Di balik pintu kamar tamu yang tertutup rapat, Lintang langsung menyandarkan seluruh bobot tubuhnya. Kedua telapak tangannya bertumpu erat di atas d**a, mencoba meredam degup jantungnya yang sudah berpacu gila-gilaan seperti genderang perang. Napasnya naik turun tidak beraturan, memburu di antara keheningan kamar bernuansa pink-cream yang mewah itu. "Ya Allah... Jantung, tolong dikondisikan toh," bisik Lintang lirih, memejamkan matanya rapat-rapat sembari menengadahkan kepala ke langit-langit kamar. Sumpah demi apa pun, Lintang benar-benar belum siap mental berhadapan langsung dengan Sadewa malam ini. Bayangan penampilan Dewa di dapur tadi langsung berputar otomatis di otaknya, membuat pipi Lintang seketika memanas. Pria blasteran itu hanya mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana p

