Melihat Aira pergi dari Saung dan meninggalkan sarapannya, Zida spontan ingin bangkit berdiri dan mengejar Aira. Tapi, tubuhnya dihadang oleh Abi Ridwan.
"Janagn kamu kejar. Biarkan saja Aira begitu. Dia sudah dewasa, dia sudah menikah dan dia punya tanggung jawab baru. Seharusnya dia itu yang beradaptasi bukan kamu. Dia harus bisa melupakan Raka bukan malah memelihara nama Raka setiap saat dan dengan sengaja menyakiti kamu. Jadi biarkan saja dia mau menangis, berteriak atau marah -marah. Kamu lebih baik menghindar seolah tidak peduli," jelas Abi Ridwan menasehati.
Zidan mengangguk paham. Tapi, jujur ada rasa bersalah di dalam hatinya melihat Aira menangis. Tapi, kata Abi Ridwan ada benarnya, Aira harus belajar mengendalikan diri. Ini sebuah bentuk pendidikan tegas yang diterapkan oleh Abi Ridwan terhadap putri tersayangnya.
Orang tua mana yang tidak kasihan melihat putrinya seperti itu. Tapi kalau dimanjakan malah akan membuat Aira semakin tidak belajar dan hanyut dalam kesedihannya.
Zidan terpaksa menuruti keinginan Abi Ridwan dan melanjutkan menghabiskan sarapan paginya.
Pagi ini, suasana agak berbeda, karena Aira tidak ada ditempat itu. Padahal Zidan sudah membayangkan ingin sarapan pagi untuk pertama kalinya bersama sang istri sambil menatap Aira yang sudah lama tidak dilihatnya karena ia harus kuliah di luar negeri.
Masakan Aira mendapatkan pujian di dalam hati Zidan. Sepertinya, Aira memang sudah cocok menyandang status istri seperti saat ini.
***
Seusai sarapan pagi. Zidan pun ingin segera kembali ke kamar. Saung sudah bersih kembali seperti sedia kala. Inginnya sih duduk sebentar sambil merasakan smeilir angin. Tapi, perutnya kekeyangan dan membuat rasa kantuk datang lebih cepat. Padahal ini baru jam delapan pagi.
Ia berdiri di depan kamar Aira dan memegang knop pintu. Kamar Aira terletak di bagian belakang yang lorongnya menyatu ke arah lapangan Ponpes. Jadi dari depan kamar Aira bisa melihat ke arah kobong putra dan asrama putri yang letaknya saling membelakangi.
Ceklek ...
Knop pintu itu dibuka tapi pintu tak kunjung terbuka. Pintu tetap tertutup dan ternayta pintu itu dikunci dari dalam.
Zidan kembali diam. Ia memikirkan cara untuk masuk. Kalau mengetuk pintu, takutnya Aira yang masih marah bisa tambah murka. Tapi kalau aku diam saja disini. Mau ngapain?
Zidan membalikkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya ke arah kobong dan asrama. Jujur, Zidan belum tahu situasi di Ponpes milik Kyai Abdullah ini.
"Zidan ... Kamu sedang apa?" tanya Abi Ridwan yang kebetulan ingin melihat situasi kobong saat sarapan pagi.
"Ehh Abi ... Eum ... Mau masuk kamar tapi dikunci sama Aira. Mungkin Aira ketiduran, sudah diketuk gak dengar," jelas Zidan beralasan.
"Ohh begitu. Biarkan saja, mau ikut Abi keliling Ponpes sekalian mau tanya soal kepindahan kamu besok? Jadi?" tanya Abi Ridwan begitu serius.
Zidan mengangguk kecil. Ia masih bingung dengan rencananya besok. Seharusnya ia mmebawa AIra ke Kampung halaman Kakeknya dan membuka sekolah gratis disana. Sekalian membuka madrasah untuk anak -anak yang mau belajar ngaji. Siapa tahu, Aira tergerak hatinya dan mau membantu ikut mengajar anak -anak kurang mampu itu.
"Aira?" ucap Zidan melemah.
"Zidan .. Kamu ini laki -laki, sudah menjadi suami, kamu juga sebagai imam. Seharusnya, kamu bisa mengambil keputusan mutlak tanpa memakai perasaan. Kalau begini, kamu tidak akan dihargai oleh Aira. Aira bakal semena -mena dan merasa kamu lemah dihadapannya," jelas Abi Ridwan.
Abi Ridwan emantap Zidan lekat, "Kamu harus tetap pergi besok. Ingan resolusi masa depan itu tidak boelh ada kata menunda. Urusan Aira, biarkan saja. Dia pasti nurut kok."
Zidan mengangguk lagi dan tersenyum senang.
"Terima kasih Bi. Sudah menyemangati Zidan. Zidan bakal jaga rumah tangga ini dengan baik," titah Zidan mantap.
Akhirnya, Zidan dan Abi Ridwan berjalan bersama mengelilingi Ponpes.
Aira yang sama sekali tidak tidur. Ia sudah duduk tegak di atas kasur setelah sempat terlelap sebentar dan bermimpi buruk tentang Raka.
Entah kenapa, Raka sellau hadir dalam mimpinya seolah ia sedang memanggil Aira dan meminta tolong. Apa Raka masih hidup?
Rasa bersalah menyelimuti hati Aira. Aira memegang cincin tunangan pemberian Raka beberapa bulan lalu. Ia sengaja memberikan cincin itu dan akan menggantinya dengan cincin berlian saat tiba pernikahan mereka. Tapi semua janji itu tidak pernah terwujud.
Hmmm ... Besok, Kak Zidan akan mengajakku pindah dari sini? Itu tandanya aku akan benar -benar mengabdi pada dirinya.
Tidak! Aira akan tetap disini. terserah dia mau ke Kampungnya. Aira bakal bilang tidak berkenan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Umi Hany mengetuk pintu kamar Aira dengan keras. Ia tahu, putrinya itu sangat kebluk seklai kalau sudah tidur. Padahal ini masih pagi. Bukan tidak boleh, tapi, Aira itu sudah menikah. Tidak seharusnya hanay mendekam di kamar saja seperti gadis yang masih dipingit saja.
"Aira ... Ini Umi, Nak. Umi mau bicara ..." jelas Umi Hany dari depan pintu sambil mengetuk pintu itu dengan keras berkali -kali.
Padahal Aira baru saja melamun, malah sudah diganggu oleh kedatangan Umi Hany.
Aira terpaksa turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Umi Hany sudah tersenyum lebar ke arah Aira yang masih terlihat suntuk dan malas ditemui oleh orang.
"Kenapa sih Umi ..." ucap Aira dengan nada malas.
"Kamu gak paking? Mau Umi bantuin?" tanya Umi Hany pada Aira yang malah kembali naik ke atas ranjang dan duduk bersila menatap sang Umi yang sedang sidak kamar pengantin baru.
Umi Hany melihat ronce melati yang masih terlihat segar menggantung di kaca rias. Kamar Aira nampak bersih, hanay saja ada koper Zidan yang hanay di letakkan di dekat lemari dalam keadaan tertutup. Di atasnya terdapat dua baju yang terlipat rapi.
"Umi liat apa sih?" tanya Aira sambil mengekor mata Umi yang masih mencari sesutu tapi belum ketemu.
Umi Hany tersenyum lebar lalu duduk di tepi ranjang.
"Besok kamu harus ikut dengan suami kamu. Dia akan membuka sekolah gratis di Kampung kelahirannya dulu. Sebagai istri, kamu harus nurut," titah Umi Hany menasehati.
"Aira gak mau, Umi," tegas Aira begitu lantang.
"Aira ... Zidan itu Ustadz. Ustadz itu harus mengabdi," jelas Umi Hany pada Aira.
"Gak harus. Ada Ustadz yang bisa bekerja dengan profesi lain. Gak harus soal sosial," jelas Aira lagi.
Umi Hany menggelengkan kepalnya pelan, "Kamu itu gak boleh membuat takdire sendiri, Aira. Zidan itu memiliki sifat yang mulia. Dia ingin mengembangkan Kampungnya dnegan kualitas SDM yang lebih baik dan mereka pada akhirnya bisa sukses dengan jalan mereka sendiri."
Aira menarik napas dalam, "Aira tetap gak mau ikut. Aira mau disini saja."
"Hmm ... Umi sih gak masalah. Tapi, sayangnya, Abi dan Kakek kamu sudah tidak bisa menerima kamu disini. Besok, kamar ini sudah ada yang mau pakai." Suara Umi meninggi membuat Aira melotot tajam.
"Hah?! Kamar ini kamar Aira. Kenapa ada yang mau pakai? Emang sejak kapan, tempat ini terima kost juga?" ucap Aira begitu kesal.
Umi Hany berdiri dan berjalan menuju keluar kamar.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Kamar ini, besok akan ditempati seorang ustadzah cantik," jelas Umi Hany lalu berlalu pergi.
Sumpah! Kenapa sih, semua orang itu menyebalkan. Enggak Umi Hany, Abi Ridwan, Kakek Abdullah. Kenapa?!
Kenapa gak ada yang mengerti Aira.