Katia menatap jemari kakinya yang terbenam di dalam lumpur. Kegelapan disekelilingnya membutakan indra pengelihatannya. Menggantinya dengan rasa takut. Belenggu besi terpasang pada kaki kanannya menyambung pada sebuah rantai panjang. Ketika matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, dilihatnya bayangan puluhan orang lain yang berdiri di pinggir sungai itu; terikat satu sama lain di kaki mereka, bagaikan tahanan yang hendak digiring masuk penjara. Selisih beberapa orang darinya, sosok gemuk Benny menarik perhatiannya. Wajahnya biru pucat, sementara matanya berputar ke segala arah kebingungan, hingga tatapannya menemukan Katia. “Kau..” ujarnya berusaha mendekati Katia. Suara rantai terdengar bergerincing tiap kali pria itu menggerakkan kakinya. “Apa yang kau lakukan padaku? Dimana ini?”

