Dengan rasa terpaksa sekali, Aira pun mengambil beberapa pakaian dari lemari dan dirapikan ke dalam koper. Ia bakal rindu dengan kamarnya ini. Aira duduk di tepi ranjang lalu mengedarkan seluruh pandangannya di dalam kamar itu.
Satu tarikan napas yang begitu berat dan sangat dalam menunjukkan kalau Aira tidak suka dengan keputusan pindah ini. Tetapi mau tidak mau, tetap harus dilakukan.
Ceklek ...
Zidan masuk ke dalam kamar Aira dan menatap Aira yang masih saja belum selesai membereskan barang -barangnya yang akan dibawa.
"Kirain sudah selesai? Mobilnya sudah nunggu," ucap Zidan begitu lembut.
Aira yang sedang melamun pun lagsung menoleh ke belakang dan menatap lekat ke arah Zidan sambil mengembuskan napasnya dengan kasar. Rasanya benar -benar berat meninggalkan kamartidur kesayangannya ini.
Sejak pindah dari Turki, mereka langsung menempati kamar masing -masing. Dan Disinilah, Aira tumbuh berkembang menjadi wanita dewasa.
Zidan berjalan mendekati Aira dan ikut duduk di tepi ranjang di dekat Aira yang terhalang oleh koper besar.
"Kalau kamu berat dengan kepindahan ini. Kamu bisa tinggal disini untuk beberapa hari lagi, biar nanti supir yang menjemputmu," ucap Zidan mengalah.
Aira melirik sekilas ke arah Zidan yang begitu tenang berbicara dengannya.
"Gimana?" tanya Zidan melirik Aira yang juga sedang melirik ke arahnya.
Aira tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab, karena jawaban dari hati dan isi kepalanya sanagt berbeda.
"Aira ikut Kak Zidan. Kalau Aira disini, bisa jadi rujak Abi dan Umi ..." jelas Aira langsung berdiri dan menutup kopernya.
Zidan pun ikut berdiri ingin membantu Aira menurunkan koper dari kasur. Tanpa sengaja tangan mereka saling menyentuh. Zidan yang ingin memegang koper malah memegang tanagn Aira dan mereka kembali saling melirik.
Aira pun langsung menarik tangannya dengan cepat. Ia tidak sudi disentuh oleh Zidan walaupun status mereka sudah menadi suami istri. Aira tidak mencintai Zidan. Tapi, jantungnay terus berdebar kencang. Tangannya mendadak dingin
Zidan sendiri terlihat tetap santai dan tenang. Ia menurunkan koper Aira seolah yang barusan terjadi bukanlah sesuatu yang mengerikan baginya. Malahan Zidan begitu senang dengan kejadian tidak sengaja itu. Menyentuh tanpa sengaja malah mebuatnya semakin bersemangat.
Aira dan Zidan sudah berdiri di depan Pondok Pesantren. Semua barang mereka sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Abi Ridwan dan Umi Hany sudah berada di depan menemani Aira yang ingin berpamitan. Kakek Yai Abdullah juga ikut mengantarkan Aira yang akan diboyong oleh Zidan, suaminya. Kakek Yai sudah lemah, kini ia duduk dikursi roda.
Aira terus mengapit tangan Umi Hany seolah tak ingin berpisah. Maklum selama ini, Aira selalu dekat dengan keluarganya. Baru kali ini, ia akan hidup jauh dari kedua orang tuanya. Sempat terlintas di dalam pikirannya. Ia bisa tidak bertahan hidup dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai. Tapi, Aira akan mencoba walau itu sangat sulit sekali.
"Abi, Umi, Kakek, Aira pergi dulu ..." pamit Aira memeluk semua orang tua kesayangannya itu sambil mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"Hati -hati Aira ... Ingat kamu sekarang sudah menjadi istri, jangan buat Umi malu. Kamu harus nurut dengan suami kamu, kamu harus melayani dia, AIra. Jangan sampai Allah melaknat kamu sebagai istri ..." bisik Umi Hany mengingatkan.
Aira mengangguk kecil. Ia paham agama. Kedua orang tuanya benar -benar mengajarkan agama yang baik pada Aira. Aira sudah khatam soal ini. Tapi ... Ahhh ... Lihat nanti saja, bakal seperti apa rumah tangganya bersama Zidan.
Zidan juga berpamitan dengan Abi Ridwan, Umi Hany dan Kakek Yai yang sudah memberikan kesempatan bisa menikahi Aira.
Aira dan Zidan sudah masuk mau masuk ke dalam mobil. Aira bingung saat Zida akan berjalan ke sisi pintu bagian supir tapi ia membukakan lebih dulu pintu depan untuk Aira.. Padahal Aira akan masuk di sisi belakang bagian penumpang.
"Aira .. Duduknya di depan, sayang ..." titah Zidan dengan suara lembut.
Aira menatap Zidan dan melihat ke arah kursi kosong yang dipersiapkan untuk dirinya.
"Kak Zidan dimana?" tanya Aira bingung.
"Aku yang setir mobil," jawab Zidan mantap.
"Katanya bawa supir?" ucap Aira bingung.
"Eumm ... Supirnya mendadak minta cuti. Jadi, aku bawa sendiri mobilnya," jelas Zidan lagi.
"Ohh begitu ..." jawab Aira singkat.
Ia melangkah ke arah kursi depan dan masuk ke dalam. Ia duduk dengan manis. Aira memakai celana bahan yang pas ditubuhnya dengan kemeja santai berwarna hijau tosca. Hijabnya dibuat ala modern model anak gen z masa kini.
Kedua mata Aira terus mengekor Zidan yang baru saja menutup pintu mobil lalu berjalan memutar menuju sisi sebelahnya.
Dengan tenang, Zidan duduk di jok dan memasang sabuk pengaman. Ia melirik ke arah Aira yang belum memakai sabuk pengaman. Niatnya ingin mengambil sabuk pengaman itu dan memsangkannya untuk Aira.
"Eitt ... Mau ngapain dekat -dekat?" ucap Aira ketus.
"Sabuk pengaman, biar aman," ucap Zidan dnegan senyum manis dengan dua lesung pipi yang muncul membuat senyumnya semakin terlihat sangat sempurna sekali.
"Aira bisa sendiri. Tinggal bilang aja," jelas Aira dengan nada ketus.
Aira menarik sabuk pengaman itu tapi sulit. Sabuk pengaman itu tidak memanjang. Aira terus menarik tapi tidak bisa. Zidan pun kembali mendekati Aira dan memegang sabuk pengaman bagian atas lalu menariknya dnegan mudah. Segala sesuatu memang butu trik dan kesabaran. Sabuk pengaman itu melingkar di tubuh Aira dengan mudahnya lalu dipasang dengan mengeklk bagian ujungnya.
Aira hanay menatap Zidan, ia gengsi untuk bilang terima kasih. Batin Aira, kenapa sulit ditarik, giliran sama dia, kayak mudah banget. Smeprul memang. Aira mengumpat kesal.
Zidan mengambil kaca mata hitam dan memakainya agar kedua matanay fokus mengendarai mobil tanpa terkendala silau matahari yang menghadang mereka. Aira memutar kedua bola matanay dnegan malas.
"Sok ganteng banget," batinnya begitu kesal.
"Ekhem ... Gak usah dibatin, Aira. Luapkan saja ..." jelas Zidan yang suah siap melajukan mobilnya. Ia mengklakson kepada Abi Ridwan, Umi Hany dan Kakek Yai yang masih menunggu keberangkatan pengantin baru itu.
"Dih ... Siapa yang nge -batin," ucap Aira spontan.
"Hmmm ..."
Tin ...
Zidan mulai menekan gas dan melambaikan tangannya kepada mertua dan kakek Yai.
Mereka juga melambaikan tangannya. Aira masih melirik ke arah orang tuanya. Matanya berkaca -kaca. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka.
Zidan menyetir dengan santai. Laju mobilnya pun terlihat tenang. Apalagi saat sudah melaju di aspal jalan besar.
Aira menyandar di jok kursi sambil menatap ke arah depan. Pikirannya melayang jauh dan menankap sosok yang ia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Raka.