"Aku tidak mau tanda tangan!" tolak Mas Galih dengan tegas. Aku sudah memprediksi pria itu akan menolak, tapi aku sudah punya cara lain untuk dia tanda tangan.
Aku tersenyum miring. "Terserah kamu, Mas. Kalau kamu tidak tanda tangan, aku akan menuntut kalian berdua dengan pasal perzinahan. Dan, kamu tahu hukumannya apa? Bukan hanya terjerat hukum, kamu dan Lola akan malu. Kepala Desainer Perhiasan Refas Jewels, melakukan tindak asusila di dalam mobil," kataku dengan santai, seraya memandang Mas Galih dengan mata yang dingin.
Mas Galih tersentak kaget, wajahnya berubah menjadi pucat. Aku tahu dia sangat peduli dengan reputasinya di kantor, dan aku menggunakan itu untuk melawan dia.
Mbak Maya terlihat penasaran dan kesal dengan sikap adiknya. "Galih, kenapa kamu tidak tanda tangan saja? Memangnya, apa isi perjanjian itu?" tanya Mbak Maya terlihat tidak sabar.
"Iya, Galih, tanda tangan saja. Riana sudah tahu tentang kamu dan Lola, tidak perlu bersembunyi lagi," kata ibu mertuaku seraya menatap sinis kearahku.
Lola merebut kertas perjanjian dan membacanya dengan serius. Wajahnya berubah menjadi kaget, matanya melebar, dan mulutnya menganga, "Riana, kamu gila! Gaji Mas Galih mau kamu ambil semua!" sentak Lola, seakan dia istri sah Mas Galih dan aku selingkuhan yang tidak berhak dengan gaji suamiku.
Aku tersenyum tipis melihat wanita itu seperti kebakaran jenggot, dia takut biaya untuk perawatan salonnya hilang karena uang Mas Galih dipegang olehku. Sebenarnya, aku tidak membutuhkan gaji Mas Galih. Aku hanya ingin memberikan mereka pelajaran berharga dan efek jera.
"Kenapa kamu marah? Dia suamiku, wajar aku meminta gajinya. Selama ini, desain-desainku dipakai untuk menaikkan jabatannya," kataku.
"Enak saja, kamu mau mengambil seluruh gaji putraku!" bentak Ibu mertuaku murka.
Mbak Maya juga emosi, wajahnya yang putih berubah menjadi merah, "Iya, Riana, kamu keterlaluan! Gaji adikku diambil semua, lalu buat kami apa?" Dia mengepalkan tangannya, seolah-olah ingin memukulku. "Kamu tidak akan bisa melakukan ini, Riana!"
Aku mengangkat bahuku dengan acuh, aku tidak perduli dengan amarah kakak iparku. "Terserah, kalau pilihannya tidak mau tanda tangan. Kalian pasti tahu akibatnya," kataku santai, tapi tegas.
Mas Galih terlihat panik, wajahnya yang sudah pucat semakin memucat. "Riana, kita suami istri. Kalau kamu melaporkan aku ke kantor polisi, gimana dengan karierku. Aku bisa dipecat, dan aku tidak bisa menafkahi kamu lagi," ucapnya dengan nada yang memohon.
Aku tersenyum miris, mengingat kembali semua yang telah terjadi. "Mas, memangnya selama ini kamu memberi aku nafkah? Yang kamu berikan uang satu juta setengah itu, untuk makan kalian saja. Sedangkan, kalian menganggapku seperti pembantu. Harus mengerjakan pekerjaan rumah dari pagi sampai malam, pembantu saja di gaji. Kamu lihat untuk membeli baju saja aku tidak bisa," kataku, mencoba membuat Mas Galih sadar akan kesalahannya.
Ibu mertuaku mengeram kesal. "Heh, Riana. Kamu seharusnya bersyukur sudah dinikahi putraku yang tampan dan kaya, sudahlah jangan macam-macam. Kalau Galih menceraikan kamu, mau kamu jadi gembel tinggal di jalanan!"
Aku tertawa geli, mendengar perkataan ibu mertuaku yang begitu keterlaluan. "Bu, aku harus bersyukur?" Aku menunjuk diriku dengan jari, mencoba menahan rasa marah.
"Iyalah, kamu itu miskin. Bercerai dengan Galih, kamu pasti jadi gelandangan," sahut ibu, seolah-olah dia sudah memprediksi masa depanku.
Aku menggelengkan kepala pelan, tidak habis pikir kenapa aku bodoh selama dua tahun tinggal dengan orang-orang jahat seperti mereka. "Harusnya putra ibu yang bersyukur mendapatkan aku. Coba tanya anak ibu, dia naik jabatan karena memakai desain gambarku. Kalau aku berhenti menggambar desain untuknya, pastinya dia akan dipecat," ungkapku tegas dan penuh percaya diri.
Mas Galih menggelengkan kepala dengan panik, dan terlihat ketakutan. Pria itu tidak bisa menggambar sebagus punyaku. Dia tahu kemampuannya, kalau aku berhenti menggambar desain untuknya pasti Kak Refas akan memecatnya. "Tidak, Riana. Kamu jangan lakukan ini. Ok, aku akan tanda tangan," balasnya dengan cepat, seakan dia ingin mengakhiri drama ini secepat mungkin.
Mata ibu mertuaku melotot ke arah anaknya, lalu dia menepuk pundak putranya dengan keras. "Stop! Galih, ibu tidak setuju kamu tanda tangan perjanjian itu. Ibu tidak rela uang gaji kamu dikuasai Riana!"
Saga yang berdiri di sampingku wajahnya sudah memerah, tapi dia menahannya. Dia profesional, karena saat ini dia sedang menjalankan tugasnya.
"Bu, nanti kita bicarakan di rumah. Aku akan jelaskan semuanya," ucap Mas Galih lembut, mencoba menenangkan ibunya.
"Tidak, Galih. Kakak tidak terima, kamu memberikan gaji kamu untuknya," potong Mbak Maya dengan marah.
"Iya, Mas. Kalau kamu memberikan uang gaji ke istri kamu, gimana dengan perawatan salonku, beli tas branded untukku," protes Lola dengan manja.
Aku tersenyum puas dalam hati, sekarang Mas Galih dirong-rong oleh wanita yang dia sayangi. "Diam!" teriak Mas Galih dengan suara keras membuat mereka semua terdiam.
"Dari tadi kalian hanya memikirkan uang, kenapa kalian tidak mau mengerti posisiku!" tambahnya dengan frustrasi seraya meremas rambutnya.
"Galih, kenapa kamu harus takut dengan Riana. Kamu itu lulusan desain, kamu bisa menggambar sendiri desain kamu. Riana itu hanya lulusan SMA, gambarnya pasti lebih bagus kamu," ucap Mbak Maya mengejekku.
Wanita itu tidak tahu kalau aku adalah lulusan Desain Perhiasan Terbaik dari Parsons School of Design, New York, salah satu universitas desain paling bergengsi di dunia. Aku mengambil spesialisasi Desain Perhiasan dan berhasil lulus dengan predikat c*m laude.
Aku tersenyum dalam hati, mengingat kembali masa kuliahku yang penuh dengan inspirasi dan kreativitas. Aku pernah menjadi asisten dosen di universitas itu, dan bahkan beberapa desain perhiasanku pernah dipamerkan di Museum of Arts and Design, New York.
Aku tidak bisa menahan tawaku, "Mbak, kamu salah besar. Aku bukan hanya lulusan desain, tapi aku adalah lulusan Desain Perhiasan Terbaik dari Parsons School of Design, New York," kataku dengan santai.
Mereka semua terdiam sejenak, tapi tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan Mbak Maya sampai memegang perutnya. "Riana, kamu sedang bermimpi? Lulusan terbaik Parsons School of Design? Ha! Kamu pasti hanya mengada-ada," kata Mbak Maya dengan nada yang penuh ejekan, seraya mengibaskan tangannya.
Ibu mertuaku menghentikan tawanya. "Iya, Riana. Kamu tidak mungkin bisa masuk ke universitas sekelas itu. Kamu pasti hanya lulusan SMA yang tidak bisa apa-apa," ucap ibu mertuaku.
Lola memandangku dengan tatapan meremehkan. "Riana, kamu tidak usah berbohong. Kamu hanya ingin menipu kami dengan omong kosongmu," katanya sinis.
Aku tersenyum, mencoba menahan rasa marahku. "Kalian tidak percaya? Baiklah, aku akan buktikan," kataku, mengambil ponselku dan membuka email yang berisi surat kelulusanku dari Parsons School of Design.
"Riana, kami tidak butuh pembuktian palsu kamu. Kalau kamu memang lulusan terbaik sekolah itu, kenapa kamu tidak menjadi kepala Desain perhiasan di Refas Jewels?" tanya Lola masih tidak percaya.
Gadis itu baru bekerja di Refas Jewels setelah aku menjadi istri Mas Galih, dan dia tidak tahu siapa aku sebenarnya.
"Kalau kalian tidak percaya, terserah kalian. Sekarang, aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian. Cepat tanda tangani surat perjanjian itu," tekanku dengan nada tegas, sambil mengetukkan jari di atas meja.
"Jangan, Galih. Kamu tidak boleh lemah di depan wanita itu!" ujar ibu mertuaku wajahnya penuh kekhawatiran, memandang anaknya dengan mata yang memohon.
Mas Galih terlihat bingung, beberapa kali menatapku dan keluarganya, seolah-olah dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Saga yang berdiri disampingku terlihat sudah muak. "Pak Galih, kami tidak ada waktu. Sekarang, cepat tanda tangani surat perjanjian itu, atau ikut kami ke kantor polisi!"
Ibu, Mbak Maya, dan Lola menggelengkan kepala ke arah Mas Galih, mencoba membuatnya tidak menandatangani surat perjanjian itu. Namun, Mas Galih semakin terlihat putus asa.
"Bu, Kak. Aku harus tanda tangani ini. Untuk urusan Riana, kita bicarakan nanti di rumah. Sekarang, yang paling penting aku dan Lola tidak di tuntut oleh Riana," jelas Mas Galih terlihat ekspresi wajahnya sudah kalah.
Ibu terlihat masih tidak terima, tapi akhirnya mereka mengalah. Mas Galih menandatangani surat perjanjian itu dengan tangan gemetar, membuat wajah ibu, Mbak Maya, dan Lola terlihat lemas.
Setelah itu, aku mengambil surat perjanjian itu dengan cepat, sambil tersenyum manis. "Pak polisi, aku tidak jadi menuntut mereka. Tapi, untuk urusan pelanggaran lalu lintas, aku tidak ikut campur, bawa saja mereka," kataku santai, seraya mengibaskan surat perjanjian itu di depan mereka.
"Hei, Riana. Kamu memang istri durhaka. Galih sudah menandatangani surat perjanjian itu, kenapa kamu tidak mau menggantikan Galih?" Ibu mertuaku membentakku dengan wajah yang merah.
"Bu, aku itu tidak bilang ingin menggantikan Mas Galih. Aku hanya tidak menuntut Mas Galih yang berselingkuh dengan Lola." Aku membalas dengan nada yang santai.
"Pak Galih, sebaiknya bapak ikut kami ke kantor polisi," kata Saga dengan nada profesional.
Mas Galih terlihat panik, "Tapi, Pak. Aku baru saja kecelakaan, tidak bisa ke kantor polisi," tolaknya dengan takut.
Aku tidak bisa menahan tawaku, "Halah, alasan saja kamu, Mas. Tadi, aku lihat kamu tidak apa-apa, buktinya bisa bermesraan dengan Lola," sindirku dengan nada tajam.
Ibu mertuaku mulai menangis, dengan suara meratap. "Ya Tuhan, mimpi apa aku memiliki menantu tidak punya hati. Suaminya sakit masih disuruh ke kantor polisi," katanya sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
Aku menghembuskan napas, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara, "Sudahlah, Bu. Jangan pura-pura menangis, aku tidak akan kasihan dengan kalian. Aku mau pulang dulu, selamat menikmati di kantor polisi," pungkasku.
Aku lalu keluar dari kamar rawat Mas Galih dengan langkah ringan, meninggalkan mereka yang masih berteriak dan mengumpat di belakangku. Aku menutup telingaku, mencoba mengabaikan suara-suara itu, dan memilih melangkah keluar dari rumah sakit.
Sesampainya di halte bus, aku duduk di bangku yang kosong, mencoba mengatur napas yang masih terengah-engah. Aku merogoh saku dasterku dan mengambil ponselku, menatap layarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku melihat deretan nomor yang sudah lama tidak aku hubungi, dan tanganku gemetar saat menekan tombol memanggil. Satu, dua, tiga panggilan tidak terjawab, dan aku semakin takut dan ragu. Aku takut Kak Refas tidak mau memaafkanku.
Saat aku akan menyerah dan ingin mematikan teleponku, dari seberang telepon terdengar suara bariton Kak Refas.
[Hallo, Riana] Suara itu seperti musik yang paling indah di telingaku, dan tanpa sadar air mataku mengalir deras.
"Hallo, Kak." Aku mencoba berbicara, tapi suaraku tercekat oleh isak tangisku. Aku seperti anak kecil yang baru saja terjatuh, dan Kak Refas adalah satu-satunya yang bisa menghiburku.