Resah, gelisah, dan jenuh, itu yang dirasakan Mandala saat tinggal di rumah masa kecilnya. Tak banyak hal yang ia lakukan di sini, selain makan, tidur dan bermain ponsel. Sudah seminggu berlalu dan makin hari makin merasa ia tak disukai di rumah ini.
Setelah pertengkaran waktu itu, dua saudaranya, Roro Ratri dan Pamungkas menghindarinya. Seakan-akan dia adalah orang berpenyakit menular. Begitu juga dengan sang ibu tiri. Wanita itu melihatnya bagaikan kotoran di ujung hidung yang ingin ditepiskan. Rasa jenuh yang seperti membunuh kewarasannya, sering kali ia menelepon Sahil dan berharap kembali ke Jakarta. Jawaban dari sang manajer tak urung membuat niatnya surut.
“Persoalan lo belum selesai, gossip di mana-mana. Emang nggak baca berita?” ucap Sahil saat ia menelepon terakhir kali.
Dan benar apa yang dikatakan sang manajer, wajah Mandala masih saja terpampang di berbagai majalah gosip, seakan menjadi santapan empuk bagi publik yang haus sensasi. Ia tahu, sekali saja keluar rumah tanpa penyamaran, akan ada seribu mata yang menguntit langkahnya. Setiap sudut kota seakan menjadi jebakan, memaksanya untuk tetap waspada.
Namun, di balik sorot mata keluarganya, Mandala merasa ada sesuatu yang tersembunyi. Ia yakin, mereka tahu persis masalah yang sedang membelitnya. Hanya saja, tidak ada satu pun yang berani mengungkitnya di depan Mandala. Mereka sadar, sedikit saja kata salah terucap, pukulan bisa melayang tanpa ampun.
Dengan rokok yang mengepul di tangan kanan, ia berdiri menghadap pelataran. Dengan tubuh bersandar pada jendela yang terbuka. Matanya mengawasi sosok seorang gadis yang terlihat sibuk menyapu halaman, menyiangi bunga dan mencabuti rumput. Selama seminggu ia di sini, selalu melihat gadis itu sibuk tak berkesudahan. Kadang kala membantu di dapur dan sering kali ke sawah. Sampai-sampai, Sekar terlihat lebih menyerupai pelayan dari pada istri muda ayahnya.
Ketukan terdengar dari pintu yang terbuka, tak lama terdengar suara Tarno. “Den Mas, ini kopinya.”
Mandala menoleh dan melihat Tarno membawa secangkir kopi panas. Tangannya melambai pada orang tua yang suka memakai baju hitam untuk mendekat ke jendela.
“Ada apa, Den?” tanya Tarno bingung.
“Lihat, Pak Lek. Si Sekar itu.” Mandala menunjuk pada wanita yang sedang menunduk di atas bunga. “Dia itu sebenarnya istri ayahku atau pelayan di rumah ini?”
Tarno yang tidak mengerti dengan pertanyaan anak majikannya, memandang bergantian ke arah Sekar dan Mandala.
“Ada apa dengan Mbak Sekar, Den?”
Mandala mengisap rokoknya kuat-kuat lalu mematikannya. Membuang abu ke pelataran sebelum menoleh ke Tarno.
“Dia itu istri muda. Setahuku sebagai istri muda harusnya menikmati kekayaan. Bersolek atau melakukan hal yang membuat dia senang. Bukan bekerja seolah-olah dia pelayan.”
Tarno meringis dan menggaruk kepalanya. “Anu, Den. Panjang ceritanya.”
“Maksudnya?”
“Cerita soal Mbak Sekar sampai bisa jadi istri Ndoro Hardjo dan sekarang jadi pelayan. Itu, panjaaang ceritanya.”
Mandala mengibaskan tangannya. “Udah-udah, nggak usah cerita Pak Lek. Ntar gue tanya sama orangnya langsung. Gue ada urusan sekarang.”
Tarno hanya terdiam saat melihat Mandala menyambar jaket di atas kursi dan melangkah keluar. Mengabaikan kopinya yang masih mengepul di atas meja. Melihatnya hanya berdiri diam, Mandala menoleh heran.
“Masih bengong, ayok!”
“Kemana, Den?”
“Ada penting, Pak Lek anterin gue ke sana.”
Keduanya berjalan beririang keluar kamar dan melangkah tergesa melintasi halaman menuju jalan raya. Untuk sesaat, Mandala melirik Sekar yang masih sibuk menyiram tananam. Tidak ada sapaan atau senyuman, keduanya hanya saling pandang sekilas lalu membuang muka.
Sekar menunduk, memandang bunga mawar di depannya. Merasa hatinya tidak nyaman saat bertemu Mandala. Kehadiran laki-laki itu di rumah ini, membuatnya makin merana. Kebencian atau entah apa yang ditujukkan anak almarhum suaminya, tidak ada beda dengan penghuni yang lain.
Tanpa sadar ia menarik napas panjang. Tiga tahun berlalu dan ia masih tetap merasakan, rasa bersalah dan sesal tak berkesudahan. Perlahan ia mendongak dan menatap punggung laki-laki yang perlahan menghilang di kelokan. Entah kemana perginya dia, karena setahu Sekar, kerja Mandala tiap hari hanya makan dan tidur. Sesekali terlibat pertengkaran dengan saudara tirinya. Semenjak kedatanganya dari Jakarta, rumah ini makin tidak tenang.
“Woi, jangan lama-lama nyiramnya. Sengaja, ya? Biar dibilang kerja.”
Suara sentakan dari belakang punggung membuat Sekar berjengit. Ia mengenali suara ini.
“Kalau gitu, kamu aja yang nyiram bunga ini,” ucapnya tanpa menoleh.
“Apa? Berani kamu nyuruh-nyuruh? Kamu ndak takut dimarahin sama Ibuk?”
Sekar mendesah, menoleh dan menatap sepasang mata milik Roro Ratri yang nyaris keluar. Selalu seperti ini, gadis yang berumur tiga tahun di bawahnya, menganggapnya sebagai b***k. Jika tidak ingat tentang hutang, Si Mbok dan hal lain. Ingin rasanya Sekar membungkam mulut mulut anak tirinya dengan tamparan yang kuat.
Mengabaikan raut permusuhan Roro Ratri, Sekar menjinjing penyiram bunga dan melangkah ke arah dapur. Masih terdengar gerutuan gadis di belakangnya tapi ia tak peduli. Di pikirannya ada beribu antrian pekerjaan yang harus dilakukan, dari pada sekadar mendengar ocehan gadis, yang tak bisa melakukan apa pun selain mengomel.
Di antar oleh Minten, ia pergi ke sawah. Hari ini ada panen pagi di sawah yang terletak agak jauh dari desa mereka. Motor melaju cepat menyusuri jalan beraspal dengan tananam turi di kanan kiri jalan. Sekar tak bisa naik motor, kemana-mana ia mengandalkan Minten. Sampai di sawah, pekerjaan memamen dan membuang batang padi nyaris selesai dilakukan. Beberapa pekerja menyapa ramah kedatangannya.
“Harusnya, Mbak Sekar ndak usah datang. Kami bisa sendiri,” ucap seorang laki-laki separuh baya di atas mesin pembuang batang padi.
“Ndak apa-apa, Lek. Aku juga mau lihat,” jawan Sekar sambil tersenyum.
Meninggalkan para petani dengan ikatan padi di tangan mereka, Sekar melangkah perlahan di pematang. Matanya menelusuri aliran pengairan yang tenang, sementara hidungnya menangkap aroma khas padi yang baru saja dipotong—segar, lembap, dan menenangkan. Angin sore berembus, menerbangkan helai-helai daun padi yang bergesekan, menghadirkan musik alam yang sederhana namun merdu.
Sekar menunduk, membiarkan jemarinya menyentuh tekstur tanah sawah yang lembek, dingin, dan penuh kehidupan. Ada kepuasan tersendiri yang tak tergantikan ketika ia berada di sini. Baginya, menanam padi, cabai, atau tanaman apa pun bukan sekadar pekerjaan; itu adalah kebahagiaan, dunia yang membuatnya merasa pulang.
Sore hari, terjadi insiden tak disangka saat Minten mengantarnya pulang. Motor butut yang mereka naiki mogok di jalan. Sedangkan hari mulai gelap dan jalanan mulai sepi.
“Gimana ini, Mbak. Ndak ada bengkel di sini,” ucap Minten cemas.
Sekar yang berjongkok di dekat motor dan sama sekali tidak mengerti tentang mesin, hanya bisa mendesah.
“Aku ndak bawa hape, gimana, ya?” Sekar ikut-ikutan resah. Ia bangkit dari dari tempatnya dan memandang sekeliling yang sepi. Menggigit bibir bawah lalu berucap pelan. “Aku dorong, kamu starter coba.”
Minten menggeleng kuat, “Ndak mau, mana mungkin saya biarkan Mbak Sekar ndorong.”
“Loh, kamu ini gimana? Ndak mau nginep di sini, kan?”
“Ya, ndak mau tapi masa, Mbak Sekar yang ndorong.”
Minten bangkit dari tempatnya jongkok. Meraih lengan Sekar dan meletakkannya di stang motor. “Gini aja, Mbak yang bawa. Saya yang ndorong.”
“Loh, kamu ini gimana? Aku, ndak bisa bawa motor.”
Keduanya asyik berdebat sampai tidak menyadari ada sebuah motor mendekat. Saat terdengar suara klakson motor, keduanya berjengit kaget. Di atas motor besar hitam, yang terlihat masih baru. Duduk di atasnya, Mandala dan Tarno. Kedua laki-laki itu menatap Sekar dan Minten.
Lalu, tanpa disuruh, Tarno turun dari boncengan dan bertanya. “Mbak Sekar, ada apa sama motornya?”
“Syukurlah, Lek. Ini motor kami mogok.” Minten menjerit senang sambil menunjuk motornya.
Sementara Tarno jongkok depan mesin sambil bergumam dengan Minten di sebelahnya, Sekar melirik ke arah pengendara motor besar. Entah dari mana Mandala mendapatkan motornya. Terlihat besar dan mahal. Sekar mengalihkan pandangannya ke sawah-sawah. Mengindari tatapan Mandala padanya.
“Wah, ini rusak parah. Setahu aku, bengkelnya agak jauh dari sini.” Tarno bangkit dari duduknya dan bicara ke arah Sekar.
“Trus, bagaimana Pak Lek?” tanya Sekar balik.
Untuk sejenak Tarno kebingungan, matanya beralih dari Sekar ke Mandala yang masih bergeming di atas motornya.
“Begini, ini jalan satu-satunya. Mbak Sekar ikut Den Mas pulang dan saya sama Minten bawa motor ini ke bengkel.”
“Ndak mau!”
“Ogah!”
Baik Mandala mau pun Sekar menyahut bersamaan. Lalu keduanya saling melotot tidak suka. Melihat hal itu, Tarno makin dibuat bingung. Ia berpandangan dengan Minten lalu berucap pelan ke arah Mandala.
“Loh, gimana toh ini. Masa kita berempat nunggu motor rusak?”
Tak ada jawaban, dengan terpaksa Tarno menghampiri Mandala dan memohon. “Tolonglah, Den Mas. Kasihan Mbak Sekar kalau harus jalan kaki barengan kami. Dia sudah capek kerja seharian dan bengkelnya jauh.”
“Lek Tarno, jangan gitu. Aku bisa jalan kaki,” sela Sekar dengan ketus.
Mandala menunjuk Sekar. “Tuh, kan. Lo lihat sendiri Lek, belagu banget tuh nyokap tiri gue.”
“Apa katamu?” Sekar berkacak pinggang ke arah Mandala.
“Nyokap tiri, emang gitu kan status lo.”
Keduanya berpandangan dengan sikap permusuhan. Setelah dibujuk oleh Tarno dan Minten selama beberapa menit, dengan berat hati, Sekar setuju pulang bersama Mandala. Mandala sendiri, meski menggerutu akhirnya membiarkan gadis yang menjadi ibu tirinya naik ke boncengan belakang motor barunya.
Diterpa angin senja dengan bias cahaya temaram, motor melaju cepat. Burung-burung terbang pulang ke sarangnya, melintas di area pesawahan yang menguning. Saat motor mengalami goncangan, tanpa sengaja, tangan Sekar menggenggam jaket yang dipakai Mandala. Sunyi tanpa kata, keduanya melaju di atas motor dalam diam.