PROLOG
“Aku sudah di bawah.”
“Ok!” angguk Kirana buru-buru menyambar tas dan mematikan telepon suaminya.
Sebelum beranjak pergi, dia menoleh ke sahabatnya yang terkapar mabuk seperti orang pingsan. Mata Mia bengkak, setelah berjam-jam menangisi pacarnya yang kedapatan selingkuh. Kirana terpaksa menyeretnya ke hotel dan berbohong ke Jonas, kalau malam ini adiknya menginap di rumahnya.
“Sialan kamu, Frans!” umpatan marah masih terdengar lirih dari mulut Mia.
Meski tidak tega, Kirana terpaksa meninggalkannya di sini. Membawa Mia pulang dengan keadaan teler begini, jelas bukan keputusan yang tepat. Suami dan mertuanya pasti akan makin nyinyir, karena sejak awal mereka tidak suka dirinya bekerja di Fushion Grup. Perusahaan milik Jonas.
Mematikan lampu kamar hingga menyisakan remang, Kirana pun melangkah pergi. Reno paling tidak suka menunggu. Apalagi jam segini dia masih kelayapan di hotel. Tergesa dia membuka pintu. Namun, sedetik kemudian Kirana dibuat terperangah tiba-tiba diseruduk dari luar.
Bruuukk
Dia jatuh terjengkang menghantam lantai. Terkapar dengan kepala berdenyut di depan pintu yang terbuka lebar. Matanya mendelik. Tersengal panik mendapati sosok pria menindihnya. Aroma parfum bercampur keringat merebak dari ceruk leher yang terengah basah di atasnya. Deru nafas memburu menghembuskan hawa panas sarat hasrat. Jantung Kirana berdetak menggila. Mulutnya terbungkam oleh bibir yang baru saja menghantamnya ini.
Belum sempat otaknya merespon hal gila yang tengah menimpanya, pria itu mulai melumat bibirnya rakus. Tubuh kekarnya bergerak gelisah. Dengan kurang ajar menekan dan menggesekkan pinggulnya. Kirana gemetar merasakan bongkahan keras menggeliat berdenyut di atas pahanya.
“Ekkhhmmm ….”
Dia mulai berusaha meronta. Sayang, kalah oleh tubuh berat yang makin menggila menindihnya. Ciuman panas membungkam bibirnya. Gemuruh jantung pria itu terasa mengguncang d**a Kirana yang terhimpit sesak.
“Haaah … haaah! Sialan! Panas …” gumam pria itu di antara sengal nafasnya yang terdengar berat tak beraturan.
Ciumannya lepas. Wajah yang masih belum terlihat jelas oleh Kirana itu menyusup di lehernya dan menggeram frustasi. Sepertinya sedang mati-matian mencoba menguasai kewarasannya lagi.
“Tolooong!” erangnya serak ngos-ngosan, menyengat telinga Kirana yang masih meronta.
Bugh
Sekuat tenaga Kirana mendorong pria itu hingga terguling jatuh terduduk ke samping. Meringis, dia bangun dengan kepala kliyengan dan jantung seperti mau meledak. Matanya menatap nanar pria yang sedang kelimpungan mendesis menyandar pintu di hadapannya itu. Kirana mengernyit, karena merasa tak asing dengan wajah tampannya yang mendongak seperti benar-benar tersiksa oleh nafsu.
“Hhhh .…” Pria itu kembali mendesah. Tangannya menarik-narik kemejanya yang berantakan. Dadanya turun naik. Mata sayunya menatap resah ke Kirana yang mendelik garang.
“Maaf, aku tidak ….”
Plakk
Tangan Kirana melayang. Menampar telak pria itu, sebelum sempat menyelesaikan permintaan maafnya. Saking keras tamparannya, wajah tampan di depannya itu terhentak ke samping. Tubuh kekarnya ambruk kehilangan keseimbangan.
“Bangsaatt!” Emosi Kirana meledak. Meski sudah bisa menebak pria ini seperti sedang di bawah pengaruh obat, tapi bukan berarti dia akan diam dilecehkan begini! Apalagi melihat tonjolan besar di balik celana si b******k sialan itu, makin Kirana meradang.
“Arghh ….” Susah payah pria itu kembali duduk. Meringis menyandarkan punggungnya, lalu menyeka rembesan darah di ujung bibirnya yang bonyok.
Tangan Kirana terkepal. Gemetar ingin menjotos pria itu. Namun, dering telepon membuyarkan amarahnya.
“Sialan!” Dia kelabakan panik. Baru ingat, suaminya sedang menunggu di bawah.
“Haish! Aku beneran tidak sengaja!” Pria itu mendengus kesal, mengira masih dimaki.
“Keluar!” bentak Kirana menyambar tangan pria b******k itu, lalu menyeretnya keluar. Mia sedang terkapar mabuk di dalam. Bisa-bisa sahabatnya jadi korban penjahat ini.
Kalah tenaga, Kirana sampai terhuyung dan jatuh tersungkur ke luar kamar. Sementara pria itu meringis ambruk di lantai. Terengah gerah dan was-was, Kirana pun sempoyongan bangun. Kali ini dia menarik kerah pria itu. Sekuat tenaga menyeretnya keluar.
“Heehhh! Sialan!” Pria itu mengumpat mencoba menepis lepas cengkraman di kerahnya. Apa daya, dia juga kehilangan tenaga.
Bruukk
Tubuh tinggi besar itu ambruk terkapar di lantai. Kirana langsung menutup rapat pintu dari luar. Dia berdiri tersengal menatap pria yang meringis di bawahnya. Tidak habis pikir. Hotel bintang lima milik konglomerat mentereng Ibra Abraham, bagaimana bisa kecolongan begini!
Dia bisa saja protes dan menuntut ke pihak hotel, tapi justru sama saja bunuh diri itu namanya. Suami dan mertuanya pasti akan murka, lalu masalah ini akan jadi bom petaka yang merembet kemana-mana.
Suami?! Kirana melotot. Tanpa pikir panjang, dia berbalik dan setengah berlari ke arah lift. Tangannya masih gemetar saat menekan tombol. Kakinya lemas, sampai harus berpegangan dinding lift yang bergerak turun.
“b******k sialan!” geramnya serak sembari merapikan pakaiannya. Pahanya berkedut. Merinding, ingat bagaimana ditindih dan digesek kejantanan yang menggeliat keras pria asing sialan itu.
“Haish!” Kirana nyaris berteriak. Bibirnya bahkan sedikit bengkak kena lumat kasar barusan.
Kali pertama dia disentuh oleh pria selain suaminya. Biarpun itu ketidaksengajaan, tetap saja dia merasa bersalah ke Reno. Bibirnya dilumat. Tubuhnya ditindih dan dijamah oleh pria yang bahkan dia tidak tahu siapa orangnya.
“Lupakan! Tidak pernah terjadi apa-apa, Kirana!” gumamnya sebelum melangkah keluar dari lift yang berhenti di lobi hotel.
Kakinya melangkah cepat. Jantungnya berdebar kencang. Entah karena masih syok dengan kejadian menjijikkan tadi, atau takut kena marah suaminya yang sudah menunggu lama di luar?! Berusaha bersikap tenang supaya Reno tidak curiga, Kirana menggigit bibir mendapati mobil hitam di sana.
Kaca samping perlahan terbuka. Muka merengut dan tatapan tajam suaminya cukup membuat Kirana paham, sekesal apa Reno sekarang.
“Sorry! Tadi waktu mau aku tinggal, Mia muntah lagi.” Kirana duduk di samping suaminya yang mendengus jengah.
Dia bukan tipe orang yang pandai berbohong. Lihat saja tangannya yang gemetar saat memasang sabuk pengaman. Kirana menghindari tatapan Reno yang masih meliriknya, sebelum kemudian melajukan mobil meninggalkan depan lobi Abraham Hotel.
“Ren, Mia sahabatku. Tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian, dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja.” Kirana mencoba memecah suasana kaku di sana.
“Kamu asisten atau babunya Jonas?!” sahut Reno ketus bukan main.
Kirana menghela nafas lelah. Mau seperti apapun menjelaskan, tidak akan pernah didengar dan dipahami oleh suaminya yang memang tidak menyukai mereka.
“Lembur di kantor sering tidak ingat waktu, lalu sekarang juga harus mengurus adiknya. Dibayar berapa kamu sampai segitunya? Kamu sudah menikah, Kirana! Ingat batasanmu! Apa pantas selarut ini, kamu masih keluyuran di hotel mengurus orang mabuk?!” Reno mencengkram roda kemudi. Rahangnya mengeras menahan amarah.
“Jonas tidak tahu apa-apa, jadi jangan selalu menyalahkan dia! Lembur juga bagian dari pekerjaanku. Kamu sendiri juga sesibuk itu dan aku tidak pernah protes!” Rasa bersalah Kirana sirna. Jengkel, Reno selalu terang-terangan bersikap sinis begini ke bosnya.
“Serius, kamu bandingan perusahaan sebesar Golden Purewell Grup dengan bisnis nggak jelas si Jonas, Kirana?!” Pria itu terkekeh mengejek. “Kalau aku tidak mati-matian kerja, kamu pikir bisa bersaing supaya bisa merangkak naik seperti sekarang?!”
Menoleh, bibir Kirana berkedut. Saking tidak sukanya, Reno selalu saja menganggap remeh Jonas yang sudah hampir lima tahun menjadi bosnya itu. Bisnis nggak jelas, katanya! Reno bahkan tidak tahu, perusahaan yang dia bangga-banggakan itu beberapa kali mengemis kerjasama ke orang tua Jonas.
Fusion tempatnya bekerja hanya anak perusahaan, tapi punya skala bisnis yang tidak bisa diremehkan begini. Wajar kalau dia selalu sibuk sampai sering lembur.
Kirana menelan rasa kesalnya. Jonas sengaja menutupi identitasnya, jadi dia tidak berhak mengumbar rahasia bosnya, bahkan ke suaminya sekalipun.
“Kita sama-sama punya tanggung jawab di luar rumah. Aku menyukai pekerjaanku, juga tidak mempermasalahkan kesibukanmu. Jadi jangan selalu mengajak ribut soal kantor! Lebih baik aku capek seharian kerja, daripada di rumah tertekan diuber soal anak!”
“Mama tidak akan marah, kalau kamu menurut untuk diam di rumah, Kirana! Bagaimana kamu bisa hamil, sedang fokusmu hanya mengejar gaji yang tidak seberapa itu!” bentak Reno mendadak tersulut, setelah mendengar ucapan pedas istrinya soal mamanya.
“Bukan salahku!” Tanpa sadar Kirana balas berteriak. Dia sudah terlalu muak terus disalahkan seperti ini. Seolah mandul, hingga jadi sasaran mulut jahat semua orang.
Ciiittt
Jantung Kirana nyaris mencelat keluar. Dengan muka seram suaminya banting setir menepi, lalu mendadak menginjak rem. Tubuh Kirana terhempas ke depan, lalu mental menghantam sandaran bangku di belakangnya.
“Maksudmu tiga tahun kamu tidak juga hamil, itu karena salahku?! Aku bahkan sudah rela malu menuruti keinginanmu bolak-balik ke dokter menjalani pemeriksaan tak berguna itu, Kirana! Terus kamu mau aku gimana lagi, ha?!” Reno lepas kendali. Mendelik berang ke istrinya yang juga sama emosinya.
Keduanya terdiam. Sama-sama tidak terima disalahkan, untuk anak yang tak juga kunjung hadir di pernikahan mereka. Beginilah kehidupan rumah tangga yang hampir tiga tahun Kirana jalani. Tidak mudah, tapi sejauh ini dia tetap berusaha bertahan. Meski suaminya sendiri tidak pernah berdiri untuknya, setiap kali dia dihujani cibiran mulut tajam mertuanya.
Suara dering ponsel mengalihkan pertengkaran mereka. Tatapan nanar Reno memudar, begitu mengangkat telepon yang entah dari siapa itu.
“Aku ke situ sekarang!” sahutnya, lalu menoleh ke Kirana yang melengos meredam sakit hatinya.
“Turun! Aku ada urusan penting yang belum selesai dengan klienku. Besok pagi orangnya terbang ke Singapura, jadi aku harus menemuinya sekarang. Tunggu di dalam supermarket dan minta adikmu menjemput ke sini!” Reno mengedikkan dagu ke supermarket di sana.
Kirana menoleh. Yakin, dia tidak salah dengar. Reno bahkan begitu enteng menyuruhnya turun di pinggir jalan, tanpa peduli sekarang hampir tengah malam. Mengangguk dengan seringai sinis, Kirana melepas sabuk pengaman, lalu turun dan membanting pintu kasar. Mobil hitam itu benar-benar melaju pergi begitu saja.
“Sialan kamu, Reno!”
Tangan Kirana mengepal gemetar. Matanya memburam panas. Demi melindungi harga diri suami sialannya itu, dia rela mengalah menelan sendiri sakit hatinya selama ini. Tapi, lihatlah! Pria yang dia bela mati-matian, malah memperlakukannya sebangsat ini.