“Ndoro, saya sampai kaget didatangi tamu agung.” Mbok Garsih menyeret lengan anaknya yang masih duduk di depan meja dan menghampiri Pak Hardjo, keduanya mencium punggung tangan laki-laki tambun itu.
“Garsih, berapa lama kamu menyewa rumahku?” tanya Pak Hardjo sambil mengedarkan pandangan ke seluruh rumah dan berhenti tepat di wajah Sekar yang rupawan.
“Lima belas tahun, Ndoro,” jawab Mbok Garsih pelan.
“Dan selama itu aku jarang menaikkan harga sewa karena kamu dan suamimu, Darto adalah buruh sawahku yang setia.”
Pak Hardjo kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sekar yang berdiri membisu di sisi ibunya. Sorot matanya menyipit, seolah hendak menelanjangi setiap detail dari tubuh mungil gadis itu. Rok sederhana sebatas lutut dan kaos hitam yang warnanya sudah memudar sama sekali tidak membuat pesonanya berkurang. Justru dalam kesederhanaan itulah, kecantikan Sekar tampak semakin jelas, memancar dengan polos namun menawan.
Sekar menunduk, tidak berani menatap balik tatapan yang terasa menekan itu. Jantungnya berdegup lebih cepat, entah karena gugup atau karena ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Sementara di sudut dipan bambu, Mbok Garsih hanya bisa meremas ujung jarik tuanya, berusaha menahan perasaan tak enak yang perlahan merambati hatinya. Tatapan Pak Hardjo jelas bukan tatapan biasa, dan itu membuat udara di ruangan terasa semakin berat.
“Berapa umurmu, Nduk? Seingatku, tahun lalu kamu masih kecil saat berlarian di kebunku, siapa sangka sebesar ini sekarang?”
Mbok Garsih pelan-pelan menyikut lengan anak gadisnya, menyadarkannya dari lamunan. Sekar pun mengangkat wajah, dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan laki-laki gemuk yang duduk di hadapan mereka. Pandangan itu membuat darahnya berdesir tak nyaman. Bukan tatapan penuh wibawa seorang lelaki tua, melainkan sorot mata yang terasa menusuk, liar, dan melecehkan.
Sekar mengenali jenis pandangan itu—pandangan yang jauh dari kesan kebapakan. Sorot matanya lebih mendekati kurang ajar, seolah melucuti martabatnya perlahan-lahan. Sekar menelan ludah, menunduk lagi dengan jari-jari yang meremas ujung rok. Sementara di sampingnya, Mbok Garsih menahan napas panjang, sadar benar bahwa tatapan semacam itu bisa menjadi awal dari malapetaka.
“Delapan belas tahun, Ndoro,” jawab Sekar pelan dan kembali menunduk.
Pak Hardjo mengangguk antusias, seakan umur Sekar adalah sesuatu yang membahagiakan untuknya. Dia menoleh ke arah Padmo yang kini juga memberikan anggukan antusias.
“Keluarkan, Padmo.” Pak Hardjo mengacungkan tangan ke arah asistennya yang terburu-buru membuka tas yang sedari tadi dicangklongnya. Dua lembar kertas dikeluarkan dan diserahkan oleh Padmo.
“Garsih, duduklah, aku mau bicara serius.”
Pak Hardjo menatap sekeliling hanya ada dipan dan meja kursi reyot. Di ruang kecil itu tidak ada kursi apa lagi sofa untuk duduk. Padmo yang bisa melihat apa yang diingankan majikannya, buru-buru mengambil kursi yang berada tak jauh darinya. Yang semula diduduki oleh Sekar. Setelah memastikan kursi aman untuk diduduki orang segemuk majikannya, ia menyilahkan Pak Hardjo duduk.
Sedikit berhati-hati saat mengenyakkan pantatnya karena takut kursi rusak, Pak Hardjo mengacungkan kertas ke depan Mbok Garsih dan Sekar.
“Ini catatan hutangmu dan juga sewa rumah yang belum kamu bayar selama lima tahun.”
Dengan gemetar Mbok Garsih mengambil kertas yang disodorkan padanya dan membaca angka yang tertera di atasnya. Wajahnya pucat pasi seketika, dengan gemetar ia menyerahkan kertas ke anaknya yang langsung menyambar dengan sikap ingin tahu.
Sekar membaca angka yang tertera dalam diam, dengan wajah makin lama makin muram. Tertulis jelas di sana, berapa banyak hutang beserta catatan lengkap, kapan waktu berhutang dan jumlahnya. Tanpa sadar ia mendesah, setelah tahu apa yang membuat keluarganya kelimpungan. Hutang yang tak sedikit jumlahnya.
“Ndoro bisa beri kami waktu untuk mencicil.” Mbok Garsih memohon sambil meremas-remas tangannya. Ketakutan jelas terpancar dari wajah yang mulai keriput. Benaknya berputar dalam kengerian, bagaimana kalau Pak Hardjo tidak mengijinkan mereka meninggali rumah ini. Akan kemana mereka. “Saya dan anak saya akan bekerja tiap hari, Ndoro.”
Pak Hardjo mengangguk, memandang Sekar yang terpaku menatap kertas di tangan. Berwajah cantik dengan kulit kuning langsat dan tubuh semampai, anak perempuan Mbok Garsih memang menarik minat lelaki mana pun. Jika dipikir, umur Sekar memang lebih pantas jadi anaknya tapi gadis di depannya terlalu menggiurkan jika hanya untuk dianggap anak.
Pak Hardjo berdehem. “Ada yang berminat menepati rumah ini, Garsih. Tentu saja dengan membayar sewa yang lebih tinggi.”
“Jangaan! Saya mohon Ndoro.” Bu Garsih duduk berlutut. Wajahnya memucat dan air mata nyaris runtuh. “Kami ndak punya siapa-siapa lagi. Akan kemana kami kalau diusir dari rumah ini.”
Sekar terbelalak, memandang ibunya yang berlutut. “Mbok, bangun! Jangan berlutut!”
Tegurannya tak digubris oleh sang ibu. Sekar mengulurkan tangan untuk membantu ibunya berdiri tapi tak diindahkan oleh wanita tua yang kini mulai menangis tersedu. Hatinya bagai tersasat sembilu hanya mampu melihat sang ibu tanpa bisa membantu.
Padmo yang semula berdiri di dekat pintu, kini melangkah mendekati Mbok Garsih yang menangis terduduk di lantai semen dengan banyak lobang di sana-sini. Matanya menatap perempuan yang bersimpuh sambil tersenyum culas.
“Ada cara untuk melunasi hutangmu, Garsih,” bisiknya cukup keras untuk didengar semua orang yang ada di ruangan itu.
Mbok Garsih mendongak, mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya. “Benarkah itu, Kang? Bagaimana? Apa saya harus menambah jam kerja?” ucapnya penuh harap.
Padmo terkekeh mendengar perkataan perempuan di depannya.
“Mbok, berdiri, jangan bersimpuh,” tegur Sekar sekali lagi pada ibunya. “Kita akan cari jalan keluar tanpa harus menyembah.”
Terdengar tepuk tangan dari Pak Hardjo saat mendengar perkataan Sekar. “Hebat, sungguh anak gadis dengan harga diri tinggi. Masalahnya harga diri saja tidak cukup untuk melunasi hutang 65 juta,” tegasnya dengan suara licik penuh penghinaan.
Sekar terdiam, menarik tangannya kembali.
“Kang, beri tahu saya. Gimana caranya.” Kembali tak mengindahkan teguran anaknya, Mbok Garsih memohon pada laki-laki di sampingnya yang kini menyeringai lebar.
Padmo mengelus jenggotnya. “Berbanggalah kamu, Ndoro Kakung menyukai anakmu.”
“Apa?” tanya Mbok Garsih bingung.
Melihat Mbok Garsih yang kebingungan dan Sekar yang wajahnya pucat bagai disiram es, Pak Hardjo berdiri dari kursi dan mendekati Sekar. Matanya menatap dari atas ke bawah gadis di depannya.
“Aku menyukaimu gadis cantik, menikahlah denganku dan kuanggap hutang-hutangmu lunas.”
“Tidaaak!” Teriakan keras muncul dari mulut Sekar yang mundur membentur dinding bambu. Debu berhamburan di lantai saat bambu berbenturan tubuhnya. “Saya masih muda, saya masih ingin sekolah,” tolak Sekar bertubi-tubi dan memandang Pak Hardjo yang tersenyum ke arahnya. “Tolonglah, Ndoro. Saya ndak mau menikah muda.”
“Kamu masih bisa sekolah kalau kita menikah, Nduk. Tentu saja hanya sampai SMA. Karena setelah itu, aku mau kamu sepenuhnya melayaniku,” kekeh Pak Hardjo dengan pandangan m***m, diikuti oleh Padmo.
Sekar menatap laki-laki tambun berjas di depannya. Matanya menyiratkan kekuatiran akan apa yang terjadi padanya. Dari cara laki-laki itu bicara, ia tahu jika lamaran itu serius.
Mbok Garsih yang semula berlutut di lantai, kini bangun dan merangkul anaknya. “Nduk, gimana ini?”
“Ndak gimana-gimana, Mbok Garsih. Ini jalan keluar dan kompromi bagus bagi kita semua. Aku menikahi Sekar dan hutang kalian lunas!” Suara Pak Hardjo menggelegar, memenuhi seluruh rumah. “Kamu masih bisa tinggal di sini semau kamu. Sedangkan Sekar, tentu saja bersamaku.”
Sekar merasa hatinya teriris pedih. Saat mendengar ibunya meratap sambil memeluknya dan tawa nyaring nyaris menjijikan keluar dari mulut Pak Hardjo. Laki-laki tambun itu kini terduduk memegang d**a kirinya dan keringat sebesar biji jagung mulai menuruni wajah bulatnya.
“Ndoro, awas jantung. Boleh bahagia asal jangan terlalu,” ucap Padmo mengingatkan.
Pak Hardjo mengangguk. “lya, ya. Jantungku sepertinya berdetak lebih kencang karena Sekar, Padmo.”
“Karena dia tahu gadis cantik, Ndoro.”
Mbok Garsih yang ketakutan memeluk anaknya makin erat. Air mata menuruni pipinya. Ia tahu Sekar merasa ketakutan sekarang tapi ia sendiri merasa tak berdaya. Mereka hanya dua wanita miskin yang bergantung hidup dengan Pak Hardjo.
Sekar mendongak, mengabaikan ketakutan dalam dadanya ia berkata pelan. “Bagaimana kalau saya menolak?” Suara yang keluar dari tenggorokannya sarat kegetiran.
Pak Hardjo berpandangan dengan Padmo lalu menjawab tegas. “Silahkan memilih, siapa di antara kalian yang ingin masuk penjara. Kamu atau ibumu, Sekar. Sayang sekali jika masa mudamu dihabiskan di penjara. Akan lebih baik jika menikah denganku.”
Perkataan Pak Hardjo membuat Sekar menghela napas panjang, “Lalu, bagaimana dengan Nyai Sundari, istri Ndoro. Tentu dia tidak akan senang kalau suaminya menikah lagi,” ucapnya sebagai senjata terakhir. Dia tahu jika Pak Hardjo sangat mencintai Sundari dan dua anak mereka.
Pak Hardjo bangkit dari kursi. Masih dengan tangan kanan memegang d**a kiri. Matanya yang bulat cekung menatap Sekar tanpa malu. “Itu urusanku, gadis cantik. Yang kamu lakukan hanya setuju dan datang ke pernikahan. Kuanggap semua beres tidak hanya perihal hutang keluargamu tapi juga hal lainnya.”
Suara Pak Hardjo seperti menguar di kepala Sekar. Gadis cantik itu, termenung dalam kesedihan. la merasakan tetesan air mata ibunya membasahi d**a dan bajunya bagian depan. Sebelah lengannya merangkul sang ibu, sebelah lagi berusaha menghapus air matanya sendiri. Diam-diam ia menatap benci pada dua laki-laki yang sedang tertawa tanpa henti. Sekar mengalihkan pandangannya menembus pintu yang terbuka ke arah pelataran yang kini tersiram gerimis.
’Hujan rupanya, apa alum ikut menangisi nasibku? Apa alam ikut bersedih karena aku kehilangan masa depanku.’ Sekar meratap dalam hati.
“Maafkan, si mbok, Nduk. Maaf karena semua ini harus terjadi denganmu,” ratap Mbok Garsih.
Tidak peduli meski rintik yang semula gerimis menjadi hujan lebat. Tak peduli meski sinar matahari meredup digantikan sang malam. Tak peduli meski udara menguarkan dingin menusuk tulang, hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Sekar hanya bisa berpasrah pada nasib dan kemiskinan yang membelenggu dirinya. Rasanya ingin menggugat Tuhan, apa daya dia hanya manusia biasa yang hanya mampu berpasrah.
Keesokan harinya, penduduk Desa Wingitsari dilanda kehebohan. Berita bahwa Pak Hardjo akan menikahi Sekar, kembang desa mereka, merebak bagaikan api menghanguskan alang-alang. Semua berspekulasi, semua berdiskusi, tentang gadis yang menyerahkan tubuhnya demi uang.