Bab 9. Tamu Tak Terduga

1443 Kata
Meski terpaksa, Anna akhirnya pindah menempati apartemen yang Biru sewa untuknya. Hunian yang baginya kelewat mewah. Biarpun nyaman dan dekat dengan tempat kerja, tapi terasa ada yang mengganjal karena merasa berhutang ke bosnya. Satu hal lagi. Anna juga tidak sepenuhnya punya privasi. Biru punya akses masuk. Malah kadang dari studio dia mengekor ke situ. Coba kalau tidak takut kena amuk mamanya, pasti menginap di sana. Hubungan mereka makin lengket. Di studio Anna selalu jaga jarak. Satu-satunya yang tahu dan hampir gumoh melihat kelakuan bucin Biru, ya cuma Oyon saja. Apalagi lantai dua kan memang khusus ruang kerja dan studionya si boss. Otomatis selain yang berkepentingan, jarang ada pegawai naik ke sana. Satu minggu berlalu. Arhan mencicil 50 juta uang yang dicolongnya. Biru memberi batas waktu seminggu lagi, untuk melunasi sisanya. Bagaimana bajiingan itu tidak ketakutan, sedang Biru tak cuma menggertak. Gara-gara luka di lehernya, suara Arhan sekarang jadi tidak jelas. Belum lagi anak buah Rega tiap hari terus meneror. Lima puluh juta itu pun dapat dari orang tuanya yang di kampung. Anna sebenarnya juga kasihan. Tapi, dia juga tidak mau kehilangan hasil keringatnya. “Na …. memangnya kamu nggak cemburu doi kadang diuyel-uyel biawak korengan?” Mumpung si boss lagi nggak ada, kesempatan Oyon ngajak ngerumpi Anna. Biasanya mata si boss melotot terus. Takut banget ayangnya ditemploki Oyon. “Nggak! Mereka kan memang dari dulu gitu!” sahut Anna sambil mengecek persiapan pemotretan buat nanti. Dalam hati dia tertawa miris. Apa haknya cemburu? Sedang Biru bukan siapa-siapanya. Akan Anna taruh mana mukanya nanti, kalau Oyon tahu bagaimana asal mula hubungan terlarang mereka dimulai. “Dulu sama sekarang beda, Annaku sayang! Aku saja yang imut gini, sampai mual nonton para biawak korengan menggatal ke boss! Masa kamu nggak pengen jambak monyongnya yang sok manja itu! Jijik banget sumpah! Apalagi si Becca. Hueeekkk … najis banget sama tuh Dasim!” Oyon malah makin greget membahas soal Becca. “Kalau nurutin cemburu ya nggak lucu, Oy! Lingkar pekerjaan Pak Boss kan memang sama orang-orang kayak mereka!” tanggap Anna bijak. “Iya juga sih! Cuma kan tetap harus bikin batasan, karena sekarang sudah ada hati yang harus dijaga. Kayak Bang Vito tuh! Biarpun akrab sama klien dan model, tapi tetap punya batasan tegas. Kalau doimu nggak bisa nolak, ya kamu wajib demo! Jangan mau digituin!” Ucapan Oyon terasa menohok sesak dadaa Anna. Biru sudah tidak sekeranjingan dulu yang hampir tiap hari keluar sama modelnya, atau ke pesta yang berakhir mabuk minta Anna jemput. Sekarang justru sering tiba-tiba nongol di apartemen bawa makanan. Minta ditemani mengedit foto sambil disuapin makan. Seperti semalam, Anna sampai ketiduran di pangkuan Biru di sofa. Dia terbangun sudah pindah di tempat tidur. Sedang bosnya tidak terlihat batang hidungnya. Iya, Biru mulai menjauh dari dunia liarnya. Cuma para gundiknya selalu nguber. Biasa diladeni oleh Biru saat ngajak hangout. Manja dengan panggilan dan kelakuan tak pantasnya. Membuat mereka tak begitu saja melepas Biru yang sudah mencoba menghindar. Terlebih Becca dan Sabrina yang mencolok agresif banget ke Biru. Beberapa model pernah sengaja membuat skandal dengan Biru, untuk mendompleng popularitas mereka. Ujungnya malah dibuat tenggelam menghilang oleh Ibra. “Na ….” Anna dan Oyon menoleh. Senyum Anna seketika merekah lebar, mendapati Della datang ke studio mencarinya. “Kak Del! Kok nggak bilang kalau mau ke sini!” Anna menyambut orang yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri itu dengan pelukan hangat. “Kamu sendiri katanya mau main ke rumah, malah janji terus!” Della menabok Anna yang nyengir sungkan. “Maaf, lagi sibuk!” "Gimana kamu nggak sibuk, kalau kerjaanmu merangkap sopir dan baby sitter nya Si Boss?! Dia masih suka bentak-bentak, nggak?" tanya Della greget dengan mantan bosnya itu. "Nggak begitu kok," geleng Anna. Sekarang ganti Oyon yang ngenes hidupnya. “Ini serius, Oyon yang paling imut dianggap gapura nggak disapa?!” protes Oyon yang sudah pasang tangan lebar, tapi dianggurin Della. “Ehh iya, lupa ada Oyong!” Della tertawa ngakak melihat pria kemayu dengan kemeja pinknya itu langsung merengut galak. “Oyon, bukan Oyong! Tega, kayak black pink gini disamain sayur cengkring!” Della makin tergelak merangkul Oyon mengikuti Anna ke sofa. Setelah menuang kopi, Anna meletakkan di meja depan mantan asisten Biru itu. Pantas saja dulu dipercaya Freya mengawasi anak bujangnya, karena Della terlihat tegas. Kerjanya juga cekatan. “Nih, tiramisu coklat kesukaanmu dan lemon cake buat Biru!” Della membawa satu kotak besar kue dari kafe langganan Biru. “Terima kasih. Kak Del terbaik deh!” Anna membuka kotak kuenya, lalu membagi buat Oyon. “Kamu pindah kost, Na? Kemarin aku ketemu ibu kost, waktu mampir belanja di supermarket. Katanya sudah seminggu kamu pindah dari sana?” tanya Della meraih cangkir kopinya. Rupanya karena soal itu, dia kemudian ke studio mencari Anna. Sekedar memastikan keadaannya, dan tentu saja tanya dimana sekarang tinggal. Anna mengangguk, karena tidak mungkin bohong. “Iya, sudah pindah tinggal dekat sini.” “Kenapa? Ada masalah? Apa ada hubungannya dengan Arhan? Dia tidak macam-macam ke kamu kan, Na?” cecar Della saking khawatirnya. "Lho … kalau baru seminggu, berarti habis tuh curut datang bikin rusuh di sini dong, Na?! Jangan bilang yang waktu pipimu lebam itu beneran digampar mantanmu?!” celetuk Oyon malah mengungkit soal itu. “Arhan rusuh di sini? Kamu diapain sama tuh brandal sialan? Beneran dipukul sampai lebam?!” Della seketika melotot panik, tapi Anna malah terkekeh. “Jangan bikin khawatir! Aku sudah berapa kali bilang ke kamu, kalau ada masalah tuh ngomong! Apa susahnya telepon, Na?!” Menghela nafas panjang, mau tak mau Anna pun terpaksa menceritakan soal Arhan. Dari dia ketahuan selingkuh dan akhirnya mereka putus. Sampai pria itu datang rusuh dan nyolong uangnya. Semua Anna jelaskan. Tentu saja kecuali soal dia dicekoki obat perangsang dan berakhir tidur dengan Biru. No! Dia tidak segila itu membuka aibnya sendiri. Lagi pula Biru bisa habis digebukin mamanya, kalau tahu sudah menidurinya. Della melongo syok. Oyon apalagi, mulutnya tidak berhenti misuh-misuh. Biru yang ternyata nongol dan ikut berdiri menyimak, menatap geli ke Anna. Seolah meledek, karena menutupi soal kejadian di kamar atas malam itu. “Ya Ampun! Kok bisa kamu teledor sampai uangmu dicolong sama tuh setan sih, Na?! Mana sampai hampir diperkosa lagi!” Della hampir nangis menatap iba ke Anna. “Ya karena dia bego. Sudah tahu pacarnya preman bangsatt, malah diterusin!” sahut Biru mendekat, lalu duduk di sebelah Anna yang seketika tegang. Takut bosnya keceplosan ngomong atau malah tangannya pecicilan di depan Della. Alamat perang dunia. “Mau kue?” Anna menunjuk ke kotak di atas meja, karena mata Biru sudah melirik ke sisa tiramisu di tangannya. Kan pria sinting satu ini sekarang kebiasaan suka ngerusuhin makan, minta disuapin. “Nggak!” tolak Biru kesal, karena maunya yang dimakan Anna. Mengedikkan bahu, Anna malah sengaja melahap habis tiramisunya di depan Biru. Oyon yang tadi celometan pun mendadak kayak kena sariawan. Menahan senyum, karena bosnya tidak berani aleman di depan Della. “Terima kasih sudah menolong Anna, Biru! Kalau tidak ada kamu, tidak terbayang gimana nasib dia sekarang karena ulah biadab Arhan!” ucap Della masih menatap kasihan. “Bilangin dia, suruh pinteran sedikit dan jangan keras kepala, Kak Del! Suka ngeselin nih anak satu saking begonya!” omel Biru ke Anna yang merengut. “Anna bukan bego, tapi terlalu baik. Makanya aku takut dia ketemu orang yang nggak bener, terus disakiti! Ya kayak Arhan gitu itu!” bela Della mengoreksi pendapat Biru. “Ho oh banget, Kak Del! Anna tuh terlalu lembut dan ngalah. Aku kalau jadi dia, lihat ayangku ditemplokin biawak korengan, pasti langsung aku bejek-bejek dua-duanya! Tuman!” sindir Oyon seperti aji mumpung bosnya lagi mati kutu. “Ekhmmm …. “ Biru berdehem dengan mata mendelik ke Oyon yang beringsut duduk mendekat ke Della. Anna terkekeh. Ternyata Biru juga bisa merasa tersindir. “Terus kamu sekarang tinggal dimana, Na?” tanya Della seketika Anna meringis gugup. Bagaimana dia menjelaskan ke Della, kalau sekarang tinggal di apartemen mewah? Pasti nanti dicecar soal biaya sewa, lalu merembet kemana-mana. “Anna tinggal di apartemen punya temanku. Dekat sini kok. Kebetulan dia ditugaskan kantor pindah ke Shanghai. Rencana di sana dua tahun. Tadinya mau aku sewa, tapi orangnya nggak mau. Malah dia senang apartemenya ada yang rawat!” Anna langsung lega, karena dibantu jawab Biru. Cuma dia sendiri tidak yakin, apakah benar itu apartemen punya teman bosnya. Della manggut-manggut. Entah dia harus lega atau ketar-ketir, karena dia merasa kalau Anna sekarang makin terlihat dekat dengan Biru! Berusaha positif thinking. Setidaknya adalah fakta, kalau Biru yang sudah menyelamatkan Anna dari Arhan. Bahkan, nguber lagi uang yang ditipu. “Ayaangggg… Dih, ngeselin semalam aku ditinggal!" Mereka sontak menoleh. Mendadak saja Becca datang dengan panggilan sayangnya. Dia menunduk, memeluk dari belakang dan mencium pipi Biru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN