Tak berselang lama, Zidan membawa dua piring mie goreng spesial dengan bumbu rempah ala turki yang sangat khas.
Aira menghirup aroma makanan itu dan menatap kepulan asap dari dua piring makanan yang dipegang oleh Zidan. Wangi rempahnya semerbak sekali, membuat Aira tak kuasa menahan rasa laparnya sejak tadi.
Dua piring berisi mie goreng itu sudah ada di meja. Satu piring diletakkan tepat di depan Aira dan satu lagi di depan Zidan yang duduk di seberang Aira.
"Makan Aira ..." titah Zidan dengan senyum tulus.
Zidan menuangkan air putih dan mengambilkan alat makan yang diletakkan di piring Aira.
Aira menatap Zidan dan mengangguk kecil, "Makasih ya, Mas."
"Iya Aira. Makanlah, kira -kira kurang apa?" tanya Zidan mulai menggulung mie gorengnya di garpu dan mulai menyuap dengan nikmat.
Aira juga mulai menikmati mie goreng itu. Saat mie itu masuk ke dalam lidahnya, ada sensasi yang tak asing. Rasa itu seperti sudah biasa Aira kecap. Aira mengunyah sambil menatap Zidan yang juga sedang fokus dengan makan malamnya.
Saat Zidan tersadara, kalau Aira sejak tadi menatap dirinya, ia pun angkat bicara, "Ada apa? Kurang enak?"
Aira menggelengkan kepalanya pelan, "Enak kok. Enak banget malah. Aira kayak pernah makan, tapi dimana?"
Zidan tersenyum lebar, "Kamu suka?"
"Hu um ... Sangat suka sekali ... Rasanya kayak gak asing ..." ucap Aira menyuap kembali mie goreng itu.
Zidan tersenyum puas, rasanya ia ingin berteriak dan bilang pada Aira. Memang itu makanan kesukaan Aira. Menu makanan yang selalu Aira rengek untuk dibuatkan ketika bertemu dengan Zidan.
"Habiskan kalau begitu," titah Zidan dnegan tenang.
Makan malam terlewati dengan baik. Hubungan Aira dan Zidan cukup membaik. Aira tidak seketus kemarin dan sekarang nada suaranya juga sudah lebih lembut.
Zidan sudah selesai makan. Piringnya sudah kosong tak bersisa. Mie goreng buatannya sangat enak sekali. Begitu juga dengan Aira yang mampu menghabiskan mie goreng itu tapa drama.
Mie goreng yang benar -benar enak serta lezat. Siapa yang menolak untuk tidak menghabiskannya.
"Mas ... Kita tidur sekamar?" tanya Aira ragu. Ia mulai membuka pembicaraan dengan Zidan.
Lama -lama, Aira merasa aman dan nyaman bersama Zidan.
Zidan yang baru selesai minum pun langsung tersenyum simpul ke arah Aira.
"Kita suami istri, bukan?" Pertanyaan yang singkat tetapi jelas arah tujuan yang dimaksud Zidan.
Aira mengangguk kecil, "Suami istri."
"Kira -kira, kalau suami istri harus tidur bersama gak? Tinggal satu rumah? Menempati kamar yang sama? Tidak ada rahasia? Betul kan?" tanya Zidan pada Aira.
Aira mengangguk kecil membenarkan apa yang Zidan ucapkan, "Iya."
"Kamu keberatan satu kamar dengan aku?" tanya Zidan lembut.
Aira menarik napas dalam dan menatap cincin di jari manisnya. Cincin pemberian Raka masih melingkar cantik dijari Aira. Zidan sama seklai tidak keberatan. Aira tidak salah, waktu dan keadaan yang salah. Bahkan Zidan malah menyalahkan dirinya sendiri.
Aira langsung berdiri dan mengambil piring kosong itu, "Biar Aira yang cuci."
"He em ..." jawab Zidan singkat.
Zidan menoleh ke arah Aira dan menatap wanita yang kini benar -benar ia nikahi. Wanita itu sangat sempurna dimatanya.
Malam harinya, Aira sudah berada di kamar tidur dan sedang mmebaca buku hijrah yang ia temukan di rak buku ruang tengah. Disana banayk sekali buku yang belum Aira baca. Luamayan seklai untuk menepis rasa jenuh.
Ceklek ...
Zidan baru saja masuk ke kamar setelah memastikan seluruh pintu di rumah ini aman dan trekunci rapat.
Zidan melirik sekilas ke arah Aira yang masih fokus dan begitu serius dengan bukunya tanpa peduli dengan Zidan yang baru saja masuk ke kamar.
Zidan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri lalu kembali ke kamar dan ;angsung menaiki ranjang di sisi yang kosong.
Zidan membuka nakas dan mengambil dompet panjang lalu mengeluarkan sebuah kartu dan amplop cokelat.
"Ini untuk kamu," ucap Zidan pada Aira.
Aira mengangkat wajahnya dan menatap amplop serta ATM ditangan Zidan.
"Untuk apa?" tanya Aira polos.
Zidan menarik tangan Aira dan memberikan kedua benda penting itu ditelapak tangan Aira.
"Ini namanya nafkah, Aira. Nafkah lahir dari aku sebaga suami untuk kamu. ATM itu adalah tabungan, kamu bisa pakai sewaktu -waktu jika kamu perlu dan kamu bebas memakainya tanpa harus mmeinta ijin. Dan uang yang di amplop itu adalah uang bulanan kamu untuk belanja sayur. Setiap pagi, ada tukang sayur yang berhenti di depan jalan. Kamu bisa belanja disana atau di seberang jalan ada warung yang cukup lengkap untuk kamummebeli bahan atau perlengkapan yang kurang. Satu bulan sekali, kita akan ke kota berbelanja di supermarket yang kamu suka," jelas Zidan panjang lebar.
"Hmmm ... Aku masak?" tanya Aira pada Zidan.
Zidan mengangguk kecil dan tersenyum pada Aira, "Kalau kamu mau dan tidak keberatan? Kamu masak untuk aku? Kamu mau? Kalau tidak mau, biar aku yang masak. Karena, suami itu yang seharusnya mengurus rumah tangga. Aku yang bakal mengerjakan semuanya."
Zidan menutup pembicarannya dengan Aira. Ia tidak mau memaksa Aira untuk melakukan hal yang Aira tidak mau.
Zidan langsung menarik selimut dan mematikan lampu tidur di nakas. Malam ini, Zidan merasa lelah seklai. Setelah makan malam tadi, ia kedatangan tanu dan harus menemani tamu itu sampai larut malam seperti ini.
"Selamat malam dan selamat tidur, Aira ..." ucap Zidan lirih sekali.
Aira kembali menoleh ke arah Zidan yang sudah memindahkan posisi tubuhnya membelakangi Aira.
Aira hanya belum terbiasa denagn keadaan kampung ini. Aira pun menyimpan uang dan kartu ATM diatas nakas lalu menutup bukunya dan mematikan lampu tidur dan ikut merebahkana tubuhnya.
Keesokkan paginya ...
Aira bangun kesiangan. Pukul enam pagi, ia baru mmebuka kedua matanya.
"Astaghfirulah aladzim ... Kenaa kesiangan begini? Pules banget tidurnya," ucap Aira yang terburu -buru ke kamar mandi untuk segera berwudhu dan melaksanakan sholat shubuh walaupun sudah kesiangan. Tetap saja, sholat itu wajib dilaksanakan. Apapaun kondisinya.
Setelah sholat, Aira segera merapikan tempat tidur. Ia melihat sisi bagian tempat tidur Zidan yang sudah rapi.
Aira segera keluar dari kamar dan langsung indera penciumannya langsung dimanjakan dnegan aroma wangi masakan yang sangat AIra suka. Apalagi kalau bukan wangi ayam panggang wstern ala turki.
"Mas? Kamu gak bangunin Aira?" tanya Aira yang berjalan mendekati Zidan.
"Hmmm ... Kamu udah bangun? Maaf, bukan gak mau bangunin. Aku sudah tiga kali bangunin kamu dan kamu bilang nanti ah masih capek. Jadi aku mau gimana dong?" ucap Zidan terkekeh.
"Masa sih? Aira ngomong gitu?" tanay Aira bingung.
"Iya. Kamu tadi ngomong gitu," jelas Zidan lagi.
"Maaf ya, Mas. Aira bantu apa ini?" tanya Aira lagi.
"Gak usah bantu apa -apa. Ini udah mau selesai juga kok," jelas Zidan pada Aira.
"Hmmm ... Iya," jawab Aira singat. Tetap saja, Aira merasa tidak enak dengan Zidan.
Ini baru hari pertama, dan rasanya Aira sudah gagal menjadi istri.