7

1021 Kata
Perjalanan menuju kampung kelahiran Zidan memang memerlukan waktu yang agak lama. Apalagi jalannya tidak begitu besar membuat Zidan mengendarai mobilnya dnegan sangat hati-hati sekali. Jalanan yang masuk ke area perbukitan dan masuk ke dalam perkampungan. Kampung itu sangat bersih dan semua orang yang lalu lalang menunduk hormat ke arah Zidan. Aira melirik ke arah Zidan yang sudah melepas kaca mata hitamnya dan membuka kaca jendelanya sambil mengangguk dengan sopan sambil mengucap kata lembut penuh hormat. Dari arah samping, Aira merasa seperti ia sudah biasa dengan keadaan begini. Semua nampak tidak asing tapi Aira tidak paham dengan perasaan itu. Perasaan apa itu. Setelah banyak menyapa orang di jalan kampung. Zidan kembali melirik ke arah Aira. Aira kaget dan langsung membuang muka agar tidak terlihat kalau ia sedang memperhatikan Zidan. Sayangnya, Zidan sudah tahu, kalau Aira sejak tadi mengamatinya. Ia melihat dari pantulan kaca spion di samping pintu mobilnya. Wajah Aira masih sama seperti dulu. Wajah sendu yang bisa berubah karakter menjadi manja. Ahh ... Rasanya, Zidan ingin kembali di masa itu. Masa dimana ia benar -benar menjadi satu -satunya untuk Aira dan Aira juga satu -satunya menjadi miliknya secara utuh. "Kalau mau lihat, ya, lihat saja. Gak perlu sungkan atau malu. Tinggal atur posisi duduk kamu dan lihat saya dalam berbagai pose. Mungkin kamu bisa lebih lega dan tidak penasaran," ucap Zidan lembut dengan gaya bicara sedikit medok. Walaupun Zidan itu lama tingal di Turki dan sudah mandiri disana. Ke khas -an cara bersikap dan cara bicara tak lantas luntur. Ia tetap mencintai kampungnya, tanah kelahirannya. Setelah ia benar -benar sukses dan mapan, ia harus kembali ke tempat ini dan membangun kampungnya. Itu janjinya sejak dahulu. "Dih ..." Aira mengumpat pelan sekali. Ia pikir, Zidan tidak mendengar. Sayangnya, Zidan mendengar umpatan wajar itu. Maklumlah, Aira itu sedang tidak labil mentalnya. Ia gagal menikah dnegan kekasihnya dan harus menikah dnegan Zidan yang Aira anggap orang lain itu. Aira menatap ke arah luar kaca jendela dan melihat keindahan pemandangan kampung yang berbeda dengan kampung kakeknya. Dalam hatinya deg -degan juga. Kok bisa tahu, lelkai satu ini. Sial bener nasib Aira ini. Tak berselang lama, mobil Zidan berhenti di sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu jati. Rumahnya terlihat sederhana dan terkesan sangat biasa sekali. Bnetuknya kuno seperti tidak pernah direnovasi bertahun -tahun. APalagi terkena sentuhan arsitek modern. Jauh dari kata itu. Halamannya luas sekali dan ada gazebo besar di dekat mobl mereka parkir. "Ayo turun. Kita sudah sampai ..." titah Zidan pada Aira. Aira tak menjawab. Ia tetap diam seribu bahasa. Aira membuka pintu mobil dan turun dari mobil sport milik Zidan. Ia menutup pintu mobil itu danangin sore menerpanya dengan kencang. Hijabnya ikut bergerak mengikuti arah angin. Aira terus mengedarkan pemandangan di sekitar kampung itu. Terutama rumah yang akan ia tempati itu. Rasa itu kembali hadir. Rasa tak asing tapi ia tak ingat sama sekali. Mungkin hanya perasaan saja. Zidan mendekati Aira dan menggandeng sang istri untuk segera berjalan menuju rumah kayu jati milik leluhurnya. Aira begitu kaget dan melihat ke arah tangannya yang di gandeng dengan erat. Biasanya, Aira bakal marah. Namun, tidak dengan kali ini. Ia tidak marah. Ia juga tidak berontak seperti kemarin. Aira malah merasa diperhatikan, disayangi dan dihargai keberadaannya. Mereka berdua berjalan menuju anak tangga dan naik ke teras yang begitu hangat dibandingkan di halaman yang udaranya cukup dingin. Bisa ya, kayu jati itu membuat hawa berubah drastis. "Ini rumah kita sekarang. Kamu gak keberatan kan? Klaau kita tinggal disini?" tanya Zidan tanpa melepas genggaman tangannay di tangan Aira. "Eum ... " Aira hanya berdehem pelan. Ia tidak menjawab pasti. Jujur, Aira suka tempat ini. Tapi, ia tidak boleh memperlihatkan kesukaannya itu pada Zidan. "Aira ... Kalau kamu tidak suka, katakan saja. Aku akan buatkan rumah yang sesuai dengan keinginan kamu," jelas Zidan lagi. "Enggak. Ini cukup," jawab Aira datar. Tentu saja cukup. Rumah ini keinginan Aira dulu. Rumah leluhur Zidan yang sudah tidak terpakai. Saat itu pertama kali Aira ke tempat ini dan jatuh cinta pada rumah itu. Dan ia merengek pada Zidan untuk merenovasi rumah itu dan kelak mereka akan tinggal ditempat itu. Sayangnya, Aira tak ingat. Zidan mengangguk kecil dnegan senyum merekah, "Terima kasih sudah menerima kesederhanaan ini." Aira menarik napas dalam dan menghembuskan pelan sambil mengangguk dengan ekspresi biasa saja. Zidan membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam. Aira mengikuti Zidan dan memandang isi di dalam rumah itu. Aira semkain takjub dengan isinya. Kenapa semua yang ada di dalam rumah itu seperti sesuai keinginannya. Mulai dari sofa dengan warna nude hampir senada dengan warna kayu. Kamar di rumah itu ada dua. Satu memang untuk kamar utama dan satu lagi kamar tamu yang nantinya bakal dijadikan kamar anak mereka. "Aira ... Ayo ..." panggil Zidan yang mneoleh ke arah Aira. "Hu um ..." jawab Aira singkat. Ia berjalan mengikuti Zidan. "Kamu suka? Dengan rumah ini?" tanya Zidan membuka pintu kamar tidur mereka. Aira semakin dibuat takjub dengan kamar tidur yang mewah dan elegan. Sama seklai tidak terlihat kalau rumah ini berasal dari kayu jati. Zidan mendekati Aira, Ia berdiri di depan Aira dan menatap Aira dnegan senyum bahagia. "Aku akan membahagiakan kamu, Aira ... Aku akan membuat kamu menjadi ratu di rumah ini ... Ini janjiku sejak dulu padamu ..." ungkap Zidan lirih. "Apa maksudnya?"Aku gak paham ... " jawab Aira polos. Zidan mengambil kedua tangan Aira dan menggenggam erat. Zidan mencium kedua punggung tangan Aira dan tersenyum pada Aira. Jantung AIra semakin berdebar dengan keras sekali. Tubuhnya seperti tersengat setrum dengan kwh tinggi. Aira melepas tangannya dari genggaman Zidan yang nyama. Jujur, genggaman itu nyaman dan sanagt menenangkan. Tapi, ego Aira mulai bertindak gegabah. "Jangan sentuh aku, Mas. Kamu menikahiku hanya untuk menutupi pernikahan yang seharusnya batal," ucap Aira tegas. Zidan menatap Aira dengan nanar. Ia belum bisa menaklukkan Aira. Padahal, ia berharap dengan kepindahan ini, mereka bisa lebih hangta dan menerima. Zidan hanya berharap, kalau suatu hari nanti, ia bisa membuat Aira tersadar dan kembali mengingat semua ingatannya yang sempat hilang. Terutama di bagian cerita romantisnya bersama Zidan. "Kita suami istri, Aira. Aku berhak menyentuhmu," jelas Zidan tak kalah tegas. Aira menatap ke arah lain. Ia mengepalkan tangannya dengan sanagt kesal sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN