Aku tersenyum licik, menatap ke arah Mas Galih dengan mata yang dingin. "Ok, aku tidak akan menuntut kalian. Tapi, aku ingin membuat surat perjanjian hitam diatas putih, Mas. Apa kamu sanggup?" tanyaku.
Mas Galih terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat. "Riana, apa maksud kamu? Aku ini suami kamu, kenapa harus ada perjanjian diatas hitam putih," katanya dengan nada yang tidak percaya.
Aku masih mempertahankan senyum manisku. "Mas, kamu tidak mau dituntut olehku bukan? Kalau begitu apa salahnya menyetujui perjanjian nanti akan aku buat," tegasku. Aku sudah memiliki banyak rencana untuk membalas mereka. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?
Ibu mertuaku terlihat tidak bisa menahan diri lagi, auranya sudah ingin menelanku hidup-hidup, mungkin kalau tidak ada petugas polis. Wanita paruh baya itu sudah mencaci makiku dengan kata-kata kasar seperti biasa. "Eh, Riana kamu jangan berpikiran yang macam-macam untuk menjebak anakku!" bentaknya.
"Ibu Riana memiliki hak untuk membuat laporan, jika dia merasa disakiti," ucap salah satu petugas polisi. Aku bersyukur petugas polisi membelaku.
Mas Galih melihat ke arahku, kemudian mengangguk lemah, ekspresi wajahnya terlihat sangat terpaksa. Tapi, aku sudah tidak perduli lagi. "Baik, aku setuju. Aku akan menandatangani perjanjian itu," ucapnya, suaranya terdengar tidak yakin.
Mbak Maya dan ibu mertuaku terus menggerutu, tidak terima aku dibela polisi. Aku meminta waktu ke petugas polisi untuk membuat surat perjanjian. Salah satu polisi ingin membantuku membuat surat perjanjian, aku mengangguk setuju.
"Alah, orang miskin ngerti apa membuat surat perjanjian," ejek ibu sarkas, suaranya penuh ejekan.
"Udah biarin aja Riana membuat surat perjanjian, tidak akan mempengaruhi hidup kita," sahut Mbak Maya seraya melotot ke arahku, matanya penuh kebencian. Tapi, aku tidak takut. Aku mengangkat dagu, menantang keluarga suamiku yang menatap remeh kearahku.
Lola dan Mas Galih merasa mendapat dukungan dari mereka, terlihat kembali percaya diri. "Tolong kamu jaga mereka, aku akan keluar dengan Ibu Riana," ucap salah satu petugas polisi ke temannya, suaranya tenang dan profesional.
"Baik, Dan," jawab petugas satunya, mengangguk setuju.
"Eh, emangnya kami akan kabur harus dijaga segala," ketus ibu protes.
"Maaf, Bu. Ini sudah tugas kami, jadi lebih baik ibu dan yang lain kooperatif," bentak petugas yang dipanggil Dan itu, suaranya tegas tapi sopan. Ibu langsung terdiam, mulut terkunci rapat, wajahnya merah karena marah.
Aku tersenyum dalam hati, ini baru permulaan, setelah ini kalian tidak akan bisa lagi tertawa dan mengejekku. Aku keluar bersama petugas polisi tampan itu, berjalan di lorong rumah sakit yang sepi dan sedikit dingin. Dia berjalan di sampingku, sosoknya tinggi dan tegap, dengan wajah yang tampan dan dingin. Matanya berwarna coklat gelap, dengan alis yang lurus dan rapi. Hidungnya mancung, dan bibirnya tipis tapi tegas. Entah kenapa, aku merasa familiar dengan polisi disampingku. Aku merasa pernah bertemu di mana?
"Riana, aku tidak menyangka hidup kamu akan seperti ini," ucap polisi itu sambil terus berjalan, tatapannya tetap lurus ke depan, suaranya dalam dan tenang. Aku tersentak kaget, dia memanggilku Riana saja tanpa embel-embel ibu, seakan kami sudah kenal lama. Aku langsung menghentikan langkahku, polisi itu juga berhenti lalu membalikkan badan ke arahku, matanya menatapku penuh arti.
"Siapa kamu?" tanyaku penuh selidik dan tegas.
Aku terkejut ketika dia tersenyum, dan kehangatan di matanya membuat hati ini menghangat. "Aku Saga, Riana. Teman kuliah Refas, apa kamu lupa?" Dia bertanya dengan suara yang lembut.
Mataku terbelalak, dan masih tidak percaya pria di depanku adalah Kak Saga, teman kuliah Kak Refas yang dulu berkaca mata dan culun, kini sudah menjadi seorang polisi tampan dan gagah. "Kak Saga," kataku masih terkejut.
Pria di depanku mengangguk, dan seulas senyum tipis tersembul dari bibirnya. "Iya, Riana. Aku tidak menyangka bertemu kamu dalam keadaan seperti ini. Apa Refas tahu?" tanyanya dengan serius.
Aku menggelengkan kepala, merasa malu karena telah menentang Refas. "Kak Refas tidak tahu, aku malu karena sudah menentangnya dan memilih menikah dengan Galih. Mungkin saat ini Kak Refas tidak mau melihatku lagi," kataku sambil menundukkan kepala sedih.
Saga memegang kedua bahuku dengan lembut, dan aku bisa merasakan kehangatan dari tangannya. "Riana, Refas itu sangat menyayangi kamu. Aku yakin Refas tidak akan menolak kamu," katanya dengan yakin.
Aku mengangguk, merasa yakin dengan kata-kata Kak Saga. Ya, Kak Saga benar. Kak Refas sangat menyayangiku, setelah urusanku dengan Mas Galih dan keluarganya selesai. Aku akan meminta maaf ke kakakku. Aku mengambil napas dalam-dalam, merasa sedikit lebih lega.
"Aku akan meminta maaf ke Kak Refas. Setelah menyelesaikan masalah ini dulu," kataku seraya mengangkat wajahku.
Kak Saga membalas dengan senyum lembut. "Aku akan bantu kamu, Riana."
"Terima kasih, Kak Saga," kataku dengan rasa syukur.
Kami melanjutkan langkah kami, Kak Saga membawaku ke tempat administrasi. Petugas administrasi rumah sakit sampai berdiri, terlihat sedikit takut. "Pak, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas itu dengan nada sopan.
Kak Saga tersenyum. "Apa boleh saya meminjam laptop atau komputer untuk membuat surat perjanjian?" tanya Kak Saga dengan santai.
"Bisa, Pak. Kebetulan saya membawa laptop, kalian bisa memakainya," jawab petugas administrasi itu sambil mengambil laptopnya dan menyerahkannya kepada Kak Saga.
"Saya pinjam sebentar, ya," kata Saga seraya membawa laptop milik petugas administrasi. Kami mencari tempat untuk mengetik surat perjanjian, dan kebetulan di depan kami ada kursi tunggu. Kami duduk di sana, dan aku mulai menjelaskan poin-poin isi perjanjian.
Kak Saga mengetik dengan cepat, dan aku bisa melihat isi perjanjian itu di layar laptop. Inti poin perjanjian itu adalah keluarga Mas Galih tidak bisa lagi memperlakukanku seperti pembantu, seluruh gaji Mas Galih harus diserahkan kepadaku, dan satu lagi, semua desain perhiasan yang selama ini aku gambar tidak boleh lagi digunakan oleh Mas Galih.
Aku tersenyum getir ketika mengingat masa laluku. Dulu, aku ahli desain perhiasan di Refas Jewels, perusahaan keluarga yang dipimpin oleh Kak Refas. Aku adalah salah satu desainer terbaik di perusahaan itu, dan banyak karya-karya perhiasan indah yang aku ciptakan. Tapi, demi cinta Mas Galih, aku rela melepaskan jabatan desainku ke tangan Mas Galih.
Aku bodoh sekali, selama ini Mas Galih menikmati kenaikan jabatannya dari hasil kerja kerasku. Mas Galih tidak pernah tahu, aku adalah adik kesayangan Kak Refas, CEO Refas Jewels. Aku meminta Kak Refas untuk tidak mengungkap jati diriku, karena aku yakin Mas Galih mencintaiku apa adanya.
Mas Galih hanya tahu, aku bekerja di Refas Jewels sebagai desainer perhiasan, dan kebetulan Mas Galih juga bekerja disana sebagai desainer perhiasan dibawahku.
Refas Jewels adalah perusahaan yang bergerak di bidang desain dan produksi perhiasan mewah, dengan koleksi yang mencakup cincin, kalung, dan anting-anting yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas tinggi dan desain yang unik. Aku pernah menjadi bagian dari tim yang menciptakan koleksi "Mawar Emas", salah satu koleksi paling populer di Refas Jewels.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi, semua itu sudah menjadi masa lalu. Aku sekarang harus fokus membalas mereka dan memastikan Mas Galih tidak akan bisa lagi memanfaatkan aku.
Aku menatap Kak Saga, yang masih mengetik surat perjanjian itu dengan cepat. "Kak Saga, sudah selesai?" tanyaku.
Kak Saga mengangkat kepala, lalu melihat kearahku. "Sudah, surat perjanjian ini kuat hukumnya. Jika Galih melanggar, kamu bisa menuntutnya."
"Terima kasih, Kak Saga," kataku dengan rasa syukur karena dipertemukan dengannya.
Kak Saga menatapku dengan ekspresi yang serius. "Riana, kenapa kamu tidak bercerai saja dengan Galih? Dia sudah selingkuh, kamu juga diperlakukan tidak adil seperti ini. Kalau Refas tahu, sudah habis suami kamu di tangan Refas."
Aku menggelakkan kepala, mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatiku. "Kak Saga, aku mohon jangan beritahu Kak Refas dulu. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan mereka, setelah aku puas dan mereka sudah mendapatkan balasannya. Aku akan menggugat cerai Galih," kataku dengan ekspresi menyakinkan.
Kak Saga menatapku dengan skeptis, tapi akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan beritahu Refas. Tapi, kamu harus berjanji akan aman dan tidak melakukan sesuatu yang bodoh, Riana."
Aku tersenyum lebar, dan aku seperti mendapatkan kekuatan baru mengalir dalam diriku. "Aku janji, Kak. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa," gumamku penuh arti.
Kak Saga mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke meja petugas administrasi. Aku masih duduk, dan disampingku aku melihat kaca yang memantulkan diriku. Aku tersenyum miris, melihat kondisiku dengan pakaian yang kusut dan wajah yang kusam. Sangat jauh berbeda dengan Riana Kalyana Wijaya yang dulu, putri kesayangan keluarga Wijaya yang hidup dalam kemewahan dan dihormati oleh banyak orang.
Aku teringat kembali masa laluku, ketika aku masih menjadi gadis cantik dan bahagia. Aku memiliki segalanya, kecantikan, kekayaan, dan cinta dari kakakku. Tapi, semua itu hilang ketika aku bertemu dengan Galih Wiguna. Aku rela meninggalkan semuanya demi cinta yang ternyata hanya ilusi.
Kak Saga menghampiriku, di tangannya sudah ada surat perjanjian. "Ayo," ajaknya.
Aku berdiri dan melangkah dengan tenang menuju kamar Mas Galih di rawat. Setibanya di depan pintu, aku mendengar suara tawa mereka.
"Kalian harus secepatnya menikah, ibu mau Nak Lola yang menjadi menantu ibu." Terdengar suara ibu mertuaku dengan nada yang manis. Jadi, mereka sudah tahu Mas Galih berselingkuh dengan Lola.
"Iya, Lola. Kamu cantik, pintar, Galih menikahi Riana hanya untuk menjadi pembantu gratis di rumah aja. Dia itu miskin, tidak akan bisa macam-macam. Nanti kalau kalian menikah kamu bisa menyuruhnya apapun sesuka hati kamu dan kamu yang akan tetap jadi nyonya Galih yang sebenarnya, walau dia istri pertama," ucap Mbak Maya.
Mendengar perkataan mereka, aku sudah tidak merasa sakit hati lagi. Tapi, saat aku melirik ke arah Kak Saga, terlihat dia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras, tanda dia sangat marah. Aku mengambil napas dalam-dalam, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
Wajah mereka yang tadi ceria langsung berubah sinis. "Heh, Riana buat perjanjian saja lama sekali," ketus Mbak Maya terlihat tidak sabaran.
Aku tersenyum manis melihat kearah mereka. "Mbak, namanya juga buat surat perjanjian. Harus teliti, dan sekarang kamu tanda tangani, Mas." Aku menyodorkan kertas berisi surat perjanjian yang sudah ada materai.
"Aku baca dulu," jawab Mas Galih seraya mengambil kertas dengan kasar.
Aku mengangkat bahu, tidak perduli. Mas Galih terlihat terkejut, matanya melebar begitu membaca surat perjanjian yang kubuat. Wajahnya berubah merah, dan aku melihat vena di dahinya yang mulai menonjol.
"Riana, kamu gila!" teriaknya, suaranya yang keras membuat semua orang tersentak kaget.