Pagi itu tidak berjalan sehalus biasanya. Lara menangis lebih dulu—tangis khas yang bernada tinggi dan panjang. Disusul Lino, yang entah kenapa ikut marah meski belum sepenuhnya bangun. Naya terjaga dengan jantung berdebar, refleks bangkit dari ranjang bahkan sebelum Leo membuka mata. “Sayang…” gumam Leo, setengah sadar. “Aku bangun—” “Tidur aja,” potong Naya cepat sambil menggendong Lara. “Kamu lembur tadi malam. Pasti masih capek banget.” Leo tetap bangun, mengucek mata. “Aku bantuin kamu ya.” "Nggak apa-apa, aku bisa." "Kita ini partner, lho," sahut Leo tidak mau istrinya sendirian. Naya hanya mengangguk setuju. Dia tahu, Leo tidak akan mendengarkannya kalau sudah ngotot begitu. Di kamar bayi, suasana sudah seperti alarm darurat. Lara menolak digendong diam-diam, Lino memukul-muk

