bc

Gadis Hyper Kesayangan Bos Mafia

book_age18+
67
IKUTI
1.1K
BACA
arrogant
badboy
mafia
drama
sweet
bxg
highschool
like
intro-logo
Uraian

Adrian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Regina, seorang gadis somplak dan ceria yang mengubah dunianya.Adrian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Regina. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Adrian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Regina seutuhnya.Jangan lupa masukkan cerita ini ke library kalian, dan yuk kawal perjalanan Adrian dan Regina sampai akhir!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Kenyataan tidak Seindah Mimpinya
"Tarik napas... tahan... dan panggil jiwamu, Regina!" ​BOM! Setiap orang berhak punya mimpi besar. Bagi Regina Anastasia gadis 22 tahun yang kelewat energik dan sedikit sableng mimpinya adalah menaklukkan panggung musik. Di kepalanya, selalu terputar adegan yang sama setiap malam sorotan lampu megah, mikrofon di tangan, dan ribuan penggemar yang menangis histeris mendengarkan lantunan suaranya. Masalahnya, tangisan histeris itu memang benar- benar terjadi di dunia nyata. Bedanya, orang-orang menangis bukan karena terharu, melainkan karena gendang telinga mereka tersiksa. Prinsip hidup Regina memang selalu nikmati hidup dengan caramu sendiri,tapi kluarganya jelas tidak bisa menikmati caranya bernyanyi. Alih-alih menjadi idola masa depan, gadis itu harus puas menyandang gelar kehormatan abadi di rumahnya sendiri: " Regina Fals". Orang tua dan kakaknya selalu sukses mengalami sakit telinga setiap kali Regina mulai tarik suara. Bagaimana tidak? Suaranya saat bernyanyi memang benar-benar di luar prediksi BMKG memang sama sekali tidak bisa di harapkan. "Don't stop believin', hold on to that feelin'!" Regina melantunkan lirik lagu milik Journey itu dengan penuh semangat, bahkan sampai menutup telinganya sendiri saat nada tinggi datang. Dia tahu suaranya tidak pas, tapi hal kecil seperti "fals" tidak akan pernah menghentikannya. Dia terus bernyanyi hanya karena satu alasan: dia bahagia. "RE-GINA! Bisa nggak kamu berhenti teriak-teriak kayak monyet berantem?!" Sebuah teriakan membahana dari luar kamar. Itu suara mamanya, Shinta, yang sebenarnya sudah kebal tapi tetap saja jengah dengan kegilaan putrinya. "Ini bukan teriak, Ma. Aku sedang latihan vokal! Ah, Mama nggak asyik, ah!" Regina berteriak balik sambil memutar bola matanya.Ia tahu sang mama menganggap hobinya ini membuang-buang waktu. Namun bagi Regina, selagi hal itu membuatnya bahagia, tidak ada istilah buang waktu dalam kamusnya. Setelah mengenakan jaket kulit hitam, celana hitam, dan memasukkan sepasang headphone ke dalam tas, Regina keluar dari kamar dengan senyum lebar yang seolah sudah dipatenkan di wajahnya. Meski sudah kenyang gagal dalam audisi menyanyi, tetapi semangatnya tidak pernah luntur. Sore menjelang malam ini, ia akan mencoba peruntungannya lagi. Riasan wajah Regina sore ini tetap konsisten dengan gaya andalannya: anak punk nyentrik. Matanya dirias dengan eyeshadow hitam pekat, ditambah lipstik hitam, dan kuku yang juga diwarnai hitam. Padahal, wajah aslinya sangat cantik. Hanya saja kecantikan itu sering kali bersembunyi di balik penampilan ekstrem yang tidak biasa di mata orang pada umumnya. Kali ini, Regina mendaftar di sebuah ajang pencarian bakat yang diadakan di mal besar pusat kota. Dia sangat yakin para juri akan melihat potensinya. Baginya, industri musik bukan cuma soal suara, tapi juga tentang penampilan unik dan energi panggung yang luar biasa. "Reg, lo yakin mau ikut lagi? Kemarin kan dibilang sama juri kalau suara lo... ya gitu deh," Reni,sahabatnya yang tomboi itu sudah menunggu di depan rumah, menunggangi motor CBR kesayangannya, sahabatnya yang satu ini udah memastikan. Regina langsung naik ke boncengan sambil mendengus. "Reni, dengerin ya. Orang sukses itu bukan yang nggak pernah gagal, tapi yang nggak pernah menyerah!" Reni mendesah pasrah, tidak mampu mendebat kekerasan kepala sahabatnya. "Iya, iya, calon bintang rock," katanya lalu tertawa. "Erlan mana? Gak ikut?" Erlan adalah sahabat Regina yang lain. Cowok keren, kalem, dan sangat populer di kalangan perempuan sejak zaman SD. Berbeda dengan Reni yang populer karena gaya tomboinya yang asyik, Erlan dikagumi karena kepribadiannya yang misterius. "Ada, katanya dia bakal langsung menyusul ke mal." "Oh, okey, jalan!" Regina menepuk bahu Reni dengan kuat. Reni hanya menggeleng-gelengkan kepala sebelum menarik gas motornya. Sesampainya di mal, antrean peserta audisi sudah mengular panjang. Ada yang berpakaian kasual, ada juga yang tampil glamor bak artis papan atas. Namun jelas, hanya ada satu orang yang berdandan ala anak punk dengan makeup gotik yang mencolok: Regina Anastasia. Ketika gilirannya tiba, Regina melangkah ke atas panggung kecil dengan dagu tegak dan rasa percaya diri setinggi langit. Di hadapannya, tiga orang juri duduk dengan ekspresi datar, menatap kehadirannya dengan penuh harap... atau mungkin kewaspadaan. Sementara itu, Reni dan Erlan yang baru tiba memilih menunggu di luar ruangan audisi. Di dalam ruangan, Regina memulai aksinya dengan memperkenalkan diri di hadapan ke-tiga juri. "Halo Juri! Perkenalkan, nama aku Regina Anastasia, umur 22 tahun. Hari ini aku akan membawakan lagu Bohemian Rhapsody!" Seorang juri berkacamata langsung mengernyitkan dahi. "Lagu yang... cukup menantang. Kamu yakin mau membawakan lagu itu?" Regina mengangguk mantap dengan senyum lebar. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai mengeluarkan suara emasnya!. "Is this the real life? Is this just fantasy...?" Seketika, orang-orang di dalam ruangan terkesima. Bukan karena keindahan suaranya, melainkan karena mereka... tidak yakin apakah suara itu benar-benar berasal dari pita suara manusia. Nada-nada tingginya melengking aneh, terdengar seperti teriakan burung beo kesurupan. Beberapa orang yang di dalam ruangan mulai menahan tawa sampai bahu mereka terguncang. Namun, Regina tetaplah Regina. Dia menutup mata, menghayati setiap lirik dengan penuh perasaan tanpa memedulikan orang sekitarnya. Hingga akhirnya, salah satu juri mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk menghentikannya. "Stop! Stop... cukup, Regina." Regina membuka mata, lalu tersenyum lebar. "Keren, kan? Aku bisa nyai lagu yang susah!" Juri tersebut menghela napas panjang. sementara juri di sebelahnya mati-matian menahan tawa. "Regina, nama kamu Regina, kan?" Regina mengangguk kepalanya dengan ceria. "Regina, suaramu itu sangat... sangat unik." "Aku tahu! Itu ciri khas aku!" balas Regina cepat, matanya berbinar. Juri itu menatapnya lama, lalu berkata dengan nada sesimpati mungkin, "Aku suka semangatmu. Tapi... aku rasa panggung ini bukan tempat yang tepat untukmu. Kamu tidak lolos." Regina terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian senyum khasnya kembali terbit. "Baiklah! Kalau nggak lolos di sini, aku pasti lolos di tempat lain! Terima kasih, Juri!" Gadis itu turun dari panggung dengan langkah tegap, diiringi tatapan bingung dari para penonton. Di luar ruangan, Reni dan Erlan sudah berdiri bersebelahan, siap menyambut Regina dengan helaan napas panjang. "Reg, lo nggak sedih?" tanya Reni hati-hati saat Regina berjalan mendekat. Regina menatap kedua sahabatnya bergantian dalam diam. Wajahnya datar tanpa ekspresi selama beberapa detik. Namun, sesaat kemudian... "Hwaaaa!" Tangisan kencang Regina pecah seketika, sukses mencuri perhatian puluhan peserta lain yang sedang mengantri di koridor. "Gue nggak lolos lagi! Padahal ini udah puluhan kalinya gue ikut audisi, Kenapa sih juri-juri itu nggak sadar kalau suara gue itu unik dan langka? Memangnya mereka pengen suara yang kayak gimana, sih?! Suara unik, penampilan nyentrik, wajah... jangan ditanya lagi, menjual banget, Tapi kenapa nggak pernah dilolosin? Gue sedih, hwaaa!" Tangisan heboh Regina justru terdengar kocak di telinga orang-orang. Beberapa peserta yang stres mengantri malah merasa terhibur. Ada yang menganggapnya berlebihan, tapi kebanyakan merasa Regina adalah gadis dengan rasa percaya diri tinggi yang menggemaskan. Dia sedang bersedih, tetapi cara sedihnya justru membuat orang lain tertawa. Sementara itu, Reni dan Erlan mendadak diserang rasa malu yang luar biasa. Sebagai sahabat sejak kecil, mereka sebenarnya sudah hafal di luar kepala kelakuan ajaib Regina. Gadis ini memang sering memalukan, tapi kalau tidak ada dia, dunia mereka ga rame. "Reg, ayo pergi dari sini. Lo nggak sayang apa sama makeup emo lo? Nanti luntur semua itu," bisik Reni sambil celingukan, mencoba meredam suasana. "Nggak peduli! Malam ini gue mau menikmati kesedihan sendirian.Lo berdua pulang aja sana!" Setelah engatakan itu, Regina berbalik dan langsung berlari membelah kerumunan mal. "Regina! Woy! Udah malam ini! Ya elah, tuh anak!" Reni teriak kencang, lupa kalau mereka sedang jadi pusat perhatian. Reni bersiap mengejar, namun Erlan menahan lengannya. Cowok cool itu hanya menatap kepergian Regina dengan santai. "Biarin aja. Dia udah biasa kaya gitu, kan? Nanti juga dia bakal nyariin kita lagi kalau udah bosan, atau tahu-tahu pulang sendiri," ucap Erlan tenang. Sebab mereka tahu, badai kesedihan seorang Regina Anastasia tidak akan pernah bertahan lama. Besok, dia pasti sudah siap menyiksa telinga orang-orang lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
854.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
392.4K
bc

Not just, the Beta

read
365.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook