Kalau mau, tentu soal kecil bagi Biru membeli rumah atau apartemen untuk tinggal. Namun, seperti saudaranya yang lain, dia pilih tinggal bersama keluarga besarnya. Sudah jadi prinsip mereka, selama belum menikah tetap tinggal bersama. Kakeknya mendiang Jonathan Lin, adalah konglomerat pemilik LinZone. Perusahaan farmasi terbesar, dengan harta tak habis tujuh turunan. Papanya Ibra Abraham juga pengusaha perhotelan. Tiga resortnya berada di Lombok, Bali, dan Labuan Bajo. Sementara mamanya Freya Lin, dulunya mantan model yang beralih profesi jadi fotografer. Tak cuma mewariskan bakatnya, Freya Lin juga melimpahkan studio dan rumah mode Seven Star miliknya ke Biru. Sekarang paham kan, kenapa banyak perempuan menggatal nemplok ke fotografer playboy satu itu?!
Biru enam bersaudara. Langit dan Jingga terlahir kembar, lalu Gala yang merupakan anak angkat, Sagara dan Biru juga kembar, terakhir bontot paling aleman Kenes. Ketiga kakak Biru sudah menikah dan punya anak. Jingga dan Gala sudah pisah rumah. Langit sebagai anak sulung yang belum lama menikah dan istrinya tengah hamil muda, pilih tetap tinggal di situ.
Biarpun kembar, Sagara dan Biru punya watak berbanding terbalik. Biru galak, bermulut petasan, playboy, dan sadisnya amit-amit kayak papanya. Sementara Sagara yang kini menjabat wakil direktur LinZone, adalah titisan mama mereka. Gantengnya kalem, santun, pemalu, dan culun. Terakhir si bontot perempuan paling manja, masih kelas 3 SMP. Itulah kenapa para sepupu Biru selalu gedek, dengan kelakuannya yang lain dari para saudaranya.
“Dimana Arhan sekarang?”
Biru mondar-mandir di halaman mengangkat telepon. Dia perlu memastikan semua berjalan sesuai rencana. Mantan bangsatnya Anna itu harus mendapat balasan setimpal. Bukan lagi uang yang Biru uber, tapi nyawanya. Dia tidak mau kejadian mengerikan kemarin, terulang lagi menimpa Anna.
“Tadi sempat mengintai di dekat kosan, Bang. Sudah hampir mencegat Anna yang baru pulang kerja, tapi lebih dulu dihadang Jeno!” Rega melaporkan semua.
“Keparatt!” umpat Biru seketika meradang. Setelah kena hajar kemarin, nyatanya Arhan masih berani mengincar Anna. Entah apa lagi maunya. Sementara uangnya saja sudah dikuras habis.
“Dia sepertinya berencana kabur. Teman Arhan tadi datang ke kontrakannya, lalu keluar bawa ransel besar. Perkiraan kami sih, dia mau ngumpetin barangnya dulu, karena takut tiba-tiba dicari ke kontrakan!”
“Kasih pelajaran anjing sialan itu sampai sekarat! Perketat pengawasan di tempat Anna. Ingat! Jangan sampai ketahuan, nanti dia ngamuk!” titah Biru.
“Ok!”
“Rega ….”
“Ya, Bang.”
“Soal ini, jangan sampai papa dan Comel tahu!”
“Ini namanya ngajak bunuh diri, Bang! Mana bisa luput dari mata dan telinga boss besar!” Rega malah cengengesan.
“Kalau ketahuan, aku yang tanggung resikonya. Tidak akan melibatkan kalian!” tegas Biru.
“Iya, sebisa mungkin kami akan berhati-hati supaya tidak ketahuan!” sahut Rega sebelum menyudahi telepon mereka.
Biru mendecak keras, tapi senyumnya seketika merekah menatap foto di ponselnya. Foto dengan gadis cantik terlelap di pelukannya. Dia juga tidak tahu kenapa bisa sesinting itu, sampai diam-diam mengabadikan momen gila semalam.
“Baaanggg ….”
Panggilan adik bontotnya itu membawa Biru melangkah masuk. Kenes dan angsa peliharaannya menunggu di teras.
“Mama mana?” Biru merangkul bontot kesayangan mereka itu masuk rumah.
“Di kamar oma! Seharian tensinya tinggi,” jawab Nes khawatir.
“Papa dan Bang Langit sudah pulang?”
“Belum.”
Biru langsung menuju kamar omanya. Tapi, dilarang masuk oleh mamanya yang baru saja menutup pintu pelan.
“Oma barusan tidur. Besok pagi saja kalau mau ketemu!” Mata Freya menyipit menatap anak bujangnya yang semalam tidak pulang itu. “Bibirmu kenapa? Habis berantem dimana?” cecarnya.
“Bang Biru berantem?!” Nes ikutan menoleh. Tadi tidak seawas itu memperhatikan abangnya.
“Siapa yang berantem?” sahut Sagara yang baru pulang kerja bareng papa mereka.
“Haish!” Greget, Biru merangkul mamanya yang masih mendelik galak. “Mana ada aku berantem, Ma! Semalam saja aku di studio. Tidak kemana-mana kok!”
“Terus itu bibirmu kenapa?” Freya masih curiga. Masalahnya Biru ini yang paling bisa membuatnya pusing. Beberapa kali kesandung skandal dengan para model gatalnya. Sampai papanya harus turun tangan membereskan gosip murahan itu.
“Kejedot pintu!” jawabnya asal.
Sagara cengengesan melihat kembarannya yang mati kutu diinterogasi mama mereka. Belum lagi papanya menatap awas. Begitu mereka duduk di sofa ruang tengah, Biru sudah tidak bisa berkutik lagi.
“Jangan kira Papa tidak tahu kelakuanmu di luar sana! Ingat baik-baik apa yang sudah berkali-kali kami tekankan ke kamu, Biru! Jaga batas!” tegas Ibra kembali menegur anaknya.
“Iya, aku tahu!” angguk Biru.
“Kamu bikin masalah apa lagi? Jangan bilang masih ngrentengi kucing garong menjijikkan kayak yang sudah-sudah!” Freya ketar-ketir.
“Nggak!” geleng Biru.
“Leher Bang Biru alergi, Ma!” Kenes malah mengadu, setelah tadi melihat bekas cupang di balik kerah kemeja abangnya.
“Haish! Dasar tukang ngadu!” Biru menoyor adiknya yang langsung kabur, menghampiri ipar mereka yang baru pulang kantor.
Langit dan Zelda istrinya menyusul duduk. Saling lirik mendapati suasana panas di sana. Mama mereka tampak marah.
“Mama tidak akan banyak omong lagi. Sudah capek negur, tapi nggak pernah kamu gubris. Terserah apa mau kamu! Yang penting satu hal harus kamu camkan, Biru. Jangan pernah macam-macam ke Anna! Della sudah wanti-wanti menitipkan dia ke Mama!” Saking jengkelnya, Freya tampak beneran angkat tangan.
“Maaa …” Biru menghela nafas menatap mamanya beranjak berdiri dengan membawa tas kerja dan jas papanya.
“Jangan sampai bikin Mama malu ke Della! Anna terlalu baik, terlalu polos. Kalau nanti kamu sampai bikin skandal memalukan lagi, maka silahkan angkat kaki dari Seven! Jangan hancurkan reputasi Seven, karena Mama merangkak dari nol dan mati-matian banting tulang, untuk membangunnya hingga sebesar sekarang!” tegas Freya sebelum melangkah masuk ke kamar.
Della itu mantan asisten Biru yang juga orang kepercayaan mamanya. Orang yang Freya percaya untuk membimbing dan mengawasi Biru, karena dia lebih senior. Makanya Biru tidak berani galak ke Della. Biarpun tidak ada hubungan keluarga, tapi Anna sangat dekat dan disayang oleh Della. Dulu Anna masuk ke Seven juga bawaan Della, yang menjadikannya asisten pembantu.
Dadaa Biru mencelos mendengar ancaman mamanya. Belum lagi papanya yang juga menatap seram. Hanya tiga orang yang Biru takuti. Papa mamanya, juga kakaknya Jingga. Mereka ini kalau marah seramnya minta ampun.
“Papa juga pernah muda. Silahkan bergaul! Pacaran juga tidak ada yang larang. Normal, karena kalian sudah dewasa. Malah sudah siap, kalau memang mau menikah. TAPI … ingat-ingat apa yang tidak boleh kalian langgar! Papa tidak pernah mengajari kalian untuk jadi bajiingan!” ucap Ibra juga berdiri dari duduknya. Matanya masih menatap menghujam ke anaknya yang paling bandel itu.
“Jangan bikin istriku pusing mikir kelakuanmu!”
Biru terkekeh mendengar ucapan konyol papanya. Yang lain juga tertawa.
“Dasar bucin!” olok Biru ke papanya yang terkekeh menyusul istrinya ke kamar. Percayalah! Papanya adalah mafia berdasi yang takut istri. Bucinnya tidak ketulungan.
“Kena cipok siapa sampai bibirmu bonyok gitu?! Pantas saja mama ngamuk. Semalam nggak pulang. Sekarang nongol dengan leher cupangan!” gerutu Langit menatap kesal ke Biru.
Langit anak sulung. Sekarang tengah digembleng untuk jadi pewaris pimpinan LinZone, menggantikan papa mereka nantinya. Zelda, ipar Biru yang sedang hamil muda itu juga bukan wanita sembarangan. Hacker cantik yang menduduki posisi wakil manajer IT di perusahaan mereka.
“Kalau nggak mau jawab, nanti biar aku intip!” gurau Zelda.
“Jangan aneh-aneh!” Biru langsung kelabakan. Takut iparnya beneran menghack nomornya atau Anna. Bisa mati dia digebukin mamanya.
“Tuh kan, mencurigakan! Kalau takut, berarti ada yang tidak beres!” Sagara makin curiga. Sebrengsek apapun kembarannya, tidak pernah sampai segila ini pulang cupangan.
“Kalau memang ada gadis yang kamu sukai, buruan nikahin! Nggak jijik apa kamu, ditemplokin curut-curut menggatal kayak mereka?!” Langit menasehati adiknya.
“Jangan-jangan sama yang itu!” Zelda kembali cengengesan meroasting iparnya. “Jiwa para buaya biasanya kan meronta, kalau lihat yang cantik polos dan nggak matre kayak …”
“Bungloooonnnn ….”
Mereka menoleh. Biru mendengus jengah mendapati sepupunya yang datang mengantar burung beo nya Nes pulang. Siapa lagi kalau bukan Juna. Pria paling menyebalkan yang keranjingan nemplok terus ke Anna.
“Biilluuuuuuu ….” seru Juweh. Si beo ceriwis itu jingkrak-jingkrak di bahu Juna, senang bukan main melihat Biru pulang.
“Biiluuuuuu …. arghhhhhhh …..” seru si beo dengan suara menjijikkan.
Zelda tertawa terpingkal. Nes sewot menyambar beonya, lalu menjepit bibirnya yang kurang ajar. Besar dikelilingi para bujang keranjingan, membuat Juweh juga selalu diajari mengumpat dan aneh-aneh.
“Awas kamu kalau nggak sopan lagi gitu! Aku suruh bibi bikin rica-rica!” ancam Nes menoyor kepala beonya.
“Billuuuuuuu …. tolong Juweh, Biluuuuuu …. arghhhhh!”
“Biiiiiii …. Nih Juweh potong saja, dimasak rica-rica!” teriak Kenes sambil bangun dari duduknya.
“Ness … paling cantik! Nggak galak!” Burung itu langsung melompat ke bahu Kenes. Mendusel mencium pipinya.
“Pacarnya Nes siapa, Juweh?” seru Juna yang nyolot merangkul Biru.
“Bangkai …. Nes pacarnya Bangkaii!” teriak si beo, lagi-lagi kena toyor Nes.
“Sembarangan!”
Hal paling Biru sukai saat di rumah, adalah suasana hangatnya. Seperti sekarang. Setiap kali kumpul selalu penuh gelak tawa.
“Ehhhh …. bibirmu monyong kenapa?” Biar sudah didorong-dorong, Juna tetap saja nempel menggelendot ke Biru.
“Kena cipok!” sahut Sagara.
Dan mendadak Juna kurang ajar menarik kerah Biru. Terkekeh tengil mendapati beberapa cupang di sana.
“Waahhhh …. kemajuan bunglon sudah berani pulang pamer cupang! Kena gebuk emakmu nggak tadi?” olok Juna.
“Diam!” Biru melotot kesal menoyor menjauh muka menyebalkan Juna.
“Bisikin sini! Yang mana ceweknya?!” Juna mendekatkan telinganya.
Biru tiba-tiba menyeringai. Menarik telinga Juna sampai sepupunya itu meringis misuh-misuh, lalu berbisik memberitahu jawabannya. Kesempatan untuk membuat tengil satu ini enyah dari Anna.
“Dicipok Anna semalam!” pamernya bangga, lalu beranjak dengan senyum puas meninggalkan Juna yang melotot. Biru menyambar Juweh dari bahu adiknya. Dibawa naik ke kamar.