Ricard masih berada di dalam kamar milik Madiya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan wanita itu sendiri untuk saat ini. Dia juga menyuruh anak buahnya yaitu Robi untuk membelikan obat yang sudah diresepkan oleh Haris kepada dirinya.
"Kamu tetap bertahan yah," bisik Richard.
Hingga tak lama kemudian, Madiya mulai membuka matanya, dia sedikit terkejut ketika melihat Richard ada di dalam kamarnya. Mengingat percakapan waktu itu bersama dengan Richard yang malah mengatakan menginginkan tubuhnya, membuat Madiya panik.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Richard.
"Kamu tidak ingat?" tanya Richard.
Madiya menoleh kearah bawah dan bajunya masih utuh, dia langsung mengambil selimut karena merasa takut dengan Richard yang masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu tidak melakukan apapun?" tanya Madiya.
"Memangnya kamu pikirkan aku pria m***m. Kamu tidak ingat semalam?" tanya Richard.
"Aku tidak ingat, semalam kepalaku pusing," gumam Madiya.
"Kamu pingsan semalam, sekarang kamu sarapan bubur yah."
Richard mengambilkan mangkuk yang sudah dia isi dengan bubur. Madiya hanya melihatnya saja, entah kenapa dia malah terasa ngan makan.
"Aku tidak lapar."
"Kamu belum makan dari kemarin, makanya kamu sampai pingsan. Sini biar aku suapi," kata Richard langsung mengambil sendok dan dia langsung menyuapi Madiya.
Madiya yang memang merasa lemah akhirnya tidak membantah dan dia membiarkan Richard saja yang menyuapi dirinya.
"Nanti setelah ini kamu minum obat, jangan banyak membantah karena aku tidak terima penolakan," ucap Richard di
"Memangnya kamu tau apa yang harus aku minum obatnya?" tanya Madiya sedikit ragu.
Richard hanya mengangguk sambil tersenyum, tentu saja dia tahu apa yang harus diminum oleh Madiya karena dia sempat memeriksa keadaan oleh Haris.
"Tentu saja, aku sudah menyuruh dokter buat memeriksa kamu tadi. Dia yang memeriksa kamu, dan aku juga menyuruh Robi untuk membelikan obat dari resep yang sudah diberikan Haris padaku."
Madiya hanya tersenyum tipis, lalu dia memandang bubur yang ada di tangan Richard, sepertinya memang sangat terlihat enak.
"Ayo buka mulutnya," suruh Richard.
Madiya membuka mulutnya dan Richard menyuapi dirinya. Dia sama sekali tidak menolak yang dilakukan oleh Richard. Ada rasa yang membuat dia merasa senang karena dia mendapatkan sebuah perhatian dari Richard.
"Terimakasih banyak."
Richad tersenyum tipis hingga mendengar suara bell berbunyi. Dia sudah bisa menebaknya kalau itu adalah dari Robi
"Sepertinya itu Robi. Aku akan menemui dirinya dulu. Dia membawakan obat untuk kamu," ujar Richard yang berpamitan pada Madiya dan dia langsung membuka pintunya.
Dia melihat Robi yang membawakan obat untuk Madiya. "Terimakasih banyak Robi."
"Iya sama-sama. Oh yah tentang pernikahan itu, apa kamu akan mengundang ayahnya Madiya?" tanya Robi.
Mengingat Robi yang mengurus semuanya dengan baik sebagai asisten dari bosnya yang selalu siap siaga atas apa yang terjadi saat ini.
"Tidak, aku tidak ingin membuat dia mengetahui semuanya dulu." Richard akan memberikan sebuah kejutan nanti. Dia tidak akan memberitahu ayahnya Madiya. Tentu saja dia tidak peduli dengan semuanya.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu."
Robi akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Richard kembali bekerja ke dalam kamar Madiya sambil mengambil air minum terlebih dahulu.
Diam-diam Richard memperhatikan wajah Madiya yang terlihat pucat, rasanya dia tidak tega melihat Madiya sakit seperti ini. Apalagi wanita itu yang biasanya suka bercanda dan terlihat ceria.
Akhirnya Richard membuka obat dan memberikan minum untuk Madiya.
"Biar kamu cepat sembuh, sekarang minum obat yah," suruh Richard.
"Kamu tahu, aku paling benci ketika suruh minum obat," tolak Madiya karena dia tidak mau jika harus dipaksa minum obat.
Richard berpikir untuk melakukan cara agar wanita itu paham dengan dirinya. Dia berpikir untuk cara agar Madiya mau minum obat.
"Lo mau ngapain?" tanya Madiya sedikit panik ketika melihat Richard yang tersenyum aneh. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pria itu?.
Richard memasukan obat itu pada mulutnya. Madiya membulatkan matanya ketika Richard yang malah mendekati dirinya. Madiya tidak bisa mundur ketika Richard yang semakin dekat, hingga Madiya bisa merasakan sebuah sentuhan dari bibir Richard yang menurutnya manis.
Madiya hendak akan memukul Richard ketika dia merasa kesal. Bisa-bisa Richard malah berusaha untuk menerobos masuk ke dalam bibirnya. Memasukan obat itu pada mulut Madiya.
Kedua tangan Madiya bahkan dicekal oleh Richard ketika tau kalau akan berontak. Madiya menerima obat itu karena sudah berada di dalam mulutnya saat ini.
Richard tersenyum dengan senang lalu dia langsung melepaskan tautan bibir itu ketika sudah selesai memberikan obat. Lalu dia mengambil air minum pada Madiya.
"Minum, agar kamu terbiasa minum obat."
Madiya mendengus kesal dengan ide gila dari Richard barusan. Tetapi akhirnya dia meminum juga karena bibirnya terasa getir dan pahit.
"Menyebalkan sekali, ini adalah ciuman pertamaku," kesal Madiya.
Berbeda dengan Richard yang menertawakan Madiya. Jelas dia tahu kalau itu adalah ciuman pertama Madiya karena tadi wanita itu terlihat sangat kaku ketika dia cium.
"Aku hanya membantumu minum obat. Lain kali jangan sampe telat makan!" peringat Richard.
Madiya sedikit terkejut dengan ucapan dari Richard barusan. Pria itu sampai tahu kalau dia memang tidak makan semalam. Terlebih dia tidak punya uang hanya sekedar untuk delivery makanan.
"Tidak usah sok peduli denganku, bukannya kamu bilang untuk mengurusi urusan pribadi."
Madiya hanya tidak ingin ada orang yang peduli dengan dirinya. Apalagi selama ini dia memang hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
Richard juga kesal karena Madiya malah mengatakan itu padanya. Walaupun dia menyadari perkataan itu memang awalnya dia yang mengatakan.
"Aku melakukan itu karena aku tidak mau kalau sampai ada mayat mati di apartemenku ini."
"Terserah, aku tidak peduli," ketus Madiya.
"Aku juga tidak mau kalau sampai calon pengantinku nanti sakit, apalagi pas acara pernikahan," sindir Richard agar Madiya menyadari semuanya.
Bagaimana caranya agar wanita itu bisa peka dengan dirinya. Apalagi dia berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya sekarang.
"Kamu tenang saja, aku pasti sembuh nanti," balas Madiya karena tidak suka dirinya malah dikatakan sebagai orang yang penyakitan.
Richard yang mendengar itu pun hanya tersenyum tipis. Setidaknya Madiya ada semangat untuk hidup. Dia juga sudah menyiapkan bahan makan untuk Madiya masak nanti. Kebetulan tadi dia menyuruh Robi untuk melakukan hal tersebut.
"Jika kamu mau masak, semua bahan makanan sudah tersedia sekarang. Lain kali kalau bahan makanan habis, kamu bisa menghubungiku. Kita bisa belanja bersama," terang Richard memberitahu Madiya.
Mata Madiya langsung berbinar mendengar apa yang dikatakan oleh Richard barusan. Akhirnya pria itu sedikit peka dengan membelikan dia bahan untuk masak.
"Terimakasih banyak."
"Untuk?" tanya Richard membuat Madiya sedikit gugup ketika ditanya seperti itu. Apa pria itu tidak peka dengan yang dia maksud?
"Sudah perhatian padaku dan menolongku."
Madiya mengatakan itu dengan malu, padahal sakitnya jarang kambuh. Tapi dia merasa lega setidaknya di saat sakitnya kambuh dia tidak dalam kondisi sendirian.
Richard hanya tersenyum tipis saja, dia menyadari hal kemarin juga karena kesalahannya.
"Aku juga meminta maaf, karena gara-gara aku kemarin. Kamu jadi seperti ini."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa seperti ini. Lagian aku menyadari posisiku sekarang ini," kata Madiya hanya bisa tersenyum tipis tanpa berkata apapun lagi. Dia sadar posisinya yang akan menjadi istri sewaannya Richard.
"Kita akan menikah dua hari lagi. Ingat kesehatanmu baik-baik, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," gumam Richard.
Madiya tersenyum tipis kearah Richard barusan, ada rasa yang membuat dia merasa sedikit bahagia. Apa dia perhatian padanya, bahkan dia tidak menyangka sama sekali.
Richard malah kepikiran dengan perkataan Haris tentang menemui ibunya Sabira. Mungkin dia akan meminta izin untuk menikah. Tapi dia tidak akan mengatakan semuanya dulu untuk saat ini. Terlalu bahaya kalau dia mengatakan semuanya. Apalagi dia masih takut dengan kejadian beberapa tahun saat dia kehilangan Sabrina.
"Dulu aku sudah kehilangan Sabira karena kesalahanku sendiri, aku tidak mau kehilangan Madiya juga."
Richard mengingat kejadian yang sudah menimpa Sabira, dia tidak mau kalau Madiya juga sampai melakukan hal yang sama. Apalagi dia tahu kalau Sabira dan Madiya adalah saudara kandung.
Richard masih merahasiakan fakta ini dari Madiya, dia belum siap mengatakan semuanya karena takut nanti Madiya juga akan salah paham dan menyalahkan dirinya setelah kematian Sabira."
BERSAMBUNG