Pramuja terus mengawasiku dengan seksama, matanya sangat tajam hingga kemanapun aku pergi selalu saja dia ikuti. Kadang perilakunya sering membuatku malu dan salah tingkah. Seperti saat ini, dia terus mengekor di belakangku sambil tangannya sesekali menggelitiki pinggangku. "Sudah cukup sayang, sekarang kau harus beristirahat," perintah Pramuja untuk yang kesekian kalinya. Karna ingin membuatnya mengerti, aku tidak memperdulikan perintahnya dan terus menyusuri perkebunan teh sambil terus menjelaskan padanya bagaimana cara merawat dan menjaga kesuburan tanaman teh agar hasilnya bisa memuaskan. "Nanti saja sayang, aku masih belum selesai," jawabku sambil terus menunjukkan beberapa tanaman teh yang bagus kepadanya. "Sampai kapan kau akan terus mengajariku seperti ini Zahra?" protes Pramu

