Aira menarik tangannya dan mundur satu langkah ke belakang.
"Jangan sentuh aku, Mas! Jangan mentang -mentang, Abi, Umi dan Kakek sudah memberikan mandat. Lalu kamu berani macam-macam. Ingat kamu itu cuma pengganti! Bukan pengantin aslinya," jelas Aira menegaskan.
"Aira ... Setiap pernikahan yang terjadi adalah sakral. Termasuk pernikahan kita yang sudah SAH dimata hukum dan agam. Kamu mau mengelak pun, rasanya percuma. Mau kamu bilang, aku hanya pengganti, tapi foto yang ada dibuku nikah kita itu adalah foto aku dan kamu," jelas Zidan dengan nada suara yang terdengar tetap tenang namun tak kalah tegas.
"Aira sedang tidak mau membahas soal itu. Aira mau minta Abi untuk segera mengakhiri pernikahan tanpa cinta ini," jelas Aira lagi.
Ia meletakkan koper di kasur dan membuka lalu merapikan isi koper itu ke dalam lemari tanpa peduli lagi pada Zidan yang sejak tadi mengekornya.
Aira tahu, dirinya sedang di pantau oleh Zidan. Tapi ia tidak peduli dan tetap melakukan aktivitasnya tanpa terganggu.
Waktu terasa cepat berlalu. Berada di tempat yang sunyi dan sepi membuat Aira lebih tenang tapi juga jenuh.
Aira keluar dari rumah kayu itu dan berdiri di teras sambil menatap ke arah gazebo panjang yang berada di smaping rumahnya.
Gazebo itu sangat terang. Tidak banyak yang datang kesana. Tapi, Aira bisa melihat sosok Zidan yang mulai sibuk mengurus anak-anak yang datang kesana. Dari mulai sholat maghrib berjamaah, karena Zidan sempat adzan di gazebo panjang itu.
Ada perasaan yang membuat tubuhnya berdesir saat Aira menatap Zidan dari kejauhan. Lelaki itu seperti tak asing dalam hidup Aira.
Lihat saja, Zidan memakai baju koko berwarna marun dan sarung putih dengan ukiran abstrak di bagian tengahnya. Dari kejauhan saja, wajah tampannya masih terlihat jelas. Auranya sangat positif sekali. Setiap gerak geriknya begitu lembut dan penuh wibawa.
Diam -diam Aira kagum pada Zidan. Ini bukan pertama kalinya ia membatin rasa kagum. Sejak perjalanan tadi menuju ke Kampung ini, sudah beberapa kali Aira membatin rasa yang sama. Tapi, rasa itu tidak boleh dipelihara begitu lama karena Zidan tetap hanya akan menjadi suami pengganti. Aira berharap, suatu hari ia bisa bertemu dengan Raka kembali. Dalam doa Aira, ia menginginkan Raka selamat dalam keadaan hidup serta sehat.
Akankah doa Aira ini dikabulkan?
Aira kembali tersadar oleh teriakan riang anak-anak yang sudah selesai mengaji. Mereka berebut menyalami Zidan dan menuruni gazebo sambil berlari menuju rumah mereka masing-masing.
Pemnadangan yang sangat indah dan sangat mirip seperti di film -film. Sayangnya, Aira dulu tidak mengalami masa kecil yang bebas dan indah seperti mereka. Ia hidup di sebuah Apartemen mewah dan semuanay serba tertutup.
Untuk urusan pendidikan dan mengaji saja ada orang khusus yang di datangkan untuk mengajari Aira.
Abi Ridwan memang sanagt sibuk sekali ketika berada di Turki. Umi Hany juga kadang sibuk dan kadang ada waktu untuk menemani Aira. Tapi, rasanay hidp Aiara seperti ada hal yang hilang. Seperti potongan puzzle yang tidak pas. Tapi apa?
"Kamu gak kedinginan?" tanya Zidan tiba -tiba yang sudah berdiri did epan Aira.
Sontak Aira begitu kaget dan langsung berdiri.
"Eum .. Enggak dingin. Emang lagi cari angin kok," ucap Aira ngeles dikit tak masalah kan.
"Oh ... Lain kali, kalau memang jenuh dan mau gabung di Gazebo, gak apa -apa lho. Kamu bisa bantu ngajarin mereka. Memang gratis sih, gak ada penghasilannya, tapi insha allah kita dapat pahala yang besar ..." ucap Zidan pada Aira.
"Iya ..." jawab Aira singkat.
Aira hanya menatap Zidan sekilas dan menatap tangan Zidan yang seharusnya ia cium seperti Umi Hany melakukan sikap hormat itu kepada Abi setiap Abi datang atau mau pergi bekerja. Katanya itu adalah simbol sikap hormat, sikap menghargai dan rasa sayang.
Apakah Aira harus melakukannya? Aira tidak cinta. Aira hanya kagum. Tapi, Zidan suami Aira.
"Ayo masuk ke dalam. Semakin malam, disini semakin dingin, nanti kamu sakit," titah Zidan pada Aira.
Sempat ada jeda hening sepersekian detik yang membuat Zidan mengambil keputusan untuk mengajak Aira masuk ke dalam rumah lagi.
"Kamu sudah makan?" tanya Zidan begitu lembut sambil meletakkan musaf kecil dan tasbih di nakas ruang tengah.
Aira hanya menggelengkan kepalanya pelan tepat saat Zidan menoleh ke arah Aira.
Zidan meraih tangan Aira dan menggenggam erat sambil mengajak sang istri ke dapur.
Dapurnya tidak besar tapi suasananya mmebuat betah.
"Kamu mau masak? Atau mau duduk biar aku yang masak? Kamu mau makan apa?" tanya Zidan mendudukkan Aira di kursi makan.
Zidan mengambil celemek dan memasang ditubuhnya lalu mengikat asal agar tidak terlepas.
Aira tetap diam dan tidak menjawab. Ia sanagt hobi mmemasak. Tapi, ia mmenag sedang malas untuk melakukan hobi kesukaannya itu.
Aira menatap punggung Zidan yang ada di depannya. Jaraknay agak jauh. Tapi, ia tahu lelaki itu sedang serius mengolah sesuatu untuk makan malam mereka.
Ini baru hari pertama, Aira pindah ke rumah ini dan ia butuh penyesuaian.