“Julien!” Mendengar suara Aurelie, Julien segera mengangkat kepala dan berdiri dari kursi. Aurelie berlari-lari menghampirinya dengan raut wajah cemas. “Bagaimana keadaannya?” tanya Aurelie dengan panik dan napas terengah. Julien memegang kedua bahu Aurelie dan berusaha menenangkannya. “Jangan khawatir. Dokter sedang bersamanya sekarang ini.” “Apa yang terjadi?” Kepanikan Aurelie masih belum mereda. Matanya yang bersinar ketakutan menatap lurus-lurus ke mata Julien. “Duduk dulu,” kata Julien sambil menuntun Aurelie ke kursi. “Arata tertimpa balok kayu.” Napas Aurelie langsung tercekat dan Julien cepat-cepat menambahkan, “Tapi tidak apa-apa. Jangan panik dulu. Tadi kata Dokter tangannya retak, tapi tidak parah. Luka di kepalanya juga bisa dijahit tanpa masalah. Selain itu dia hanya men

