Kantor yang biasanya jadi tempat pelarian Hannan dari dunia yang tak pernah berhenti menuntut, kini terasa sesak. Dingin pendingin ruangan tidak sanggup meredam bara yang terus menghanguskan dadanya. Pandangan matanya tajam menatap laporan di layar laptop, tapi tidak satu kalimat pun benar-benar dia baca. Telepon dari Ira tadi pagi masih berdengung di kepalanya. "ASI Bu Andini mulai berkurang. Dia stres berat, Pak Hannan. Bukan hanya soal sidang, dia juga kelelahan. Jadwal harian demi meningkatkan kualitas ASI saja sudah menumpuk, kini dia harus belajar agar menang di sidang. Semuanya terdengar—memberatkan." Hannan tidak menjawab saat itu. Namun kini, jari-jarinya mengepal di atas meja kerja. Dirga. Nama yang terus muncul dalam pikirannya seperti duri. Bukan hanya karena Dirga pernah