Aku mendengar suara sangat berisik di seberang telepon, seperti suara motor yang sedang melaju kencang di sirkuit. Aku juga mendengar suara mesin yang meraung-raung, dan teriakan penonton yang memanggil-manggil nama Refas.
"Riana, cepat apa yang terjadi!" Suara Kak Refas terdengar panik, dan sambil berteriak karena suara latar belakang membuat suara Kak Refas tenggelam oleh kebisingan.
Aku merasa jantungku berdetak kencang, "Kak, apa kamu sedang balapan lagi?" tanyaku, mencoba menebak apa yang sedang dilakukan Kak Refas.
Suara Refas terdengar sedikit tertahan, "Riana, jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan, apa Galih jahat sama kamu?" tanyanya dengan tidak sabar.
Pikiranku melayang ke Mas Galih, tapi kekawatiranku sekarang beralih ke keselamatan Kak Refas. Aku tidak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Aku hampir kehilangan Kak Refas karena hobi balapannya.
"Kak, berhenti sekarang juga! Aku tidak ingin kamu terluka lagi," kataku, mencoba membujuk Kak Refas dengan suara yang lembut.
Tapi Kak Refas hanya tertawa, "Riana, aku tidak akan kenapa-kenapa," katanya dengan santai.
"Ya sudah, kalau tidak ada hal yang penting. Teman-temanku sedang menunggu," tambahnya.
Aku tahu dia hendak mematikan teleponnya, "Kak, tolong," teriakku sebelum Kak Refas menutup teleponnya.
Dan, benar saja kakakku tidak jadi mematikan teleponnya. Dia akan menjadi garda terdepan saat aku mengantakan tolong.
"Kirim lokasi kamu sekarang juga, Riana!" teriaknya dengan tegas.
Aku mematikan telepon Kak Refas, lalu mengirimkan lokasiku. Aku berharap Kak Refas segera sampai di sini dan menghentikan balapannya. Aku menunggu di halte bus dengan gelisah, sampai Motor sport Ducati Panigale V4R berhenti tepat di depanku, dengan suara mesin yang masih meraung. Aku mengenali motor itu, itu adalah motor balap milik Kak Refas yang harganya mencapai miliaran rupiah.
Kak Refas melepas helm balap yang menutupi wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang tampan tapi terlihat sedikit kusut. Dia memakai pakaian balap Alpinestars GP Tech yang ketat dan kotor oleh debu sirkuit.
Aku berdiri dari dudukku dan menatap wajah kakakku dengan mata berkaca-kaca, mencoba menahan air mata. "Kak," panggilku dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Kak Refas melepas sarung tangan balapnya, dan dia turun dari atas motornya dengan gerakan yang gesit. Kak Refas kemudian merentangkan kedua tangannya, aku langsung menubruk tubuhnya dan menangis dalam pelukannya melepaskan rasa sakit menyesakan d**a.
Kak Refas membalas memelukku dengan erat, rasanya aman dan terlindungi. Beberapa pengendara motor yang lewat, melihat ke arah kami dengan rasa ingin tahu, dan beberapa ada yang mengabadikan dengan ponsel mereka.
Aku tidak perduli, mereka berpikiran seperti apa. Dengan pakaian yang aku kenakan daster lusuh dan tidak memakai alas kaki, bisa berpelukan dengan pria tampan kaya, pembalap motor.
Tiba-tiba, aku mendengar suara sirine mobil polisi yang akan melintas di depan kami. Kak Saga sepertinya sengaja memelankan mobil polisi saat akan melewati aku dan Kak Refas, karena di dalam mobil itu ada Mas Galih, Lola, ibu, dan Kak Maya.
Benar saja, mata mereka melotot di balik kaca begitu melihatku sedang berpelukan dengan Kak Refas. "Riana!" teriak Mas Galih di dalam mobil polisi, terlihat wajahnya memerah karena marah.
Aku membuang pandanganku, lalu melepaskan pelukan kakakku dan menatap wajah tampan kakakku yang disinari cahaya matahari. "Ayo kita pergi," ajak Kak Refas sambil mengacak-acak rambutku dengan penuh kasih sayang, aku merasa seperti anak kecil saat bersamanya.
Mobil polisi sudah menjauh, Kak Refas memberikan helm cadangannya yang ditaruh di belakang jok. Kakakku juga memakaikan helm ke kepalaku dengan hati-hati, memastikan aku aman dan nyaman.
Aku kemudian naik di jok motor. Dulu, aku dan Kak Refas sering naik motor ini, menjelajahi kota dengan bebas dan tanpa beban.
Walau kakakku sibuk dengan Refas Jewels, dia sering menyempatkan untuk menjemputku pulang sekolah, dan banyak teman sekolahku yang iri karena aku memiliki kakak yang sangat tampan. Terkadang mereka juga menitip salam untuk kakakku, tapi sikap kakakku sangat cuek terhadap wanita.
Aku sungguh malu dengan Kak Refas, karena keras kepalaku dan menantangnya, sekarang hidupku hancur. Aku yang baru mengenal cinta, dengan mudah mengorbankan hidupku yang sempurna, bagi semua orang aku beruntung, tapi buatku membosankan.
Aku memeluk pinggang Kak Refas dengan erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang membuatku merasa aman. Kak Refas menggeber motornya dengan kecepatan tinggi, angin berhembus kencang dan rambutku terbang ke belakang.
Aku menutup mata, merasakan kebebasan dan kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan ketika aku bersama Kak Refas. Kak Refas membawaku ke sebuah apartemen mewah, aku terkejut dia tidak membawaku ke rumah yang penuh kenangan keluarga kami.
Motor berhenti di parkiran apartemen, aku menatap bangunan tinggi itu dengan rasa penasaran. "Kak, kamu tinggal di apartemen? Kenapa tidak di rumah kita?" tanyaku, ingin tahu alasan kakakku.
"Untuk apa aku pulang ke rumah, tidak ada siapa-siapa," jawabnya seraya membuka helmnya.
Aku melakukan hal yang sama, lalu turun dari atas motornya dengan gerakan yang pelan. Kak Refas menggandeng tanganku, seperti anak kecil takut hilang dari pandangannya.
Aku tidak akan melawan kakakku lagi, sekarang aku akan mengikuti semua perkataannya, karena di dunia ini yang aku punya hanya Kak Refas. Dia bukan hanya kakakku, tapi juga orang tua buatku, yang selalu ada untukku sejak mama dan papa meninggal.
Mama dan papa sudah lama meninggal, dalam sebuah kecelakaan pesawat yang menghancurkan hidup kami. Kami menjadi yatim piatu saat Kak Refas baru lulus kuliah, dan sejak itu, Kak Refas menggantikan peran menjadi orang tua buatku, memberikan aku cinta dan kasih sayang. Bahkan, dia tidak sempat dekat dengan wanita manapun demi untuk menjagaku.
Di lantai 4, Kak Refas membuka pintu Apartemennya. Aku melangkah masuk, dan terkejut ada lukisan yang aku buat saat aku kecil di ruang tamu, dengan warna-warna cerah dan garis-garis yang tak terlalu rapi.
Aku melukis diriku dan Kak Refas sedang bergandengan di sebuah taman bermain, dengan matahari yang bersinar terang dan bunga-bunga yang mekar indah. Seketika membuat air mataku merebak di kedua mataku, mengingat kenangan indah itu yang tak pernah aku lupakan.
Kak Refas mendekatiku, dan memelukku erat, "Aku selalu menyimpannya, Riana," bisiknya di telingaku, membuatku terharu.
Aku kembali menangis, menyalahkan diriku karena lebih memilih pria pengkhianat seperti Galih dan meninggalkan Kak Refas. "Kak, aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi," kataku dengan suara bergetar.
Setelah puas menangis, Kak Refas membimbingku duduk di sofa, wajahnya seketika berubah menjadi keras dan murka. "Riana, katakan apa yang Galih lakukan sama kamu, sampai kamu seperti ini?" tanya Kak Refas melihatku dari ujung kaki dan kepala, suaranya yang dalam sedikit membuatku takut.
Aku menunduk, dan menceritakan semuanya tidak ada yang aku tutupi selama menikah 2 tahun dengan Galih Wiguna. Aku menceritakan bagaimana Galih mengkhianatiku, bagaimana dia menyakitiku, dan bagaimana keluarganya menjadikan aku pembantu.
Kak Refas terlihat akan meledak, wajahnya merah karena amarah, matanya berubah menjadi tajam dan ganas. Dia menggebrak meja dengan keras, membuat aku terkejut,
"Kurang ajar! Aku akan membunuh Galih! Bisa-bisanya dia menyakiti orang yang aku sayangi segenap jiwa dan ragaku," geram Kak Refas.
Kak Refas berdiri, tangannya terkepal dengan rahang mengeras, urat-urat lehernya menonjol karena emosi yang tak terkendali. Matanya tajam, seakan ingin menerkam siapa saja. "Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang," katanya, lalu berbalik hendak berjalan keluar dari apartemen.
Aku langsung mencegahnya, dengan menarik tangan Kak Refas. "Kak Refas, tunggu." Mencoba menenangkan kakakku, aku tidak mau Kak Refas disana memukuli suami pengkhianat itu sampai mati, karena aku tahu seperti apa kakakku ketika marah.
"Riana, aku harus memberi dia pelajaran karena sudah menyakiti kamu. Dia hidup dari uang yang aku berikan, tidak akan aku biarkan dia lolos begitu saja!" ujar Kak Refas dengan suara yang dalam dan penuh amarah, wajahnya merah karena emosi, hidungnya yang mancung terlihat lebih tajam karena kemarahan.
"Maksud kakak?" tanyaku bingung, mencerna perkataan Kak Refas.
Kak Refas menghela nafas kasar, mencoba menenangkan dirinya, "Riana, aku tau Refas itu miskin. Dia tidak bisa memberikan apa-apa untuk kamu, maka dari itu supaya hidup kamu tidak menderita aku membeli rumah, mobil untuk kamu tapi melalui perusahaan supaya kamu tidak menolak. Aku juga menaikan gaji Refas lebih tinggi dari yang lain, supaya kamu tidak kekurangan. Tapi, lihat keadaan kamu... melebihi seorang pembantu," ungkap Kak Refas dengan penuh kesedihan dan kemarahan.
"Jadi, rumah mewah, mobil mahal yang dia banggakan ternyata pemberian dari Kak Refas?" ulangku.
"Iya, Riana. Rumah dan mobil itu semuanya nama kamu," jawab Kak Refas. "Sertifikat dan surat-surat kendaraan juga atas nama kamu ada di tanganku," jelas Kak Refas.
Aku tersenyum lebar, semakin banyak rencana untuk membalas mereka yang telah menyakitiku. Aku menarik tangan Kak Refas untuk duduk kembali, mencoba menenangkan kakakku yang masih terlihat marah.
"Riana, kenapa kamu tidak mau aku membalas mereka," ujar Kak Refas, masih penuh dengan kemarahan.
"Kak, aku ingin membalas mereka dengan caraku sendiri," kataku, mencoba menyakinkan kakakku. "Kakak harus percaya denganku, mereka harus merasakan apa yang aku rasakan sampai mereka untuk bernapaspun rasanya sakit." Aku menatap mata Kak Refas, mencoba membuatnya menyetujui rencana yang ada di pikiranku.
Kak Refas menatapku dengan mata yang penuh dengan kekaguman, "Kamu sudah dewasa, Riana," katanya, suaranya yang lembut membuatku merasa bangga. "Aku percaya kamu, lakukan apa yang kamu ingin lakukan."
Aku langsung memeluk Kak Refas. "Terima kasih, Kak."
"Tapi, ada satu syarat ...." Kak Refas menggantung ucapannya. Aku melepaskan pelukanku ke tubuh gagahnya, menatap bingung.
"Kak, kenapa harus ada syarat segala," kataku dengan ekspresi manja.
Kak Refas mencubit pipiku dengan gemas. "Syaratnya kamu kembali ke perusahaan, menjadi kepala Desain perhiasan Refas Jewels, aku tahu semua gambar desain yang dibuat oleh Galih itu milik kamu. Jadi, kalau kamu ingin aku tidak ikut campur membalas Galih, kamu harus kembali ke perusahaan," tekannya.
Untuk kali ini aku tidak akan menolak lagi. Lalu, aku mengangguk cepat. Aku akan menyingkirkan Mas Galih dari posisi Kepala Desain perhiasan Refas Jewels.