10

787 Kata
Aira malah merasa tidak enak sendiri. Tadi di kamar tidur sudah bersih. Di ruang tengah dan ruang tamu juga sudah bersih. Zidan malah sedang memasak. Aira ingin melihat bagian samping tempat untuk mencuci baju tetapi ia semakin tercengang melihat cucian sudah tidak ada di keranjang kotor dan malah sudah berjajar rapi di jemuran. Zidan ini suami atau malaikat sih? Kenapa begitu baik sekali. Aira malah semakin merasa bersalah dengan situasi yang seperti ini. Bayangkan saja, ia malah memakai cincin tunangan dnegan Raka dan sama sekali tidak memakai cincin pernikahan pemberian Zidan. Sempat Aira pakai, namun ia lepas lagi dan sampai sekarang hanya menjadi penunggu kotak musik perhiasan yang ia bawa dari rumah. Aira menatap tanah lapang yang luas di bagian belakang. Rumah kayu ini terletak ditengah -tengah tanah yang luas. Tidak dekat dengan rumah mana pun. Hanya saja kalau dari depan, rumah tetangga terlihat jelas berjajar dan cukup ramai. Sepertinya, Aira perlu ngobrol dengan para ibu -ibu disini. "Aira ... Sarapannya sudah matang ..." panggil Zidan dari arah dapur. "Iya Mas ..." jawab Aira singkat. Aira sempat melihat ada sungai di belakang rumahnya. Jaraknya cukup lumayan dari rumah kayunya. Mungkin suatu hari, Aira perlu kesana untuk mencari oksigen segar atau sekadar melihat pemandangan saja. Aira masuk kembali ke dapur dan duduk di kursi. Ia menatap Zidan yang sudah melepas celemek dan kini sedang membuatkan minuman hangat untuk Aira. Aira semakin kagum melihat sosok Zidan yang tampan dan soft spoken itu. "Ini minuman hangat untuk kamu, Aira. Cuaca disini agak dingin, kamu perlu minuman yang bisa membuat tubuh kamu selalu terasa hangat," titah Zidan pada Aira. Mereka berdua menikmati sarapan pagi yang menurut Aira ini adalah sarapan terbaik. "Mas ..." panggil Aira ragu. "Ya ..." jawab Zidan singkat. "Eum ... Kalau AIra berjalan -jalan di sekitar kampung sini lalu kenalan dengan ibu -ibu, gimana?" tanya Aira smekain ragu. Ia mengunyah makanan di mulutnya dengan pelan. Takut, Zidan melarangnya untuk bersosialisasi. Zidan tersenyum lebar dan mengangguk, "Bagus dong Aira. Aku sennag, kalau kamu mau mengenal kampung ini dan bersosialisasi dengan yang lain. Kamu bebas menentukan apapun selagi yang kamu lakukan adalah hal positif." Tubuh Aira pun berdesir merinding. Sneyum tulus Zidan membuat hatinay meleleh. Lihat saja, dua lesung pipi itu begitu menawan. Jujur, semkain hari, Aira semkain lupa dengan Raka. "Mulai minggu dpean, mungkin aku sering pergi ke Kampung sebelah Aira. Aku harap, kamu bisa mengerti," ucap Zidan lembut. "ANak -anak yang tiap sore mengaji bagaimana?" tanya Aira mulai merespon. "Ya mau gimana lagi? Kalau aku tidak ada, mungkin libur ..." jelas Zidan. "Jangan Mas. Giamna kalau AIra saja yang menggantikan Mas mengajar. Aira bisa kok ..." jelas Aira meyakinkan. "Kamu serius? Kamu bisa? Kamu gak keberatan Aira?" tanya Zidan lagi memastikan. Ia tidak ingin membuat Aira merasa kerepotan. Aira mengangguk kecil dan tersenyum tipis, "Aira bisa kok. Klaau cuma ngajarin anak -anak mengaji." "Benar? Kamu mau?" tanya Zidan lagi memastikan. Jujur, Zidan sangat senang sekali. Ia benar -benar bahagia. Tidak sia -sia, Zidan selalu meminta sama Allah agar melembutkan hati Aira. Memang semuanya perlu diminta kepada sang pencipta karena Allah maha kaya dan maha segalanya. Setelah sarapan pagi, Aira pun mulai berjalan -jalan di sekitar rumah kampung itu. Ia ura -pura ke warung untuk berbelanja sambil mencari apa yang kira -kira dibutuhkan di rumah. Sedangkan Zidan sedang berada di Gazebo. Kebetulan ia harus mengajar anak -anak membaca dan menulis. Progres pembuatan skeolah gratis sudah akan selesai. Banyak sekali perencanaan yang sedang Zidan list saat ini. Satu per satu memang harus diwujudkan. "Siang Bu ... Mau cari mie instant? Ada?" tanya Aiar sopan. Seorang Ibu keluar dari dalam rumah dan menatap Aira sambil tersenyum, "Istrinya Pak Ustadz Zidan ya? Cantik banget kayak bidadari." "Eum ... Iya Bu," jawab Aira begitu malu. Wajahnya terasa panas dan pastinya memerah. "Tambah cantik lho mbak Aira. Beda waktu dulu pertama kali kesini sama Pak Ustadz Zidan ..." ucap Ibu warung itu sambil mencarikan beberapa jenis mie instant untuk dipilih Aira. "Apa Bu? Saya pernah ke Kampung ini sebelumnya?" tanya Aira bingung. Ibu warung itu tersenyum dan mengangguk, "Iya Mbak. Masa lupa sih? Mbak ini sudah sering ke Kampung ini dan mneginap di rumah kayu itu." Aiara mengerutkan keningnya dan ia benar -benar bingung. Masa iya? Aira pernah kesini sebelumnya. Kenal Zidan pun tidak. Apalagi menginap? Ada urusan apa? "Bu ... Ibu gak salah orang?" tanya Aira kembali memastikan. "Ya enggaklah mbak Aira .. Klaian itu pasangan yang sangat serasi sejak dulu," jelas Ibu warung itu dengan suara meyakinkan sekali. "Eum ... Mie instantnya lima, campur ya bu. Sama telur sekilo terus ... sosis ada?" tanya Aira dengan kepala yang begitu pening sekali. Mendadak kepalanya seperti sakit dan tertusuk -tusuk. Kata -kaata ibu warung itu benar -benar mengganggu Aira. Ia menjadi kepikiran soal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN