Bab 10 Pernikahan Richard Dan Madiya

1430 Kata
Hari pernikahan yang memang sudah dinantikan oleh Richard dan semua orang yang ada di sini telah tiba. Para tamu undangan mulai penasaran dengan seorang yang menjadi istri dari Richard Gare Malvino "Apa itu istrinya?" bisik istri seorang pengusaha rental. "Sepertinya begitu, dia lumayan cantik." "Iya sih lumayan cantik, tetapi identitasnya tidak jelas," bisik yang lainnya. Ana yang mendengar itu pun sedikit merasa tersinggung. Kenapa juga Richard mau menikah dengan seseorang yang tidak tahu jelas identitasnya seperti itu. Membuat keluarganya merasa malu saja. Bahkan kolega bisnisnya sekarang membicarakan tentang pernikahan tersebut. Madiya berdiri dengan gaun yang mewah dan sekarang dia berjalan menuju altar sambil memegangi bunga ditangannya. Madiya juga mendengar bisik-bisik dari orang-orang yang ada disekitar dirinya. Sepertinya mereka tidak menyukai dirinya. "Sudah siap?" bisik Richard. "Iya aku sudah siap." Richard melihat kearah orang yang ada di hadapannya. Lalu dia mengucapakan janji di hadapan pendeta bersama dengan Madiya. Setelah mereka mengikrarkan janji setia tersebut, pendeta meminta Richard untuk menciumnya. "Silakan kalian berciuman," ujar pendeta tersebut. Semua orang menatap kearah pengantin baru tersebut dengan penuh harap, ada juga yang menatap sinis pasangan pengantin tersebut. Richard menghadap kearah Madiya dan dia melakukan hal yang diperintahkan oleh pendeta tersebut. Dia mencium bibir Madiya dengan manis. Deg Madiya sedikit gugup ketika dia merasakan benda kenyal dan lembut itu menyentuh bibirnya dengan manis. Dia sama sekali tidak menyangka dengan yang dia lihat sekarang. "Apa kamu merasa gugup?" bisik Richard ditelinga Madiya ketika melihat wanita itu hanya diam saja tanpa ekspresi sedikitpun. "Tidak, aku biasa saja." Madiya hanya menjawabnya dengan singkat. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu harus melakukan apalagi. Sampai Robi datang menghampiri kedua pengantin baru tersebut. "Selamat yah atas pernikahan kalian berdua," ujar Robi sambil tersenyum dengan penuh arti kearah Richard. "Terimakasih banyak Robi," balas Richard dengan ketus karena dia tahu kalau Robi meledek dirinya dengan tatapan seperti ini. Madiya melihat kearah Ana yang sedang berjalan menghampiri dirinya. Ada perasaan khawatir karena wanita tua itu menatap dirinya dengan sinis. "Padahal mamah sudah menyiapkan wanita yang lebih cantik dari ini, tetapi kamu malah memilih wanita seperti itu. Bahkan identitasnya juga tidak jelas. Sudah pasti kalau dia adalah wanita kampungan," sindir Ana sambil menatap kearah Madiya. Richard menggenggam tangan Madiya karena dia tahu kalau Madiya merasa gugup. "Berhentilah menghina istriku, aku sedang malas untuk berdebat sekarang," ujar Richard. Ikram menggenggam tangan istrinya karena takut akan membuat keributan di sini. Apalagi dia mengundang kolega bisnisnya. "Jangan berdebat di sini mah, kolega bisnis kita melihat," bisik Ikram kepada istrinya. "Mamah yang malu di sini seharusnya gara-gara Richard. Mau ditaruh di mana muka mamah kalau semua orang tau punya menantu tidak jelas asal usulnya seperti dia," sindir Ana sambil menunjuk kearah Madiya. Madiya tidak bisa melakukan apapun selain menundukkan kepalanya. Dia juga tidak bisa mengatakan identitas kedua orangtuanya. Richard sedikit merasa kesal dengan ibunya sekarang. "Mamah tidak tau asal usul keluarganya, tapi aku tau keluarga," hardik Richard. Richard membela Madiya karena memang dia tau semuanya tentang wanita itu. Dia tidak rela ketika ibunya sendiri yang malah menghina tentang Madiya. "Richard jangan membuat keributan di sini. Banyak orang yang datang ke sini," bisik Madiya memberitahu Richard agar tidak emosi untuk saat ini. Apalagi nanti nama baiknya yang akan rusak. Ikram menatap kearah istrinya dengan sekilas. Dia tidak mau acara anaknya malah rusak. Dia tidak bisa membiarkan semuanya. "Sudah mah, ke lebih baik kita pulang. Acaranya juga sudah selesai." Ikram yang tau situasi akhirnya menarik tangan istrinya. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada dirinya. Madiya hanya menundukkan kepalanya saja, dia tidak suka ditatap sinis seperti itu. Dulu juga ibu tirinya sering menatap dirinya jadi seperti ini. Bahkan dia tidak tahu kehidupan dirinya jadi sulit. **** Richard merasa lega karena acara pernikahan dirinya dengan Madiya sudah selesai. Dia lega karena ibunya tidak membuat keributan di acara pernikahan dirinya. "Madiya," panggil Richard kepada sang istri. "Iya." Madiya merasa gugup sambil melihat kearah Richard dengan sekilas. Madiya merasa lega karena kehidupan dirinya sudah jadi lebih baik. "Terimakasih karena kamu sudah mau jadi istri sewaanku. Ini uang bulanan yang aku janjikan," ujar Richard. Madiya menaikan sebelah alisnya ketika Richard yang memberikan kartu ATM padanya. "Ini untukku?" tanya Madiya merasa kebingungan. "Bayaran, sesuai dengan keinginan kamu waktu itu. Kamu bisa membelanjakan apa saja yang kamu suka, termasuk membeli bahan makanan agar kamu bisa masak di sini. Madiya yang senang tiba-tiba memeluk Richard tanpa sadar. Dia bahagia bukan karena uang yang diberikan oleh Richard. Tapi dia senang karena akan membeli bahkan makanan, Madiya senang sekali masak. Richard terkejut ketika Madiya yang memeluknya dengan erat. Ini sungguh diluar dugaannya. "Eh maaf." Madiya jadi merasa gugup karena menyadari sesuatu yang dia lakukan tersebut. Ada rasa yang membuat dia sedikit tidak nyaman sekarang. Begitu pun dengan Richard yang tadi sempat tegang ketika merasakan pelukan dari Madiya secara tiba-tiba. "Tidak apa," jawab Richard sambil berdehem untuk menetralisir kecanggungan dirinya. Madiya terdiam kembali karena dia merasa gugup dan malu, Richard juga sama, dia sedikit canggung tadi. "Aku pamit ke kamar yah," ujar Richard. "Tunggu Richard, kita tindak akan tidur satu ranjang bukan?" tanya Madiya sedikit merasa canggung. Richard tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Madiya barusan. "Tentu saja, aku akan tidur di kamarku seperti biasa dan kamu tidur di kamarmu." Madiya merasa lega karena mereka tidur terpisah, setidaknya Richard tidak akan berpikir macam-macam padanya kalau mereka tidur terpisah. "Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang." "Tapi kamarmu jangan di kunci." Madiya menaikan sebelah alisnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Richard. Memangnya kenapa kalau dia harus menutup pintunya segala. "Kenapa memangnya?" tanya Madiya merasa heran. "Aku hanya takut kamu pingsan kaya waktu itu," ledek Richard membuat pipi Madiya bersemu merah. Dia teringat dengan kejadian tempo hari ketika dirinya pingsan. "Jangan membahasnya, aku tidak akan pingsan lagi," ketus Madiya karena dia sedikit malu. Bisa-bisanya Richard malah meledek dirinya seperti itu. Membuat dia merasa gugup dan dia merasa malu sekarang ini. Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang ini. "Baiklah selamat tidur." Richard lantas pergi ke dalam kamarnya. Madiya hanya melihat kepergian dari Richard saja. Lalu dia juga akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Madiya melepaskan semua pernak-pernik yang ada di kepalanya. Dia akan mandi dan melepaskan baju yang dia gunakan saat ini. Ketika dia yang akan membuka resleting bajunya malah jadi kesusahan. "Bagaimana aku bisa membukanya?" Madiya berpikir keras, lalu dia ingin meminta bantuan pada Richard saja. Tapi dia ragi sekaligus merasa malu jika harus meminta bantuan pria itu. Madiya mencoba untuk meraih tangannya ke belakang agar bisa menarik resleting itu tapi, ada daya ketika dia yang memang tidak bisa membukanya sama sekali. "Kenapa susah?" Bahkan dia merasa kebingungan sekarang. Bagaimana caranya dia akan membuka dirinya sendiri kala ini. Akhirnya tidak ada pilihan lain sekarang. Madiya berjalan menuju kearah kamar Richard dan akan meminta bantuan dari pria itu. "Richard!" panggil Madiya sambil mengetuk kamar Richard, berharap pria itu akan datang dan menemui dirinya sekarang. "Richard!" Madiya sedikit mengencangkan suaranya berharap Richard akan segara muncul. Dia penasaran dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Padahal dia hanya ingin memastikan kalau Richard ada di dalam. "Kenapa?" Mendengar suara Richard ada di dalam kamarnya membuat Madiya kini bisa tersenyum dengan lega. "Aku butuh bantuan mu. Cepat keluar sekarang!" Richard membuka pintunya dan mata Madiya membulat langsung membalikan badannya ketika dia melihat tubuh Richard yang tidak menggunakan apapun juga. Kecuali handuk di atas pinggang nya saja. "Kenapa gak pakai baju?" ketus Madiya dengan heran ketika melihat Richard. "Memangnya kenapa? Aku kan akan mandi," jawab Richard dengan santai karena memang dia hendak akan mandi sekatang. "Tutup dulu tubuhmu pakai baju," ujar Madiya yang tidak mau melihat perut kotak-kotak milik Richard. "Yaelah biasa aja kali, kaya gak pernah liat majalah dewasa saja!" Richard berkata dengan santai dan Madiya sangat malas untuk berdebat. Dia tau apa yang seharusnya dia lakukan saat ini. "Aku ke sini hanya ingin meminta bantuan kamu untuk membuka resleting ku. Aku susah bukanya," jelas Madiya. "Hanya itu saja, baiklah." Richard mendekatkan dirinya pada Madiya dan tangannya kini sudah mulai naik menarik resleting milik Madiya. Kebetulan sekali posisi Madiya yang saat ini sudah membelakangi dirinya jadi dari tinggal membukanya saja. Srek... Dengan satu kali tarikan mampu melepaskan baju yang kini dipakai oleh Madiya. Beruntung Madiya menahan dadanya agar baju itu tidak lepas begitu saja. "Terimakasih kasih." Madiya buru-buru pergi dari sini karena malu. Sedangkan Richard melihat kepergian dari Madiya. Dia sempat tidak berkedip ketika melihat punggung wanita itu yang begitu mulus tadi. Membuat dirinya malah ingin menyentuhnya tadi, beruntung otaknya masih berfungsi dengan baik. Dia bisa menahan dirinya untuk tidak menerkam mangsanya. "Sial, sepertinya aku harus mandi air dingin!" Richard jadi frustasi membayangkan tubuh indah milik Madiya, otak mesumnya sudah mulai berkerja membuat dia sedikit kesal. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN