Bab 2 Belanja Bersama Richard

1188 Kata
Richard melihat kearah Madiya ketika wanita itu malah terkejut ketika dia mengajaknya untuk tinggal bersama. Memangnya apa salahnya jika mereka tinggal bersama. Toh nanti mereka juga kan menikah. "Saya serius dengan hal ini. Apa kamu tidak mau kalau kita tinggal bersama?" tanya Richard menatap kearah Madiya. "Saya tidak tahu, tetapi sepertinya memang saya tidak punya pilihan lain," gumam Madiya yang belum pernah tinggal berdua dengan seorang pria asing seperti Richard. Bagaimana kalau pria itu berbuat macam-macam padanya? Ini yang sebenarnya ditakuti oleh Madiya. Bagaimana pun dia tidak tahu sifat asli dari seorang Richard. "Apa kamu mau tinggal di jalanan? Saya sih tidak masalah jika kamu ingin jadi gembel," ejek Richard. Madiya membulatkan matanya ketika Richard malah menghina dirinya. Jelas sekali kalau dia tidak mau kalau sampai tinggal di tempat seperti itu. "Sepertinya saya tidak punya pilihan lain sekarang." Madiya tidak punya pilihan lain selain tinggal bersama dengan pria seperti Richard. Apalagi dia belum mengenalnya secara dekat. Ah rasanya sekarang dia jadi kesal sendiri. Richard tersenyum dengan penuh arti ketika melihat Madiya yang memenuhi tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan dirinya. "Kamu bisa tidur di kamar yang ada di sana untuk sementara," tunjuk Richard pada sebuah pintu berwarna putih. Madiya melihatnya lalu dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia tidak punya pilihan lain, lagian selama dia tidak satu kamar dengan Richard, ini akan lebih baik untuk dirinya. "Terimakasih banyak." Madiya membawa kopernya dan masuk ke dalam kamar yang memang untuk dirinya. Dia membukanya dan langsung terpesona dengan interiornya. Madiya duduk di tepi ranjang itu dan entah kenapa dia merasa nyaman karena kasurnya yang empuk. Berbeda dengan kasur yang ada di dalam kontrakannya yang keras. "Sepertinya aku akan betah di sini," gumam Madiya pada dirinya sendiri dan dia membuka kopernya untuk memindahkan baju-baju miliknya. Ketika sedang membuka baju-bajunya, tiba-tiba Madiya menemukan sebuah foto yang membuatnya menjadi sedih. "Ibu..." Foto wanita cantik itu adalah sosok ibu yang melahirkan dirinya. Yang entah sampai sekarang belum tau keberadaannya di mana. Semenjak tidak ada ibunya, keluarganya berantakan. Apalagi ayahnya yang menikah lagi dengan wanita lain. Membuat dia merasa tidak nyaman berada di rumah karena dia hanya dijadikan sebagai pembantu. Sejak saat itu Madiya memilih untuk tinggal sendiri tanpa bantuan dari ayahnya. "Aku merindukanmu ibu." Madiya membaringkan dirinya di atas kasur empuk yang terlihat nyaman sambil memeluk sebuah foto yang dia rindukan. *** Keesokan paginya. Richard bangun dari tidurnya dan dia ingin berbicara dengan Madiya. Richard melihat kearah kamar Madiya dan dia bisa menebak kalau wanita itu pasti belum bangun juga. Richard berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Berharap Madiya akan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Kalau tidak maka dia yang akan mendonorkan sendiri pintu ini nanti. "Hei kebo, ayo bangun." Richard menggedor pintu kamar itu untuk membangun Madiya. Hingga tak berapa lama, wanita itu bangun sambil menguap. Muka bantalnya terlihat oleh Richard "Ada apa? Aku masih mengantuk." "Lebih baik kamu cuci muka sekarang, ada hal yang ingin aku bicarakan." Richad memang akan membiasakan dirinya untuk berkata biasa saja dan tidak formal dengan Madiya. Dia harus melakukan itu agar acting nya di depan keluarganya akan berhasil nanti. "Baiklah," ujar Madiya yang akhirnya memutuskan untuk pergi ke dalam kamar mandi. Tidak peduli dengan Richard yang ikut masuk ke dalam kamarnya. Richard menunggu wanita itu selesai cuci mukanya. Tanpa sengaja Richard melihat sebuah foto wanita, dia mengambilnya karena memang dia merasa penasaran. "Kenapa aku merasa tidak asing dengan orang ini," gumam Richard yang mencoba untuk mengingat sesuatu. Tapi sayang otaknya sudah banyak pikiran membuat dia malah lupa. Madiya langsung mengambil foto yang dipegang oleh Richard. "Jangan sembarang mengambil barangku!" Madiya memasukan lagi foto tersebut ke dalam kopernya. Hanya foto itu satu-satunya yang dia punya untuk menemukan di mana keberadaan ibunya. Apalagi semua foto yang ada di rumahnya sudah dibakar oleh ibu tirinya. "Aku hanya penasaran saja. Tapi itu tidak penting, aku ingin kita ke KUA dan mengurus semua surat-surat pernikahan kita. Agar kamu bisa menjadi istriku dan berpura-pura menjadi istri yang sesungguhnya di hadapan kedua orangtuaku. Lalu setalah itu aku yang akan membayar kamu tiap bulannya," jelas Richard kepada Madiya. "Memangnya berapa banyak uang yang akan kamu berikan padaku tiap bulannya?" tanya Madiya melihat kearah Richard karena dia penasaran. Setidaknya Richard harus membayar dia sesuai dengan harga menjadi istri sewaannya itu. Apalagi dia akan bertemu dengan kedua orangtuanya Richard juga. "Aku akan memberikan uang 15 juta ke setiap bulan, ini ATM yang harus kamu gunakan nanti setelah menjadi istriku. Setidaknya aku akan mengisi kebutuhan kamu selama kamu menjadi istriku. Mulai sekarang kita tidak boleh berbicara formal lagi, gunakan aku kamu agar kita terlihat dekat. Satu lagi kita juga harus pamer kemesraan di hadapan kedua orangtuaku nanti. Seolah kita sudah dekat lama, kamu harus mengetahui semua tentangku, dimulai dari hobby dan sesuatu yang tidak aku suka, termasuk alergi." Richard mengatakan panjang lebar seperti sedang berpidato kepada Madiya. Beruntung sekali Madiya punya otak yang cerdas dan dia bisa mencerna semua yang dikatakan oleh Richard barusan. Madiya tersenyum karena memang tawaran dari Richard itu sangat menggiurkan untuk dirinya. Benar-benar membuat dia merasa bahagia. "Baiklah, hanya itu saja?" tanya Madiya kembali. Itu hal yang mudah karena Madiya sendiri akan mencatat semua yang disuka oleh Richard dan yang tidak dia suka. "Apa kamu bisa melakukan semuanya?" tanya Richard hanya ingin memastikan saja karena takut nanti Madiya malah tidak mau. "Tentu saja aku bisa melakukannya. Lalu bagaimana dengan keluargamu nantinya?" tanya Madiya karena dia belum kenal dengan kedua orang tua wanita itu. "Kamu harus berusaha untuk dekat dengan keluargaku, setidaknya menarik perhatian mereka. Terutama ayah dan juga ibuku, mereka menginginkan aku menikah dengan wanita pilihannya dan aku tidak setuju. Makanya aku menyewa kamu untuk berpura-pura pada mereka. oh yah satu lagi, jangan bilang pada siapapun kalau sebelumnya aku membayar kamu untuk menjadi istri sewaan," peringat Richard dengan tatapan tajam. Madiya hanya mengangguk setuju dengan tawaran tersebut. Lagian dia tidak punya teman dekat juga selama ini. Jadi tidak mungkin jika dia akan membuka semua rahasia ini. "Iya aku paham. Ada lagi?" tanya Madiya pada Richard. Mereka berdua seperti sedang melakukan kesepakatan sekarang. Richard memperhatikan Madiya, wanita itu sama sekali tidak keberatan untuk menuruti keinginan dirinya. Jadi akan lebih baik jika dia cepat memperkenalkan wanita itu kepada kedua orangtuanya. "Nanti malam akan ada acara makan malam di rumah kedua orangtuaku. Aku sudah janji pada mereka kalau aku akan membawakan calon istri. Jadi kamu bisa bersiap-siap dari sekarang." Madiya sedikit terkejut, apa secepat itu? Dia bahkan belum menyiapkan apapun. Dia juga belum mencatat apa yang disuka dan tidak disuka pria itu. "Aku tidak punya baju bagus untuk bertemu dengan keluargamu. Semua bajuku kaos semuanya," jelas Madiya yang mungkin saja dia harus tampil sempurna di hadapan calon mertuanya itu. "Kamu tenang saja kalau tentang itu, nanti kita ke mall dan aku akan membelikan baju yang bagus untukmu." Madiya tersenyum bahagia, akhirnya ada yang perhatian padanya juga. Walaupun ada maunya. Tapi setidaknya dia merasa senang. "Terimakasih banyak." "Kamu bisa siap-siap. Aku akan mandi dulu." Richard keluar dari kamar milik Madiya. Dia akan membersihkan dirinya. Setidaknya sekarang dia tenang karena sudah mempunyai istri yang akan dia sewa nantinya. "Dia akan menjadi istri sewaan ku hanya sementara. Agar kedua orangtuaku tidak menjodohkan aku dengan wanita busuk itu." BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN