35

1660 Kata

Semburat cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela, menyinari ruangan VIP rumah sakit yang tenang dan bersih. Aroma karbol yang khas berbaur dengan kehangatan yang samar di dalam kamar itu. Lintang perlahan menggerakkan kelopak matanya yang terasa amat berat. Lenguhan lirih lolos dari bibirnya saat rasa pening yang hebat mendadak menyerang kepalanya. Ia mengerutkan dahi, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan langit-langit kamar yang serba putih. Begitu kesadarannya mulai terkumpul, Lintang menolehkan kepala ke samping. Di sana, di atas sofa bed keluarga, tampak adik laki-lakinya masih tertidur pulas berselimut tebal, agaknya kelelahan karena ikut berjaga semalaman. Namun, fokus Lintang segera teralih pada dua sosok yang duduk setia di sisi ranjangnya. Ayah dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN