Adalah hal biasa bagi pegawai di situ, melihat pemandangan menjijikkan para model suka asal nempel ke bosnya. Panggilan alay dan kelakuan manja, seolah punya hubungan istimewa yang ingin dipamerkan ke semua orang. Terlebih Della dan Anna yang telah bertahun-tahun jadi asisten kepercayaan Biru. Sudah muak banget disuguhi tontonan tak pantas, bahkan yang lebih tabu dari itu sekalipun. Della masih mending. Tanggung jawabnya hanya sebatas di tempat kerja saja.
Anna yang apes. Sering kali jadi tukang antar jemput bosnya, tanpa kenal waktu saat mabuk. Kadang malah mengurus Biru muntah. Tahukah apa yang paling nyesek dari hal itu? Ketika kadang melihat pria yang dicintainya dalam diam itu, bermesraan dengan gundiknya. Entah terbuat dari apa hati Anna, hingga bisa sekuat itu bertahan di samping Biru. Terlebih bosnya galak dan suka membentak. Gajinya tinggi, jelas! Karena jobnya double-double. Mungkin itu juga jadi alasan Anna bertahan.
Oleh Juna, sepupu Biru yang juga model dan selebgram ganteng, Anna pernah ditawari jadi asistennya. Tawaran menggiurkan dengan gaji lebih tinggi. Mana Juna orangnya humble, sopan, dan humor. Lucunya tawaran yang sempat membuat Biru meradang itu, malah didukung penuh oleh orang tua dan para sepupu bosnya. Mereka minta Anna pergi dari si boss toxic itu, demi kewarasan mentalnya. Sayang … logika Anna terlanjur error oleh rasa yang diam-diam dia genggam, meski di saat bersamaan hatinya terluka.
“Apaan sih?!” Kasar, Biru melepas tangan Becca yang melingkar di lehernya. Mengusap pipinya yang kena sosor. Matanya tertuju ke Anna yang menatap datar, lalu melengos buang muka.
“Dih, ayangku galak bener!” Becca malah terkekeh mengelus wajah Biru, tapi ditepis kesal.
Della dan Oyon menatap jijik perempuan berpakaian tank top putih ketat tanpa lengan itu. Orang normal pasti sudah malu banget asal nemplok dan sosor, tapi ditolak mentah-mentah. Berhubung si cewek urat malunya sudah putus, malah cengengesan dan menyusul duduk di sebelah Biru.
“Semalam katanya mau nungguin Andra? Ditinggal ke toilet sebentar, malah kamu ngilang. Ngeselin!” Merajuk, Becca menggelendot memeluk lengan Biru yang mendengus menghempas tangannya risih.
“Lepas!” bentak Biru, karena Becca mencengkram kemejanya. Dia menghentak kasar, sampai perempuan itu gelagapan. Biasanya Biru tidak pernah sesinis itu.
“Dih, ayang kayak cewek lagi PMS saja galaknya! Kenapa?” Wajah Becca mendekat. Hampir mencium Biru, sebelum kemudian mukanya didorong menjauh. Anna mendengus sinis melihat itu.
“Sialan kamu, Bec! Kamu yang kenapa?! Asal nyosor. Nggak sopan!” bentak Biru seketika was-was. Biarpun Anna diam saja, tapi pasti marah melihat beginian.
Becca melongo. Hanya beberapa saat, lalu tertawa geli. Sama sekali tidak menggubris tatapan muak ketiga orang di situ. Toh, mereka sudah biasa kok melihat dirinya dan Biru begini.
“Lha, kenapa apanya sih?! Biasanya kan juga gini! Kamu yang kenapa, mendadak alim kayak nggak pernah begituan sama ….”
“Beccaaaa ….” Suara bentakan Biru terdengar menggelegar keras. Kali ini Becca langsung terdiam. Kaget, mendapati Biru yang ternyata beneran marah. Wajah tampannya memerah kaku. Melotot menuding tepat di depan mukanya.
“Tutup mulutmu! Kamu pikir kamu siapa sekeranjingan ini padaku, ha?! Jangan macam-macam!” desis Biru, lalu beranjak berdiri dan melangkah pergi menuang kopi.
Oyon cekikikan puas melihat Becca kena mental. Coba kalau dari dulu bosnya tegas begini, para biawak korengan juga tidak keranjingan menggatal.
“Diiihhh …betah malu! Biawak korengan gitu lho!” sindir Oyon mengedipkan sebelah matanya ke Anna yang bungkam di samping Becca.
“Biawak korengan?! Kamu nyindir aku?!” Becca melotot marah ke Oyon yang pura-pura takut.
“Kak Del, Oyon takuuttt! Biawaknya galak!” Muka Oyon ngumpet di bahu Della yang menyeringai sinis membalas tatapan bengis Becca.
“Nggak nyindir, faktanya memang kamu semurahan itu kok! Bangga pamer bisa nempel ke Biru. Padahal semua orang di sini jijik, karena tahu kamu hanya salah satu mainan Biru!” lontar Della terang-terangan menghina langsung ke orangnya. Dulu saat masih jadi asisten Biru, dia memang sejudes itu ke para model gatal seperti Becca ini.
“Mulut sialan!” teriak Becca tidak terima. Menoleh, dia merengut ke Biru yang datang dengan secangkir kopi. “Biru, kamu dengar nggak sih mulut kurang ajar mereka?!” Dia mengadu, seolah merasa tersakiti oleh hinaan Oyon dan Della.
Tidak berniat menggubris. Biru malah duduk di sebelah Anna. Menjadikan gadis itu sebagai pembatas di tengah, lalu menyeruput kopinya. Oyon cekikikan meledek Becca yang makin mendelik.
“Aku mau kue. Ambilin!” pinta Biru menoleh ke Anna yang masih betah dengan bungkamnya. Sakit hati banget. Semalam Biru datang minta ditemani. Memeluknya sampai ketiduran. Tapi, setelahnya menghilang dan ternyata pergi mencari perempuan lain.
Anna meraih kotak kue dari Della. Mengambil lemon cake, diberikan ke bosnya yang ngopi sambil memeriksa pesan masuk di ponselnya.
“Kuenya!” Anna menyodorkan kue di tangannya.
“Nggak lihat ini?!” Dengan matanya, Biru menunjukkan kedua tangannya yang sibuk.
Mendengus kesal, Anna menatap jengkel. Mengingatkan Biru, ada Della dan Becca di situ. Tapi, pria sinting ini malah seperti sengaja.
“Minta saja disuapin ayangmu!” Anna memberikan kue itu ke Becca, lalu beranjak berdiri dan ngeloyor pergi dari situ. Della dan Oyon sampai kaget. Tidak menyangka Anna berani membentak Biru dan pergi begitu saja.
“Naaaaa …” teriak Biru menatap Anna yang menuruni tangga. “Haish, sialan!” Dia meletakkan kasar cangkir kopinya, sampai tumpah belepotan di atas meja.
Becca duduk mematung dengan tatapan menelisik. Bagaimana bisa Anna yang biasanya menunduk takut ke bosnya, sekurang ajar itu membentak Biru! Namun, dia kemudian malah tertawa geli mengejek Biru.
“Kesambet dimana asisten begomu itu, sampai berani lebih galak menggertakmu? Makanya jangan terlalu baik ke bawahan. Jadinya ngelunjak, tidak tahu diri! Pecat saja pegawai kurang ajar gitu. Nanti aku bantu cariin asisten baru yang lebih cekatan dan tahu sopan!” ucapnya enteng, lalu menggigit kue lemonnya.
Biru menoleh dengan bibir berkedut menahan emosi. Sementara Della dan Oyon hanya gedek disuguhi kelakuan bebal perempuan tidak tahu diri satu itu. Dia sendiri yang ngelunjak tidak tahu diri, bisa-bisanya malah ngoceh mencela Anna. Bahkan, minta Biru memecatnya. Luar biasa tidak tahu malunya.
“Kamu sepertinya lupa ngaca! Yang ngelunjak tidak tahu diri itu kamu. Yang tidak tahu sopan, itu juga kamu!” Becca sampai berhenti mengunyah, saking cengo mendengar ucapan penuh amarah Biru. Entah apa yang salah dengan Biru. Akhir-akhir ini jadi jual mahal dan pedas banget mulutnya kalau ngomong.
“Nglunjak, tapi kamu menikmatinya, kan?! Kalau aku sopan, mana bisa memuaskanmu, Ayang!” Becca mengulum senyum dengan tatapan nakalnya.
Braaakkk
“Bangsaattt!” geram Biru menendang meja di depannya. Dua cangkir kopi di atasnya jatuh ke lantai.
Oyon sampai gemetar ketakutan melihat bosnya mengamuk. Della menatap jengah Becca yang sepertinya baru ngeh, kalau Biru benar-benar murka.
“Kamu yang datang menawarkan diri. Bukan hanya jadi mainanku, tapi juga bekas banyak pria! Jangan bertingkah seolah aku sudah menidurimu, sialan! Aku tidak segila itu sampai membawa barang rongsokan ke tempat tidur!” Mulut Biru sekasar itu kalau sudah dibuat muak.
Tangan Becca mengepal gemetar. Tidak pernah semalu ini dihina di depan orang lain. Dia tidak paham salahnya apa. Semalam mereka masih ngobrol bareng di bar dengan beberapa teman lainnya. Biarpun mencolok Biru menghindar didekati, tapi mereka juga tidak cekcok. Sekarang tiba-tiba mengamuk nggak jelas. Membentak dan menghina sekasar itu di depan orang.
“Tuh kan, beneran biawak korengan! Kalau korengan tuh berobat. Bukannya malah menggatal nemplok sana, nemplok sini. Dih najis banget, sumpah!” Oyon tidak melewatkan kesempatan membalas perempuan sialan yang selalu sinis ke Anna.
“Bencong sialan!” teriak Becca melampiaskan emosinya ke Oyon.
“Kabur ahhh! Takut ketularan korengan!” Oyon ngeloyor pergi mencari Anna dengan tawa puasnya.
“Apa lihat-lihat!” bentak Becca ganti melotot ke Della.
“Tidak tahu malu juga ada batasnya. Aku heran, Biru kok nggak jijik ditemplokin perempuan murahan bekas banyak orang sepertimu! Seleramu rendahan, Biru!” ucap Della juga pergi dengan tatapan kecewa ke Biru yang menggeram emosi.
Kepalanya seperti mau pecah. Becca benar-benar sialan, tiba-tiba datang bikin gaduh di depan Anna dan Della. Kalau sampai Della mengadu ke mamanya, tamat sudah riwayatnya. Belum lagi memikirkan Anna yang ngambek.
“Pergi, sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku! Jangan pernah lagi muncul di hadapanku, Becca! Kalau tidak, aku akan hancurkan semua yang kamu miliki!” usir Biru menatap dengan mata menghujam tajam.
“Kamu kenapa sih, Biru?!” Becca masih mencoba merayu dengan suara lembut dan wajah sok imutnya.
“PERGI!” teriak Biru kembali menedang meja di depannya.
Becca terjengkit kaget. Pucat pasi menatap Biru yang melotot terengah dengan wajah membunuhnya. Yakin, orang-orang di bawah sana pasti juga mendengar amukannya.
“Ok, aku pergi dulu! Nanti kalau sudah adem, kita bicara lagi!” Becca menyambar tasnya, lalu melangkah pergi dengan kaki gemetar. Apalagi begitu mendengar Biru kembali mengumpat keras. Dia nyaris tersungkur saking takutnya.
“Bangsaaatttt!” teriak Biru melempar bantal sofa di sampingnya.
Baru mau berdiri mencari Anna, teleponnya berdering. Biru mengangkat telepon dari salah satu kliennya. Menghela nafas kasar menatap tempatnya yang berantakan, dia bergegas pergi setelah menyambar kunci mobilnya. Biru tidak mendapati Anna di bawah.
“Anna mana?” tanyanya ke pegawai yang menatapnya gugup.
“Keluar makan siang sama Kak Della dan Oyon, Pak.”
Mendecak kesal melirik jarum jam di tangannya, Biru tidak punya waktu menyusul gadis itu. Telponnya juga tidak diangkat.
“Bilang ke Anna, aku ada urusan penting di luar. Minta dia menghubungi Sam, untuk mengatur ulang jadwal pemotretan dengan Rara!” ucap Biru langsung pergi tergesa.
Dia pikir nanti setelah urusannya kelar, bisa membujuk Anna yang marah. Mana Biru kira, kalau perginya malah makin membuat Anna salah paham. Mengira dia keluar bersama Becca. Makanya, Anna pun membalas dengan menghilang dari apartemen malam itu. Tidak mengangkat telepon, sampai Biru blingsatan pontang-panting mencarinya. Emosi Biru seketika meledak, saat melihat postingan Juna yang pamer foto Anna di bar rooftop punya kakak iparnya.
“Secantik itu dia ….” tulis sepupu sialannya itu membuat heboh para fansnya, yang mengira Anna pacarnya Juna.
“Sialan kamu, Jun!” geram Biru menyusul ke sana.