"Untuk apa wanita itu datang ke sini lagi?" desis Dewa, suara baritonnya merendah namun sarat akan penekanan yang mencekam. Hadi yang berdiri di depan meja sempat menelan ludah pelan, merasakan penurunan suhu udara di ruangan itu akibat aura gelap yang mendadak menguar dari tubuh bosnya. "Beliau membawa nama relasi dari konsorsium Singapura yang kemarin sore baru saja tanda tangan kontrak dengan Pak Dewangga, Bos. Katanya ada urusan taktis terkait kelanjutan kontrak eksklusif dan tawaran kerja sama untuk pengisian aktor utama di proyek baru." Dewa mendengus kasar, sebuah tawa sinis penuh arogansi lolos dari belahan bibirnya. Guratan jengkel di dahinya semakin tegas. Pria blasteran itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewah, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan lans

