Setelah acara lamaran yang digelar dengan meriah, persiapan untuk pernikahan pun berlangsung lebih megah lagi. Hajatan itu direncanakan berlangsung tiga hari tiga malam, sebuah pesta besar yang membuat desa seakan tak pernah tidur. Dari berbagai penjuru daerah, kesenian didatangkan untuk memeriahkan acara—mulai dari reog yang gagah, ronggeng yang gemulai, hingga pagelaran wayang kulit yang memikat hati penonton.
Suasana desa penuh semarak, lampu-lampu minyak dipasang berderet, suara gamelan mengiringi tawa dan sorak gembira para tamu. Semua orang larut dalam sukacita, seolah pesta itu menjadi milik mereka juga. Mereka berbahagia menyaksikan pernikahan Pak Hardjo dengan istri barunya yang muda dan jelita, tanpa benar-benar peduli pada getir yang tersembunyi di balik senyum pengantin perempuan.
Dari semua orang yang berbahagia, ada dua orang yang jelas-jelas menunjukkan rasa permusuhan. Mereka adalah Ndoro Sundari dan anak perempuannya yang dua tahun lebih muda dari Sekar bernama Roro Ratri. Keduanya menolak untuk mengikuti acara ijab kabul dan tetap bertahan di kamar sampai acara selesai. Saat Sekar digiring masuk ke dalam kamar pengantin untuk berganti baju, ia mendengar gumaman keras yang dibisikan Roro Ratri ke kupingnya. “Dasar, l***e!”
“Sekaaar, Sayang. lni suamimu. Buka pintu!”
Suara gedoran di pintu membuat Sekar berjengit kaget. la menoleh ke arah suara laki-laki yang berteriak di depan pintu.
“Sekaaar, buka pintunya!” Suara Pak Hardjo mengatasi keriuhan gamelan. “Kalau kamu ndak mau buka pintu ini istriku, aku kan mendobraknya. Kuhitung sampai tiga. Satu ... dua ...”
Dengan gugup Sekar melangkah mendekati pintu dan membukanya. Ia menatap Pak Hardjo, laki-laki yang sepantasnya jadi ayah tapi kini menyandang gelar sebagai suaminya. Aroma alkohol tercium menyengat dari mulut Pak Hardjo yang sedang tersenyum dan berdiri sempoyongan.
“Istri cantikku, sekarang adalah malam pertama kita dan kamu bersembunyi di dalam kamar?” Pak Hardjo mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Sekar dan ditepiskan oleh gadis di depannya.
“Saya ingin istirahat, Ndoro,” ucapa Sekar pelan. Matanya memandang lorong kamarnya yang sunyi. Dia bertanya-tanya kemana perginya orang-orang di rumah ini.
“Hah, omong kosong. Kamu istriku dan harus dengan aku pula kamu beristirahat.” Dengan satu sentakan kuat, pintu menutup di belakang Pak Hardjo. Laki-Iaki itu menyeruduk masuk dan memandang Sekar yang berdiri ketakutan di tengah kamar. Entah kenapa hasrat kelelakiannya tergugah. Saat ia melihat Sekar dalam balutan kebaya pengantin, air liurnya sudah mentes tak terkendali. Pesta dan seremoni pernikahanlah yang menahannya.
Siang tadi, saat ucapan ’sah' terdengar dari orang-orang yang menjadi saksi pernikahan mereka, Pak Hardjo merasa harga dirinya terangkat naik. Dia seorang laki-Iaki di ujung senja yang berhasil menyunting gadis cantik nan jelita. Rasa bangganya membuat hasratnya untuk memiliki Sekar makin besar.
“Ayo, Sayang. Buka kebayamu,” ucap Pak Hardjo dengan tangan mengelus lengan Sekar.
“Maaf, Ndoro. Sa—saya ndak bisa,” tolaklenar dengan panik. Berusaha mundur untuk menghindari tangan suaminya.
“Ndak bisa gimana maksud kamu?”
Sekar meremas tangannya yang gemetar. “Anu, Pak. Sa—saya lagi haid.”
Wajah Pak Hardjo memerah saat mendengarjawaban Sekar. Matanya melotot tak percaya.
“Halah, omong kosong itu. Pasti kamu sengaja ingin membohongiku, kan?”
“Ndak, Pak. lni serius.” Kembali Sekar berkata sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Hardjo maju dua langkah, Sekar reflek mundur hingga badannya menyentuh pinggir ranjang besi. Tatapan lapar Pak Santro menyapu tubuh Sekar.
“Kamu tahu, kan? Kalau kamu sudah sah jadi istriku?” ucap Pak Hardjo dengan napas tersengal. Aroma alkohol keluar dari mulut dengan keringat mengucur deras membasahi dahi dan tubuhnya.
Bau tubuh Pak Hardjo membuat Sekar mual. “Iya, Pak. Saya tahu,” jawabnya dengan suara gemetar.
Pak Hardjo mengangguk. “Bagus kalau kamu tahu, ayo! Buka baju sekarang!”
“Jangan, Ndoro!”
“Halah, kebanyakan omong. Kamu itu sudah sah jadi milikku!”
Sekar menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Seolah menahan kebayanya agar tak terbuka. Jantungnya bertalu-talu menatap laki-Iaki tua yang terlihat marah dan beringas di depannya. Sesaat ia tergoda untuk berteriak minta tolong tapi segera dia tepiskan keinginnan itu karena pasti lucu bagi orang-orang, seorang pengantin berteriak ketakutan di malam pertamanya.
“Ndoro, saya mohon kali ini saja. Dosa,” rintih Sekar dengan suara halus membujuk.
Belum sempat Sekar menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan melayang di pundaknya. Cukup keras hingga membuatnya terkaget. Pak Hardjo seakan tak peduli melihatnya ketakutan dan kesakitan, laki-laki itu berusaha menarik lepas kebaya yang dipakai Sekar.
“Lepasakan, kebaya sialan ini! Cepat! Atau aku akan merobeknya!”
Sekar berkelit, hampir terjerembab karena jarik yang ia pakai mempersempit langkahnya. Tak lama ia kembali meringis kesakitan saat tangan Pak Hardjo berhasil meraih konde yang ia pakai dan menarik paksa hingga terlepas.
Konde terjatuh di lantai dengan berbagai hiasan yang semula menancap di sana kini jatuh berserak di lantai. Kepala Sekar berdenyut-denyut nyeri. Tarikan paksa di rambutnya menambah kesakitan.
“Ndoro, tolong. Jangan seperti ini?” mohon Sekar dengan mata basah dan rasa takut yang menjalar di setiap senti tubuhnya. “Saya sedang haid, Ndoro.”
Lagi-lagi, ucapan Sekar hanya berbalas dengan dengkusan kasar dari Pak Hardjo. Laki-laki tambun itu kian mendekat, langkahnya berat namun mengancam, seperti bayangan gelap yang siap menelan cahaya. Tangannya terulur, mencoba merengkuh tubuh rapuh Sekar dalam pelukan yang memaksa, bibirnya bergerak hendak merebut sesuatu yang bukan haknya.
Sekar menggigil, air mata membasahi pipinya, namun hatinya menolak tunduk. Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia mendorong tubuh besar itu sekuat mungkin. Pak Hardjo terhuyung, nyaris terjengkang, wajahnya memerah antara terkejut dan murka. Dalam sekejap, kamar itu berubah menjadi medan perlawanan sunyi—antara kekuasaan yang menindas dan keberanian yang dipaksa lahir dari ketakutan.
“Dasar perempuan laknat! Sudah bagus aku menolongmu tapi tetap saja kamu tak tahu diri!”
Pak Hardjo terengah, napasnya memburu seakan ada bara yang membakar dadanya. Tangannya menekan kuat d**a sebelah kiri, wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menegang. Namun di balik penderitaan itu, matanya tetap menyala garang, menatap Sekar dengan amarah yang berbalut nafsu berkuasa. Rambut Sekar yang awut-awutan, kebaya hitam yang sobek di lengan, menjadikannya sosok rapuh yang tersudut di ruang pengap itu.
Dengan gerakan liar, bagaikan banteng terluka yang kehilangan akal, Pak Hardjo merenggut lengan Sekar. Tubuh mungil itu didorong ke ranjang, membuat kayunya berderit nyaring. Teriakan dan tangisan Sekar pecah, menggema di antara dinding kamar yang bisu, seakan langit pun enggan mendengar kepedihan yang merenggut kebebasannya.
“Jangan, Pak. Saya mo—mohon.” Sekar mengalihkan wajahnya, menghindari wajah laki-laki tua yang ingin menciumanya.
Bobot tubuh Pak Hardjo di atas tubuhnya membuat napasnya sesak. Sebuah pukulan melayang ke pipinya dan membuat Sekar menjerit kesakitan. Tangan Pak Hardjo bergerak cepat untuk merenggut kebaya Sekar hingga robek di bagian d**a. Memanfaatkan kesempatan, Sekar mendorong Pak Hardjo dan menggunakan dengkulnya yang terbebat jarik ke arah kemaluan suaminya.
Saat Pak Hardjo lengah dan perhatiannya teralihkan karena perbuatannya, Sekar mendorong laki-laki tua itu dengan sekuat tenaga. Pak Hardjo terguling ke samping. Sekar buru-buru bangkit dari ranjang dan terjatuh di lantai. Sempat ia dengar sumpah serapah dari Pak Hardjo sebelum akhirnya laki-laki itu bangkit dari ranjang untuk menghampirinya.
“Jadi, kamu ingin dikasari gadis tak tahu malu? Kamu ingin diperkosa dari pada melayani suamimu baik-baik?” Bagaikan benteng marah, Pak Hardjo menyerbu ke arah Sekar yang menangis di pojokan kamar.
Tanpa disadari Pak Hardjo, ada sebuah tusuk konde yang tercecer di lantai dan menusuk kakinya. Kesakitan membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh berdebam di lantai kamar yang keras.
“Ka—kamu.” Pak Hardjo merintih sambil memegang jantungnya.
Sekar panik sekarang, saat melihat suaminya tersengal di lantai. “Ma—maaf, Ndoro. Sa—saya panggil bantuan,” ucap Sekar terbata. Tangannya terulur untuk meraih Pak Hardjo namun ia urungkan. Bergegas melangkahkan kaki menuju pintu. Pak Hardjo meringis dan merintih.
“Tolong ... tolong!” Sekar berteriak nyaring mengatasi suara gamelan. “Tolong siapa pun yang di sana!”
Seorang perempuan setengah baya dalam balutan kebaya coklat keluar dari kamar di depannya dan memandangnya heran.
“Ada apa kamu teriak-teriak?”
Sekar menjawab terbata. “Ndoro Putri, tolong Ndoro Kakung.” Ia membuka pintu lebar-lebar dan menyilahkan Bu Sundari masuk ke dalam kamarnya.
“Paake, ada apa Paaak!” jeritan Bu Sundari terdengar melengking menembus keriuhan pesta.
Gamelan dan hiburan dihentikan. Semua orang berhamburan ke kamar pengantin dan melihat Pak Hardjo yang tergeletak di lantai terkena serangan jantung. Sementara sang istri tua terisak di sampingnya, Sekar hanya menatap nanar dengan tubuh memar dan kebaya robek. Malam itu, pesta pernikahan berganti menjadi pesta duka cita.
Tangisan terdengar di seantero rumah besar saat tahu sang tuan besar meninggal dunia. Gunjingan dan tuduhan diarahkan ke Sekar, sebagai istri muda yang membawa bencana. Belum usai pesta diadakan, sang pengantin pria terkapar tak bernyawa. Mereka bahkan tanpa segan menuduh jika Sekar mengguna-guna suaminya.
Berdiri diam di sudut kamar dengan pakaian pengantin yang terkoyak, Sekar merasa jika lintasan takdir begitu kejam menghukumnya.