mau kawin buru-buru.” Suara gadis itu terdengar melengking dari rumah reyot beratap genteng yang sudah banyak pecah di sana sini. Berdinding bambu dengan bagian atas adalah kayu untuk menyanggap atap. Bagian depan berupa pintu kayu yang sudah lapuk dimakan cuaca. Rumah kecil berpelataran tanah. Di bagian belakang ada sumur dengan kamar mandi kecil yang terpisah dari rumah. Tidak ada kendaraan apa pun yang terparkir di pelataran yang hanya berupa tanah sepetak ditanami cabai dan lengkuas. Mbok Garsih duduk di dipan bambu yang berderit halus setiap kali ia mengubah posisi. Pandangannya jatuh pada anak gadisnya, Sekar, yang tengah sibuk menunduk di atas buku pelajaran. Di hadapannya, meja kayu usang berdiri miring, hampir roboh, menghadap ke jendela kecil yang membiarkan cahaya sore masuk samar-samar. Sekar terlihat tekun, meski jelas meja itu lebih sering menjadi pengganggu daripada penopang belajarnya. Mbok Garsih tahu, sudah berkali-kali Sekar mencoba mengetuk paku-paku yang mencuat dengan palu kecil pinjaman tetangga, berharap bisa membuatnya kembali menancap sempurna. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, paku-paku itu selalu keluar lagi, seakan menertawakan kelemahan mereka. Pemandangan itu menusuk hati Mbok Garsih—betapa anaknya berjuang dengan segala keterbatasan, namun tetap bertahan demi sebuah harapan. “Sekar, semenjak bapakmu meninggal. Kita hidup susah. Banyak hutang sama Ndoro Kakung. Banyak kok gadis di desa ini yang menikah saat seumuranmu.” Sekar tidak menjawab perkataannya ibu, pikirannya sibuk memecah dan menghitung bilangan matematika. Sebentar lagi ujian masuk universitas dan dia tidak ingin gagal. Sebagai salah satu murid pintar di sekolah, Sekar punya mimpi mendapat bea siswa ke perguruan tinggi negeri. Ia tahu, diperlukan kerja keras dan usaha untuk mendapatkan itu dengan saingan yang tak sedikit jumlahnya. Sekar optimis mampu mendapatkan bea siswa jika ia tekun belajar. Meski mereka hidup miskin bukan berarti ia harus miskin cita-cita. Dia tidak mau seperti gadis kebanyakan di desa mereka yang ingin menikah muda atau menjadi buruh pabrik di kota-kota kabupaten. Dia punya mimpinya sendiri. Sering kali rasa iri menyelinap di hati Sekar setiap kali ia melihat teman-teman sekolahnya. Mereka bisa datang dengan seragam rapi, buku baru, bahkan bekal makanan yang tampak mewah baginya. Hidup mereka seakan begitu mudah—tak perlu bersusah payah, namun tetap bisa meraih apa yang mereka inginkan. Sekar hanya bisa menunduk, menyembunyikan perasaan getir yang kerap menyesakkan d**a, sembari bertanya dalam hati mengapa hidup terasa begitu tidak adil. Berbeda dengan mereka, Sekar harus pandai membagi waktu. Pagi hari ia berangkat sekolah dengan kaki yang masih pegal, lalu sepulangnya ia segera menuju kebun untuk memetik cabe. Jika ada kesempatan, ia tak segan membersihkan kandang sapi milik tetangga demi mendapatkan upah sekadar cukup untuk membeli buku atau membantu ibunya membayar kebutuhan harian. Semua pekerjaan kasar itu ia jalani dengan diam, menelan lelah dan perih, demi terus melangkah di jalan yang penuh keterbatasan. “KaIau nanti Sekar sudah kerja, Mbok. Biar aku yang bayar hutang.” Lagi-lagi Sekar bicara tanpa memandang ibunya yang terlihat sedih. “Kapan, Nduk? Masih lama, kan? Sedangkan Ndoro Ayu sudah menagih berkali-kali.” Sekar menghela napas panjang, konsentrasinya terganggu karena pembiacaraan dengan sang ibu. Apalagi suara ibunya makin lama makin lemah dan sedih. Dia sudah tahu kalau keadaan keluarganya sangat miskin. Bahkan saat ayahnya sakit, hutang mereka pada Ndoro Hardjo—orang terkaya di kampungnya—makin menumpuk. Selain untuk biaya makan sehari-hari juga biaya berobat sang ayah dan SPP sekolahnya. Mata gadis berkulit kuning langsat itu meredup, seakan cahaya di dalam dirinya ikut padam. Bulu mata lentiknya berkedip pelan, menahan letih dan kecewa setelah percakapan singkat dengan sang ibu. Rambut lurus sebahunya yang diikat sederhana dengan kuncir kuda tak mampu menyembunyikan gurat putus asa. Di hadapan buku matematika yang terbuka, ia menghela napas panjang. Bukan soal-soal sulit itu yang membuatnya nyaris menyerah, melainkan beban kehidupan yang menekan dadanya. Kemiskinan terasa bagai rantai yang melilit jiwa dan raga. Meski setiap hari mereka bekerja keras sebagai buruh, hasilnya selalu tak cukup untuk menutup kebutuhan dasar. Hutang-hutang kian menumpuk, bunganya terus menggerogoti, membuat mereka terperangkap dalam lingkaran yang tak berujung. Gadis itu tak lagi tahu harus menyalahkan siapa—dirinya, keluarganya, atau sekadar nasib buruk yang seakan mengejarnya tanpa henti. “Aku pingin jadi insinyur pertanian dan membangun daerah kita, Mbok. Apa itu salah?” desah Sekar pelan. Matanya menatap langit-langit rumahnya yang penuh debu. Mbok Garsih memandang anaknya dengan nanar. Hatinya merasa iba tak mampu membuat anak gadis semata wayangnya bahagia. Seandainya suaminya tidak sakit-sakitan, meski hidup pas-pasan dia yakin akan mampu menyekolahkan anak semata wayangnya. “Itu Tamrin, pemuda yang baik. Pegawai kelurahan dan berjanji melunasi hutang kita kalau kamu mau menikah dengannya, Nduk.” Sekar menunduk, pikirannya melayang pada pemuda berwajah persegi dengan rambut mengkilat rapi dan seragam coklat tua yang dipakainya. Berumur awal tiga puluhan, ia tahu Tamrin sangat tergila-gila padanya. Meski ia miskin tapi Sekar terkenal karena kecantikannya. Bukannya hanya Tamrin yang berminat padanya tapi banyak pemuda lain, sedangkan di pikiran Sekar hanya ada sekolah dan sekolah. “Aku belum mau menikah, Mbok. Aku akan kerja terus tiap hari untuk nyicil hutang. Tolong bilang sama Ndoro Kakung.” “Sudah, Sekar. Si Mbok sudah bicara sama Ndo Kakung dan Ndoro Sundari tapi mau bagaimana pun, hutang kita tetap bertambah.” Suara Mbok Garsih menghilang ditelan angin. Benaknya membayangkan tatapan dingin dari istri Pak Hardjo yang mereka panggil Ndoro Sundari. Wanita empat puluhan tahun yang terkenal tegas dan penuh perhitungan. Ketegasan dari Ratihlah yang membuat Pak Hardjo menagih hutang mereka tiap hari. Tidak peduli jika dia hanya janda miskin beranak satu. Hutang tetap saja hutang yang harus dibayar. Saat Mbok Garsih ingin mengatakan sesuatu pada Sekar mengenai cicilan hutang yang lain, terdengar teriakan dari pelataran. Melalui pintu yang terbuka, dia tahu siapa yang datang. “Mbok Garsih, Ndoro pingin bertemu!” Padmo, seorang laki-laki pertengahan empat puluhan dengan tubuh ceking dan selalu memakai blangkon di atas rambut gondrong kucai, menyeringai tepat di depan pintu. Matanya jelalatan memandang Sekar yang menunduk di atas meja dengan tidak peduli lalu beralih Mbok Garsih yang sekarang buru-buru berdiri dari atas dipan dan menghampirinya. “Kang Padmo, repot-repot datang kemari. Biar kami yang ke rumah Ndoro,” ucap Mboh Garsih takut-takut. Padmo tersenyum, mengelus dagunya yang berjanggut. “Ini kemauan Ndoro, harusnya kamu bersyukur, Mbok. Tidak sering seorang priyayi datang ke gubukmu.” Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki berusia pertengahan enam puluhan. Rambutnya sudah memutih sebagian, kontras dengan tubuh tambunnya yang membuat jas hitam yang ia kenakan tampak terlalu kecil dan sesak di bagian perut. Setiap langkahnya menimbulkan kesan berat, seolah tubuh besar itu dipaksa bergerak dengan penuh wibawa. Wajahnya dibingkai rambut hitam pendek yang masih tersisa, namun kulitnya tampak berminyak karena keringat yang menetes di pelipis. Meski begitu, ada guratan ketampanan yang belum sepenuhnya pudar dari usianya. Sorot matanya tajam, memancarkan kharisma seorang laki-laki tua yang terbiasa dihormati, meski tubuhnya sudah tak lagi seprima dahulu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook