86

1513 Kata

Suasana di ruang makan keluarga Narendra terasa begitu teduh sekaligus khidmat. Lantai tegel abu-abu yang dingin di bawah telapak kaki, ditambah aroma wangi teh melati yang mengepul dari poci tanah liat, membawa ketenangan tersendiri. Di atas meja kayu jati yang kokoh, sudah tersaji piring-piring berisi botok, nasi hangat, dan aneka jajanan pasar yang tadi disiapkan Eyang Uti Hanum. Linggar sudah disingkirkan ke ruang tengah bersama sepiring camilan dan tayangan televisi agar tidak mengacaukan obrolan penting ini. Sementara Lintang duduk di baris paling ujung, merapatkan jemarinya di atas pangkuan sembari sesekali melirik Ayah dan Ibunnya yang duduk tegap di hadapan kedua sesepuh. Eyang Kakung Narendra menyesap teh hangatnya perlahan. Gerakannya yang tenang justru membuat atmosfer di rua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN