4

1019 Kata
Umi Hany memanggil Abi Ridwan dan Zidan untuk berkumpul di ruang makan belakang Pondok Pesantren. Tepat di belakang Pondok Pesantren milik Kyai Abdullah ada sebuah saung bambu yang nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul sambil sarapan pagi. "Bi ... Ajak Zidan makan di Saung. Umi dan Aira sedang menyiapkan sarapan pagi disasan,biar enak ngobrolnya," ucap Hany pada sang suami. "Iya Mi ... Nanti kita kesana," jawab Ridwan lagi. Hany kembali ke dapur dan membantu Aira yang sedang membuat menu masakan baru. Kebetulan, Aira itu lulusan tata boga jadi lumayan bisa memasak dengan menu yang bervariasi. Menu sarapan pagi ini adalah nasi liwet campur teri nasi dengan lauk pauk sederhana. Kebetulan dapur Ponpes sedang memasak bala -bala dan telur dadar kampung. Bedanya di Saung Ponpes ditambah kerupuk, ada ayam panggang ala kebuli. Ridwan dan Zidan sudah meninggalkan Joglo tempat mereka tadi ngobrol santai seusai sholat shubuh berjamaah. Zidan baru tahu ada Saung yang begitu nyaman dan pastinya bakal jadi tempat favorit buat dia melamun dan mencari inspirasi. Tempat sederhana yang menakjubkan. Ada empang dengan ikan yang terlihat penuh. Di sampingnya ada kebun sayuran yang memang dibuat untuk ketahanan pangan sesuai dengan intruksi Presiden. Zidan duduk di Saung bambu dengan udara pagi yang masih sejuk dan segar sekali. Dinginnya menembus kulit. Ia masih memakai saring dan koko serta peci hitam yang membuat ketampanannya menjadi seratus persen tak terkalahkan termasuk oleh Abi Ridwan. "Hmmm ... Wangi sekali ..." puji Zidan tepat saat Aira membawa nampan berisi buah -buahan sedangkan Umi Hany membawa kendi dan beberapa gelas untuk minum. "Ini Aira yang masak lho ..." ucap Umi Hany memuji sambil melirik ke arah Aira yang meletakkan nampan di Saung. "Oh ya?" ucap Zidan begitu senang sekali. Zidan menatap Aira dengan lekat membuat Aira tetap menunduk dan tak bicara sepatah kata pun. Sepertinya Aira terlihat lebih diam dan raut wajahnya tidak seketus tadi pagi saat bangun tidur. Tatapan Zidan semakin lekat dan tak berpindah ke arah lain. "Ekhemm ... Pengantin baru selalu gitu. Natapnya tuh dalem banget. Bikin iri aja," ucap Abi Ridwan terkekeh sambil melempar senyum ke arah Umi Hany. "Eh .. Abi, Melihat sesuatu yang indah itu kan harus fokus dan diikuti dengan doa. Alhamdulillah, Zidan memiliki istri spek bidadari surga. Lihat saja, Aira itu begitu sempurna, malah mendapatkan lelaki biasa seperti saya," ucap Zidan merendah smabil tersenyum penuh arti ke arah Ridwan. "Kamu ini selalu saja merendah. Persis seperti mendiang Abi kamu," ucap Ridwan pada Zidan. "Sudah .... Ngobrolnya kita lanjutkan nanti. Sekarang waktunya sarapan pagi, dan semua ini, Aira yang masak serta menyiapkannya. Mulai belajar jadi istri yang baik ..." ucap Umi Hany melirik lagi ke arah Aira yang tetap diam dan tidak mau ikut bicara. Umi Hany menyenggol lengan Aira dan Aira mulai mengangkat wajahnya lalu berusaha tersenyum yang sanagt dipaksakan. Ia mengambil piring lalu mengisi nasi liwet dengan porsi yang cukup banyak, lalu mengambil ayam panggang ala kebuli setengah ekor serta bala -bala dan yang lainnya di rapikan di atas nasi liwet hingga piring itu penuh dan terlihat seperti menggunung. "Ini buat Kak Zidan ..." ucap Aira tersenyum tipis. Aira sengaja memberikan banyak makanan sekalian mengerjai lelaki sombong dan menyebalkan itu. "Aira ... Kamu yang bener aja, ngambilin makanan sebanyak itu. Kalau gak habis kan mubazir," ucap Umi Hany menegur Aira. "Ehh ... Maaf Kak Zidan, kirain porsi laki -laki itu pasti banyak. Kan laki -laki itu bukan cuma jadi imam, tapi pencari nafkah juga, jadi harus makan banyak buat tenaga," ucap Aira ngeles tanpa rasa bersalah. "Aira ... Zidan itu suami kamu. Kamu harus hormat sama dia," titah Abi Ridwan dengan suara tegas menegur Aira yang dianggap tidak sopan. Aira menatap Abi Ridwan dengan mata berkaca -kaca, "Dia cuma pengganti, Abi. Dia bukan suami Aira." "Aira! Jaga mulut kamu. Abi tidak pernah mengajarkan kamu bicara gak sopan seperti itu," ucap Abi Ridwan dengan murka. "Abi ... Umi ... Sudah, Aira butuh waktu untuk penyesuaian. Kalau soal makanan ini pasti habis kok. Tidak akan mubazir, karena disiapkan oleh istri tercinta," ucap Zidan tetap memuji Aira. Aira hanya tertawa sinis, ia mengambil air teh hangat dari kendi dan meletakkan di dekat Zidan. "Ya sudah, kita makan pelan -pelan sambil ngobrol biar santai ..." titah Ridwan pada Zidan Jujur, Ridwan tidak enak hati dengan menantunya yang sudah baik mau menggantikan posisi Raka agar keluargany tidak menanggung malu. Suasana makan pagi itu begitu hangat. Tetapi tidak dengan Aira yang sebenarnya malas. Kalau bukan karena Umi Hany tadi mendatangi kamarnya dan meminta tolong masak untuk sarapan karena perut Umi sakit, Aira tidak mau. Apalagi ia malah seperti ditodong untuk ikut bergabung di Keluarga Cemara palsu ini. Belum lagi tadi di dapur, Umi Hany terus memberikan nasihat panjang lebar membuat Aira malas. "Nak Zidan ... Jadi kapan kalian pindah ke rumah baru?" tanya Ridwan membuka tema pertanyaan baru. Seketika pertanyaan itu membuat Aira mengangkat wajanya dan menatap tajam ke arah Abinya. "Apa Bi? Pindah?" tanya Aira menyela dnegan cepat. "Iya Aira. Kamu sekarang sudah punya suami ... Kamu harus ikut dengan suamimu. Kemana pun suami kamu pergi, karena dia yang bertanggung jawab atas kamu, bukan Abi lagi," terang Ridwan pada putrinya. "Bi ... Aira gak mau. Aira mau disini, mengajar di TK," ucap Aira lagi. "Aira ... Umi dulu juga ikut Abi setelah menikah. Umi juga berontak waktu itu tapi Umi tetap ikhlas ikut Abi ..." Penjelasan Umi Hany belum selesai, Aira sudah menyela lagi. "Umi ... Aira tahu cerita ini dan sudah berulang -ulang Umi ceritakan pada Aira. Aira bukan Umi. Aira gak bisa, hidup satu rumah apalagi satu kamar dengan lelaki yang tidak Aira cintai. Rasanya haram saja," ucap Aira begitu lantang. Aira langsung pergi meninggalkan Saung itu dan berlari ke arah kamarnya. Air matanya tak tertahankan lagi untuk tuurn ke pipinya. Rasanya tidak ada satu pun orang yang bsia mengerti dirinya saat ini. Sungguh menyebalkan sekali. Kenapa smeua orang egois. Kenapa semua orang tidak mengerti perasaan Aira. Kenapa?! Aira membuka kamar dan menutupnya rapat bahkan menguncinya. Aira ingin sendiri. Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dalam keadaan tengkurap lalu menangis sejadi -jadinya di atas bantal. Air matanya luruh deras membasahi bantal tidurnya. Leleran cairan dari hidung juga ikut turun karena rasa sedihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN