66

1510 Kata

Sentuhan bibir Dewa yang semula menuntut perlahan berubah menjadi lumatan panas yang teramat dalam dan intens. Lintang bisa merasakan tubuhnya seketika lemas kehilangan tenaga, seolah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis. Detik berikutnya, lidah Dewa dengan sedikit kasar menerobos masuk, menjajah rongga mulut Lintang tanpa memberi ampun sedikit pun. Jilatan dan sesapan sarat akan gairah kerinduan yang membakar dari pria blasteran itu benar-benar mengunci kesadaran Lintang. Pukulan-pukulan kecil dari tangan mungil Lintang di d**a bidang Dewa sama sekali tidak berarti. Alih-alih menjauh, Dewa justru semakin merapatkan tubuh tegapnya, mengikis jarak hingga Lintang bisa merasakan detak jantung sang tunangan yang berdegup sama gilanya. “Sial... Mas Dewa apa lupa kalau kita belu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN