Bab 3 Bertemu Keluarga Richard

1518 Kata
Di sebuah mall yang terletak di sebuah kota, Richard sedang memilihkan baju yang akan digunakan oleh Madiya karena dia tahu selera kedua orangtuanya, sebisa mungkin Richard akan mengubah penampilan Madiya agar tidak terlihat kampungan. Dia mengambil baju yang menurutnya cocok saja. Sampai matanya melihat kearah long dress sabrina yang menurut dirinya sangat bagus. Apalagi ini cocok dengan tubuh kecil milik Madiya. Berbeda dengan perasaan Madiya setelah diajak ke tempat ini. Dia sedikit terkejut setelah melihat harga yang tertera di sana. Belum lagi bajunya terlihat mahal. Dia sampai tidak berani untuk memilih baju yang akan dia gunakan sekarang. "Gila harganya mahal banget," ucap Madiya tanpa sadar. Richad mendengar hal itu dan dia langsung menghampiri Madiya. Bahkan Richard bisa membeli semua toko ini kalau mau. Tetapi mendengar Madiya mengatakan itu membuat dia malu. Bahkan dia menyadari kalau pegawai di sini malah menertawakan ucapan dari Madiya barusan. "Jika kamu suka maka ambil saja, aku bisa membeli banyak barang jika kamu mau. Nanti habis ini kita akan ke lantai dua, kita akan membeli aksesoris yang akan kamu gunakan nanti," ajak Richard. Madiya menatap kearah Richard dan dia malah mendengus. "Huh dasar pria sombong. Mentang-mentang orang kaya." "Suka-suka aku, ayo cepat ke sini." Richard hanya mengatakan itu agar Madiya tidak lama ditempat ini. Apalagi sebenarnya Richad merasa sedikit risih karena banyak orang yang melihat dirinya dengan pandangan kagum dan memuja. Terutama para ibu-ibu yang malah semakin berjalan mendekat kearah dirinya dan tidak jarang ada yang menatap dirinya dengan pandangan lapar. "Baiklah kalau begitu. Ku rasa ini juga sudah banyak." Madiya mengatakan itu ketika dia yang paham akan situasi. Apalagi toko ini sudah mulai ramai dengan para pengunjung juga. Belanjaan dirinya juga sudah cukup untuk sekarang. "Nanti aksesorisnya biar anak buah saja yang mengambilnya. Terlalu banyak orang dan aku tidak nyaman." Madiya hanya mengikuti Richad yang akan membayarkan baju untuk mereka. Madiya baru tersadar kalau baju yang dipilih oleh Richard terlalu banyak. Padahal dia hanya ingin dibelikan baju satu untuk bertemu dengan keluarganya Richard. "Apa ini tidak terlalu banyak? Aku hanya ingin dibelikan satu untuk datang ke acara itu saja," jelas Madiya yang memang dia hanya ingin dibelikan satu bukan malah lebih seperti ini. Menurutnya ini terlalu berlebihan. "Sudah tidak apa-apa, aku yang bayar ini." Richard dengan gampangnya mengatakan itu dan dia langsung memberikan kartu ATM pada kasir. Bagi Richard itu bukan seberapa dan mungkin lebih baik Madiya akan menggunakan baju yang dia pilih. "Terimakasih banyak." Madiya membawa belanjaannya dan Richard sama sekali tidak mau membantunya. Ini membuat Madiya sedikit kesal, walaupun dia sedikit tau diri karena memang Richard yang sudah membelikan semuanya. Richard berjalan menuju ke arah tas dan juga toko sepatu. Dia dengan asal mengambil tasnya dengan begitu saja. Bahkan Richard tidak melihat harganya sama sekali. "Kamu suka dengan warnanya?" tanya Richard pada Madiya. "Iya aku suka." Madiya hanya menjawab itu saja, lalu Richad langsung mengambilnya. Sebelum akhirnya dia membayar semua belanjaannya. "Ukuran sepatu kamu berapa?" tanya Richard yang memang tidak tahu dengan ukuran sepatu dari wanita itu. "Tiga puluh delapan," jawab Madiya memberitahu Richard ukuran sepatunya. Richard langsung memanggil orang yang menjaga di sini. Kadang dia merasa malu sendiri karena sedari tadi hanya Richard saja yang memilihkan tas untuk dirinya. Sekarang juga Richard sendiri yang membelikan sepatu untuk dirinya. "Pilihan sepatu yang bagus untuk calon istri saya!" perintah Richard kepada salah satu pegawai yang bekerja di mall tersebut. Pipi Madiya memanas ketika Richard mengatakan kalau dia adalah calon istrinya. Kenapa itu malah seakan indah untuk dirinya? "Ini Pak." Pegawai wanita itu mengeluarkan sepatu keluaran terbaru dengan empat pasangan yang berbeda. Semuanya terlihat bagus dan juga elegan jika di pakai. Dua diantaranya sepatu high heels untuk acara pesta agar terlihat tinggi. Tentu saja pegawai tersebut mengeluarkan produk terbaru mereka karena dia percaya kalau Richard akan membelinya. Tetapi pegawai tersebut merasa sedikit heran ketika Richard mengatakan kalau wanita yang bersamanya adalah calon istrinya. "Ini produk terbaru dari toko kami Pak Richard. Anda bisa memilihnya," terang pemilik toko sepatu tersebut kepada Richard. "Saya membeli semuanya." Richard mengatakan itu dengan santai kepada pemilik toko sepatu tersebut. Awalnya memang Madiya sedikit terkejut ketika Richard yang dengan mudah memberikan itu semuanya padanya. "Apa tidak terlalu banyak?" Madiya jadi merasa tidak enak sendiri. Dia sudah seperti wanita matre saja yang dibelikan sesuatu oleh orang lain. Dia harus membalas budi kalau seperti ini. "Kamu lupa aku siapa Madiya, jangan pernah menolak apa yang aku berikan untukmu." Richard mengatakan itu dengan santai, setelah itu dia membayar semua belanjaan untuk Madiya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi bersama dengan Madiya ke dalam mobilnya. Mereka sudah banyak belanja sekarang dan Richard sudah tidak sabar ingin membawa Madiya ke hadapan kedua orangtuanya agar dia bisa terlepas dari perjodohannya. **** Matahari sudah terbenam sekarang, digantikan oleh sang bulan dan gemerlap bintang. Di sebuah kamar yang sedikit mewah. Madiya sudah memakai baju yang memang tadi dibelikan oleh Richard. Semoga saja kedua orangtuanya Richad tidak akan curiga. Madiya memakai make up yang sedikit agak tebal, tetapi terlihat natural juga. Dia hanya tersenyum melihat kearah kaca. Bahkan dia tidak menyadari kalau dari kejauhan Richard memperhatikan dirinya. "Madiya sudah siap?" tanya Richard membuat Madiya sedikit terkejut dengan suara pria itu. "Sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya Madiya yang sedikit merasa malu. Apa tadi Richard memperhatikan dirinya yang sedang melihat kearah cermin? Kalau memang iya begitu maka, dia merasa malu sekarang. "Sejak kamu berdiri melihat kearah cermin sambil tersenyum sendiri," ujar Richard yang membuat malu Madiya sekarang. "Menyebalkan." "Apa kamu sudah siap?" tanya Richard kembali bertanya pada Madiya. "Iya aku sudah siap." Richad tersenyum sambil berjalan merangkul Madiya dengan mesra, malam ini mereka berdua akan berakting seolah seperti orang yang saling jatuh cinta satu sama lain. Tentu saja Richard melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia melakukan semuanya karena tidak mau dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orangtuanya. Ada getaran aneh ketika tangan Richard yang mencekal pinggangnya. Dia merasa ada sesuatu yang membuat dia merasa nyaman. Richard naik ke dalam mobilnya, dia mengendarai mobil bersama dengan Madiya. Mereka tidak banyak bicara di sana. Sampai tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah berada di tempat tujuannya. "Ingat Madiya, kamu harus berakting seperti pasangan kekasih," gumam Richard. Akhirnya Madiya hanya mengangguk saja dan dia memutuskan untuk berjalan dengan Richard berdua di sini. Rasanya memang sedikit nyaman ketika berjalan bersama dengan pria itu. Richard membuka pintu rumah yang memang terlihat mewah tersebut. Sampai muncul seseorang yang memang mereka tunggu. "Akhirnya kalian datang juga." Ikram mengatakan itu ketika melihat anaknya yang datang membawa seorang perempuan. Dia tersenyum tipis karena sudah bisa nebak kalau wanita itu adalah pilihan dari Ricard. Ana hanya melihat wanita yang dibawa oleh Richard tanpa ekspresi. Dia memang sedikit kecewa karena anaknya yang malah memilih wanita lain bukan wanita yang dia pilih. "Iya, kenalin, aku membawa calon istri pilihanku." Richard memperkenalkan Madiya pada keluarganya. Dari ekspresi wajah ibunya saja sudah tahu kalau terlihat tidak menyukainya. "Perkenalan nama saya Madiya Iriana Gunawan." Madiya berjabatan tangan pada Imran, lalu selanjutnya dia berjabatan pada Ana ibunya Richard yang sedari tadi diam saja. Ana mengabaikan jabatan tangan dari Madiya karena dia masih kecewa dengan anaknya. Apalagi malah memilih wanita itu dan menolak perjodohan dirinya dengan orang lain. Madiya tersenyum tipis ketika dia yang diabaikan oleh ibunya Richard. Dia merasa wajar saja apalagi memang dia tau alasan dia jadi istrinya. Madiya melihat kearah ibunya Richard, entah kenapa dia merasa tidak asing dan apa sebelumnya mereka pernah bertemu? "Ayo silahkan duduk." Ikram mengatakan itu pada Richard dan juga Madiya untuk mencairkan suasana karena istrinya diam saja. Ana langsung duduk tanpa bersikap ramah kepada wanita yang dibawa oleh anaknya. "Kamu dapat calon istri dari mana Richard?" sindir Ana. Dia sudah bisa menebak kalau Richard tidak mungkin bisa mendapatkan calon istri dengan begitu dekat. Mungkin dia akan melakukan sesuatu yang baik untuk dirinya. "Kami sudah lama kenal, makanya aku selalu menolak perjodohan dari kalian karena aku sudah punya calon pilihanku sendiri," ujar Richard yang menjelaskan semuanya pada kedua orangtuanya. Madiya hanya tersenyum dengan canggung ketika mendengar penjelasan dari Richard. Padahal mereka ketemu satu kali dan itu juga karena Richad yang tidak sengaja menabrak dirinya. "Kalian akan menikah?" tanya Imran menatap anaknya dengan pandangan serius. Richard tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia akan menikah dengan Madiya tapi, dia tidak akan menyebarkan kabar ini pada publik. Hanya sebagian saja orang yang mengetahui kalau dia sudah menikah nanti. "Iya tentu saja. Aku akan menikah dengan wanita pujaan ku." Richard merangkul bahu Madiya membuat wanita itu sedikit terkejut. Lalu dia tersenyum tipis agar tidak membuat orang curiga. "Iya hehe..." Ana melihatnya dengan sinis, "keliatan senyumannya gak tulus. Pasti kamu hanya ingin harta anak saya saja bukan?" Madiya mengepalkan tangannya, dia sedikit kesal ketika dituduh hanya ingin harta dari anaknya saja. Tapi Madiya tidak bisa marah-marah sekarang. Karena dia menyadari posisinya yang nantinya hanya menjadi istri sewaan pria itu saja. Bagaimanapun Madiya memang menumpang hidup pada Richard. "Ayo sayang, apa kamu mau aku suapi?" Richard melihat kegelisahan dari Madiya. Mungkin dia sedikit merasa tidak suka dengan kedekatan ini. "Tidak, terimakasih." "Kita akan menikah satu minggu lagi. Tidak ada pesta yang mewah dan itu sudah menjadi keputusanku." Madiya sedikit melotot mendengar perkataan dari Richard barusan? Kenapa harus secepatnya itu? Bahkan dia belum mempersiapkan semuanya. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN