Ada hari berangin di sudut kota Paris. Celina Rahardjo baru saja keluar dari bistro di dekat sekolahnya. Biasanya ia menghabiskan waktu makan siang bersama Julien di situ, namun kali ini ia sendirian lantaran pria itu harus melakukan dua operasi. Langit sehabis hujan mulai cerah. Celina menengadah dan tersenyum membayangkan langit biru Marseille dengan siluet keunguan yang biasa dilihatnya dari jendela apartemen. Kerinduan menyeruak di benak gadis itu hingga suara pekikan mengejutkannya. “Mademoiselle, awas!” jerit seorang wanita diikuti suara decit ban mobil. Celina menoleh dan melihat pemuda berlari menerjang tubuhnya. Tubuhnya mendadak terasa ringan, seperti melayang, dan segalanya tampak gelap. Celina mencoba membuka matanya dengan lemah. Pandangannya mengecil dan nanar. Seorang wa

