Dan iya, semua tak lagi sama! Biru yang biasanya galak, berubah hangat ke Anna. Memang tak semencolok itu. Mereka tetap profesional saat kerja. Hanya saja ada momen-momen dimana Biru lebih perhatian. Hari ini dia minta asisten pembantu. Satu hal langka, karena biasanya hanya Anna yang boleh di sampingnya ketika pemotretan. Bukan tanpa alasan. Karena Anna masih tampak meringis. Bagaimana tidak makin ngilu, kalau apa yang semalam terjadi di ranjang, terulang lagi kamar mandi! Tidur menjelang pagi, hingga bangun pun kesiangan.
Anna panik. Buru-buru bersiap dan membangunkan bosnya yang malah bablas tidur hingga menjelang siang. Sudah ada paper bag berisi baju dan kunci motor di atas meja ruang tamu, ketika Anna keluar kamar. Untung saja lantai dua masih sepi. Jadi Anna bisa menggunakan make up di ruangan sana, untuk menutupi cupang di leher dan dadanya. Saat turun mengambil pesanan makanan, teman-temannya bingung mendapati dia sudah di sana. Anna nyengir terpaksa bohong, semalam ketiduran di studio saat menemani si boss lembur. Tidak bohong sih! Nyatanya memang iya mereka lembur bareng. Cuma pindah tempat ke kamar.
Biru baru turun ke lantai dua, saat jadwal pemotretan siang itu mau dimulai. Oyon, asisten fotografernya Vito seketika gugup seperti mau sidang skripsi, ketika diminta membantu Biru. Jelas saja, lha wong mereka tahu betul segalak apa si boss. Anna yang ditugaskan duduk mengawasi laptop, sampai kasihan melihat Oyon bolak-balik kena bentak. Padahal biasanya kerja bareng Vito fine-fine saja.
“Mimpi apa aku semalam sih, Na?! Apes bener, tiba-tiba diminta bantuin si boss!” Oyon lemas duduk di sebelah Anna yang lagi mengganti memory card kamera, begitu mereka break sebentar.
“Sekarang kamu tahu kan penderitaanku!” Anna terkekeh, tapi kemudian meringis karena pipi memarnya.
“Kok kamu betah?”
Anna merogoh sakunya. Mengambil dua bungkus coklat. Satunya diberikan ke Oyon. “Sudah biasa. Kerja sama boss sebenarnya enak kok, kalau kita tahu dan paham kebiasaannya. Yang penting jangan lelet. Tanggap apa maunya. Terus … jangan baper, dibentak sedikit sakit hati! Dia aslinya baik, biarpun nyebelin dan galaknya amit-amit!” jawab Anna sambil ngemut coklatnya.
“Serius, nggak cocok di aku yang punya lemah jantung!” geleng Oyon, sampai Anna tertawa ngakak.
Oyon kan pria kemayu. Lebih bisa dandan dan necisan dia daripada Anna. Kerjanya ok. Nyatanya jadi asisten Vito maupun Kelly juga sudah setahun lebih. Cuma ya itu, belum cukup mental kalau harus jadi tangan kanan Biru. Seven Star punya dua lagi fotografer handal selain boss mereka. Biru hanya mengambil proyek penting, karena kesibukannya harus mengurus studio dan rumah mode.
“Gimana ceritanya kamu bisa jatuh dari motor, Na? Sampai lebam gini!” Oyon menyentuh pipi Anna yang membiru.
Baru mau mangap, mata Anna mendapati bosnya yang nongol di situ. Seketika dia gugup menunduk. Pura-pura memeriksa kamera. Tadi Biru memang bilang ke Vito, kalau dia butuh Oyon karena asistennya semalam habis jatuh dari motor.
“Jangan-jangan kamu nggak jatuh dari motor, tapi ribut sama pacarmu yang kemarin itu?!” celetuk Oyon curiga. Anna langsung menggeleng.
“Nggak kok! Beneran jatuh karena menghindar dari mobil yang ngerem dadakan. Untung cuma luka ringan,” sanggah Anna memelankan suaranya. Dia menggerakkan matanya. Kasih kode ke Oyon supaya diam, tapi temannya nggak mudeng.
“Uluh-uluh … cantik gini malah nyiumnya aspal!” Kedua tangan Oyon menangkup wajah Anna. Diuyel-uyel dengan tawa gemasnya.
“Aku suruh kamu ke sini buat kerja! Bukan godain Anna!” bentak Biru sampai Oyon terjengkit kaget melepaskan muka temannya itu.
Menoleh dengan muka pucat, Oyon mengangguk takut ke bosnya. “Maaf, saya cuma bercanda kok, Pak!” ucapnya sudah mau nangis, lalu buru-buru menyingkir masuk ke ruang ganti. Memberitahu model supaya bersiap untuk lanjut pemotretan lagi.
Biru duduk di sebelah Anna. Greget menatap asistennya yang malah cekikikan, sampai suaranya terdengar dari ruang kerjanya sana.
“Kebiasaan kalau ada temannya jadi nggak serius kerja!”
“Kan lagi break. Masa suruh diem-dieman kayak musuhan sama Oyon! Dia sudah korban perasaan demi bantuin ambil tugas saya, Pak!” gumam Anna tanpa berani menoleh.
“Kamu bilang apa tadi?! Korban perasaan gimana maksudnya?!” cecar Biru dengan bibir berkedut menatap gemas Anna yang sedang menahan jengkel. “Kalau diajak ngomong lihat orangnya!”
Anna pun menoleh. Nyengir, karena sadar sudah salah ucap. Meletakkan kamera, tangannya turun ke paha saling remas grogi. Sekalinya galak tetap saja galak. Cuma karena masalah sepele bisa-bisanya ngomel-ngomel nggak jelas.
“Nggak kok!” gelengnya pelan.
Menatap luka di bibir Biru, otak Anna mendadak ambyar. Sialnya justru ingat lagi. Ribuan kupu-kupu serasa berterbangan di perutnya. Ngilu di sana berkedut membuatnya sampai menahan nafas.
“Lain kali jangan kasih orang pegang-pegang kamu lagi! Nggak boleh!” Biarpun Oyon pria kemayu dan biasa seakrab itu dengan Anna, tetap saja Biru tidak suka Anna dipegang gitu.
“Hm,” angguk Anna. Mending diiyain, daripada kena omel.
“Sini!” Biru menarik kursi Anna mendekat. Gadis itu sampai kelabakan, tapi diam melihat bosnya mengambil salep dan dioles di pipinya.
“Saya bisa sendiri, Pak!” Anna mundur dengan jantung berdebar menggila. Bukan hanya gugup sedekat ini dengan Biru, tapi juga khawatir nanti ada yang lihat.
“Diam!” Biru menarik tengkuk Anna. Menelengkan muka, lalu mengoleskan obat di luka memarnya.
Anna menelan ludah dengan tubuh kaku. Lupa bernafas saat wangi dari tubuh bosnya merebak meracuni otak sintingnya.
“Sakit?” tanya Biru.
“Nggak,” gumam Anna. Namun, jantungnya mau mencelat keluar saat Biru makin mendekat dengan seringainya.
“Yang bawah, maksudku!” bisiknya.
Wajah Anna seperti terbakar. Meringis menggigit bibirnya yang barusan kena kecup. Biru menjauh. Tersenyum keranjingan menikmati wajah cantik Anna yang merona salah tingkah.
“Hmm,” gumamnya mengedikkan dagu ke arah bawah. Karena belum mendapat jawaban yang dimintanya. “Kalau sakit kamu naik dulu! Aku obati sebentar!”
“Sudah nggak sakit!” Anna seketika menggeleng dengan mata melebar. Sinting! Bosnya malah tertawa dan menjilat bibir. Seperti sengaja menggodanya.
Anna melengos menyambar ponselnya yang berdenting pelan. Namun, lagi-lagi dia dibuat hampir jantungan mendapati Oyon yang ternyata berdiri dengan muka syok di sana. Anna panik. Pun dengan Biru yang melotot kesal, tahu pria kemayu itu sudah memergoki mereka tadi.
“Iiiii …. iiiitttuuuu, mau ambil ponsel!” Gagap, Oyon mendekat mengambil ponsel di tangan Anna yang melongo. Ternyata yang barusan bunyi adalah ponsel Oyon.
“Sini kamu!” bentak Biru menghentikan Oyon yang langsung berhenti berlari. “Buruan!” teriak Biru galak.
Pria kemayu itu sudah kayak dicegat malaikat. Gemetar dengan kaki lemas, menoleh dan melangkah balik lagi ke depan bosnya. Matanya melirik ke Anna yang meringis tegang.
“Kamu lihat apa barusan?!” lontar Biru dengan tatapan menghujam tajam. Telunjuknya mengetuk meja. Dia tak masalah ketahuan. Cuma tidak mau nanti Anna jadi bahan gunjingan, kalau sampai ada gosip tak enak.
“Tidak lihat apa-apa. Mata saya lagi belekan, jadi agak-agak buram, Pak!” jawab Oyon konyol. Anna menggigit bibir menahan geli. Sedang Biru makin melotot galak.
“Matamu belekan, tapi nggak lupa ngorek telinga kan? Dengar apa tadi?” cecar Biru greget si Oyon malah ngajak ngakak.
“Tidak dengar apa-apa kok. Sumpah!” Oyon mengangkat dua jarinya dengan muka memelas.
Biru mengangguk, meski tahu Oyon jelas bohong. Dia melambaikan tangan minta dia mendekat.
“Kalau sampai ada yang ngomong aneh-aneh soal Anna, orang pertama yang aku cari adalah kamu! Paham!” tegasnya.
“Hmmm! Paham,” angguk Oyon mengerti.
“Mulai sekarang kamu bantu Anna! Nanti aku yang bilang ke Vito, buat minta yang lain gantiin tugas kamu!”
“Haaaa ….” Muka Oyon yang kaget makin pucat, mendengar dia malah dimutasi ke lantai atas jadi asisten pembantu bosnya.
“Kurang jelas?!” tanya Biru mendelik.
“Jelas kok, Pak!” sahutnya pasrah ketiban sial.
“Yang sopan ke Anna! Jangan sampai aku lihat kamu pegang-pegang dia lagi! Nanti biar Anna yang jelasin tugas kamu!” Biru mengambil kameranya dan beranjak bangun, begitu melihat model keluar dari ruang ganti.
Anna tersenyum kaku ke Oyon yang menatapnya syok. Ada beribu pertanyaan yang ingin pria itu dapat jawabannya. Tapi Oyon tahan, karena masih sayang nyawa. Tidak sengaja lihat mereka ciuman saja, Oyon langsung diisolasi di lantai dua. Apalagi kalau tahu banyak, bisa-bisa dia diajak nyeblak ke neraka sana.
“Sorrry ….” ucap Anna lirih.
“Tega kamu, Na! Kenapa nggak bilang, kamu doinya si Boss?! Apes banget aku hari ini!” gumam Oyon mau nangis membayangkan hari-harinya setelah ini, harus kerja bareng boss galak mereka. Sekarang dia baru ngeh, kenapa tadi bosnya meradang lihat dia bercanda dengan Anna.
“OYON!” teriak Biru kesal, karena Oyon masih belum stand by.
“Iyaa, Pak!” serunya melempar ponsel ke meja, lalu buru-buru ke depan sana.
Anna beranjak berdiri menyusul maju. Membantu membetulkan letak lampu. Sedang Oyon membenahi gaun yang dikenakan model di sana. Biru mundur menghampiri Anna.
“Apartemennya sudah dapat. Besok kita ke sana lihat tempatnya. Hari ini aku harus pulang awal. Mama sudah ngomel semalam aku tidak pulang!” ucapnya menatap Anna yang mengangguk.
“Hm.”
“Setelah ini kamu pulang duluan! Bereskan barang-barangmu di kosan! Besok kalau tempatnya cocok, aku minta orang buat mindahin barangnya!”
“Iya,Pak!” sahut Anna pelan.
“Arhan ada transfer uang, nggak?” tanya Biru greget Anna lagi-lagi memanggilnya pak.
“Nggak ada,” gelengnya dengan muka menahan marah. Sakit hati banget, ingat uangnya yang habis dimaling bajiingan satu itu.
Biru merogoh ponselnya. Anna melirik was-was. Khawatir Biru mau aneh-aneh lagi ke Arhan. Kemarin saja sudah semengerikan itu saat ngamuk menghajar Arhan. Bukan apa! Dia tidak mau bosnya kena masalah, kalau sampai Arhan celaka dan kasusnya sampai ke polisi.
“Ga, lakukan apa yang aku perintahkan tadi! Jangan sampai mati! Keenakan dia kalau langsung kelar nyawanya!”
“Pak!” Anna melotot kaget.
Biru tidak menggubris. Menyimpan ponselnya, dia menatap Anna lekat.
“Panggil apa?” lontarnya kesal.
Mendengus keras. Anna mencuri pandang ke Oyon yang cengar-cengir di sana.
“Naaaa ….”
“Biru!” sahut Anna lirih.
Begitu saja Biru sudah senang. Tersenyum, dia mendorong Anna menyuruhnya mengawasi laptop.
“Aku mau kopi!” pintanya.
“Hm,” angguk Anna pergi.
Masih menatap punggung gadis itu menjauh, Biru kembali merogoh ponselnya.
“Jangan sampai lengah jaga Anna! Sebelum pindah dari tempat kosnya, terus awasi dia!”